(Sumber : iNews)

Bentang Suara Keagamaan dan Ruang Sakral: Ritual Sufi di Jawa

Riset Budaya

Artikel berjudul “Religious Soundscape, Sacred Space, and Affective Body: The Experience of Sufi Whirling Ritual Practitioners in Jawa” merupakan karya Yusti Dwi Nurwendah, Najib Kailani, Wening Udasmoro. Tulisan ini terbit di Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam tahun 2024. Penelitian ini berusaha mengeksplorasi pengalaman menumbuhkan rasa dan kepekaan religius melalui tari Sufi. Di Indonesia, tari Sufi selain berfungsi sebagai pertunjukan namun juga ritual keagamaan. Fokus penelitian tersebut adalah kelompok Tari Sufi Mafia Sholawat, yakni komunitas tari Sufi yang dominan di Jawa. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, sejarah singkat Mafia Sholawat dan Komunitas Tari Sufi Maria Sholawat. Ketiga, suara religius dalam pertunjukan Tari Sufi. Keempat, ruang sakral dan komoditas. 

  

Pendahuluan

  

Berdasarkan tradisi Sufi, para praktisi menggunakan berbagai metode dan media meditasi untuk merenungkan Tuhan. Salah satu yang paling populer adalah ritual zikir, dengan musik dan tari sebagai sarana untuk terhubung dengan Tuhan, di Turki dikenal sebagai sema. Kata “sema” berasal dari bahasa Arab “samy” yang berarti mendengarkan. Gerakan utama ritual ini terletak pada gerakan berputar spiral berlawanan arah jarum jam untuk mencapai ekstase spiritual. Keadaan spiritual yang meningkat ini dapat dicapai melalui fokus yang mendalam dalam zikir berulang, pengendalian napas, dan latihan keseimbangan tubuh. Pada kondisi ini pikiran terhenti sementara, memberi jalan bagi hilangnya kesadaran. Beberapa Sufi menganggap pengalaman spiritual ini sebagai bagian dari perjalanan batin meditasi dan sebagai obat bagi tubuh dan jiwa. Bagi yang lain, keadaan ekstase ini menawarkan pelepasan sementara dari masalah kehidupan sehari-hari mereka. 

  

Di Indonesia, sema dikenal sebagai \'tari Sufi\' dan telah menjadi tarian keagamaan yang populer. Tari Sufi pertama kali dipraktikkan di Indonesia pada tahun 2003 oleh tarekat Naqshbandi-Haqqani, Rabbani Cinere. Disusul oleh Café Rumi yang berdiri pada tahun 2008 dan membentuk kelompok hadrah serta kelompok penari Sufi yang tampil di berbagai acara di Jakarta. Rabbani Cinere dan Café Rumi turut menumbuhkan tari Sufi di Indonesia, yang kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain di berbagai lokasi. Pertunjukan tari Sufi segera menjadi hal yang lumrah di tempat-tempat umum seperti hotel dan pusat perbelanjaan, serta disiarkan di televisi. Pada tahun 2005, tari Sufi dimasukkan dalam video klip lagu Laskar Cinta milik grup band Dewa 19 yang semakin menarik perhatian publik.

  

Sejarah Singkat Mafia Sholawat dan Komunitas Tari Sufi Maria Sholawat

  

Komunitas Tari Sufi Mafia Sholawat terbentuk dari majelis- majelis salawat  yang didirikan oleh KH Muhammad Ali Shodiqin atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Ali Gondrong. Beliau lahir pada tanggal 22 September 1973 di Grobogan, Jawa Tengah dan merupakan pengasuh Pondok Pesantren Roudlatun Niÿmah di Semarang, Jawa Tengah. Gus Ali adalah seorang pendakwah muda yang memiliki rambut gondrong panjang dan baju hitam yang membuatnya berbeda dengan tokoh-tokoh Sufi lainnya. Gayanya yang unik membuat banyak anak muda yang datang dalam jumlah ribuan untuk menghadiri majelis-majelis umum yang diselenggarakannya di seluruh Jawa. Kelompoknya menamakan diri mereka Mafia Shalawat, \'mafia\' merupakan akronim dari ungkapan Jawa \'hati dan pikiran menyatu dalam salawat\'. 

  

Mafia Shalawat pertama kali didirikan di Ponorogo, Jawa Timur, pada tahu 2013 sebagai wadah pemuda untuk menumbuhkan kerukunan dan kedamaian sosial. Penggunaan kata \'mafia\' disengaja karena Gus Ali Gondrong ingin menjauhkan kaum muda dari jalanan dan kejahatan. Forumnya menyambut kaum muda yang terpinggirkan dan rentan serta menawarkan mereka ruang untuk berhubungan kembali dengan jati diri spiritual, alih-alih menghakimi mereka. 

  

Kelompok ini terlibat dalam kegiatan dakwah dan acara media yang mencakup unsur musik dan tari, sehingga menciptakan ruang yang aman bagi para pendengarnya untuk bersantai, melepas lelah, melantunkan lantunan, dan bergerak mengikuti irama secara serempak. Unsur yang paling menonjol dari acara semacam itu adalah pertunjukan kelompok rebana (rebana) Semut Ireng dan tari Sufi yang berputar. Semut Ireng memadukan bunyi alat musik modern, seperti drum, bas, gitar, dan organ elektrik, dengan rebana tradisional yang dimainkan dalam pertemuan Sufi (hadrah). Semut Ireng juga memadukan salawat dengan lagu-lagu pop kontemporer dan bahkan musik rock yang keras.


Baca Juga : Kontestasi Ideologi Salafisme dan Moderatisme dalam Gerakan Hijrah Indonesia

  

Suara Religius dalam Pertunjukan Tari Sufi

  

Sebagian besar ritual Islam terkait dengan pengalaman suara. Misalnya, dalam bentuk pembacaan Al-Qur\'an, panggilan untuk sholat (adzan), dan khotbah Jumat bergantung pada transmisi dan penerimaan suara. Semua pengalaman ini memungkinkan umat Islam yang menjalankan ibadah merasakan kehadiran Tuhan. Pada tradisi Sufi, suara dan kata-kata diwujudkan dalam pertunjukan puisi yang ekspresif dan digunakan untuk membangkitkan kehadiran Sang Ilahi. 

  

Suara musik dan nyanyian adalah upaya menumbuhkan kemampuan untuk berkonsentrasi melalui zikir, musik, dan nyanyian dalam tari Sufi yang dihadirkan sebagai media yang fundamental. Musik pengiring yang paling umum adalah musik religi, tetapi juga irama pop dan rock. Nyanyian yang digunakan sangat beragam, baik syair-syair Arab sepert Sukara (Mabuk Cinta) yang dibawakan oleh penyanyi Mesir terkenal Umm Kulthum (1898–1975), atau Hayy al-Hadi (Salam Sang Pembimbing), dan lain sebagainya. Pertunjukan musik yang digelar di atas panggung ini diperkuat melalui sound system yang dahsyat sehingga bergema ke seluruh sudut ruangan acara.

  

Para praktisi tari Sufi percaya bahwa musik dan nyanyian merupakan bagian penting dari aktivitas ini, yang memungkinkan mereka untuk membuka diri dan terhubung dengan Sang Ilahi. Mereka menyadari bahwa ada perbedaan antara menari dengan iringan suara dan tanpa iringan suara. Suara musik dan nyanyian memfokuskan pikiran mereka, menggerakkan hati mereka, dan mendorong tubuh mereka untuk bergerak, semuanya dalam sinkronisasi sempurna. Efek gabungan ini menghasilkan pengalaman seperti dalam kondisi hipnosis, tubuh mereka seolah bergerak atas kemauannya sendiri. Ketika musik berhenti, gerakan penari juga berhenti tiba-tiba, seolah-olah talinya telah dipotong. Seorang penari Sufi merasa bahwa musik adalah media pendukung yang menyediakan hubungan spiritual yang penting.

  

Selain alunan alat musik dan lagu, tari Sufi yang dibawakan dalam acara Mafia Sholawat ini juga diiringi oleh Gus Ali sebagai pemimpinnya. Suaranya juga menuntun pikiran dan menyentuh hati para pendengarnya. Saat para penari Sufi mulai bergerak, Gus Ali berdiri dan membacakan syair dengan suara yang tenang dan mantap. Gus Ali memiliki pengaruh yang nyata pada pendengarnya. Beberapa bahkan menganggapnya sebagai sosok karismatik yang menyalurkan berkah Tuhan. Hal ini memungkinkan suara Gus Ali bertindak sebagai mediator antara hati mereka dan Tuhan, membangkitkan emosi yang mendalam pada pendengarnya yang belum pernah mereka akses dan alami sebelumnya.

  

Bagi para penari Sufi, mendengarkan suara Gus Ali dan alunan musik yang mengiringi gerakan tari mereka menciptakan ruang bagi pengalaman spiritual yang dimediasi melalui sensasi suara. Pengalaman tersentuh oleh suara saat berputar terwujud dalam pendengaran mereka yang kabur dan peningkatan fokus mental, yang memungkinkan mereka memasuki \'keadaan transenden\'. Pada kasus Mafia Sholawat, kekuatan suara karismatik Gus Ali membantu para pendengar untuk meninggalkan alam duniawi dan datang ke hadirat Ilahi.

  

Ruang Sakral dan Komoditas

   

Meskipun mengakui posisi fundamental bunyi dalam tari Sufi, para praktisi percaya bahwa kualitas ruang juga berpengaruh dalam membentuk rasa dan kepekaan religius. Setiap ruang berbeda dari yang lain menurut kehidupan yang menempatinya. Makna ruang yang berbeda bukan hanya contoh bagaimana manusia memberi makna padanya. Misalnya, tentang kesakralan tanah atau monumen yang melambangkan peristiwa tertentu dalam sejarah suatu masyarakat, atau dalam konteks lokal, penyucian sungai dan pohon, selain tempat ibadah resmi. Sering kali, tempat-tempat ini merupakan bagian dari memori budaya suatu komunitas. Ruang berarti mencakup energi yang berkembang dari berbagai konfigurasi subjek yang berwujud melalui tindakan di dalamnya dan hubungan dengan lingkungannya. Oleh karena itu, praktik-praktik jasmaniah yang melaluinya perasaan-perasaan keagamaan dihasilkan tidak hanya secara afektif memfasilitasi perwujudan ruang yang dialami sebagai tempat suci, tetapi, pada gilirannya, mendorong para pengunjung untuk memanfaatkan potensi spiritual mereka dan mewujudkannya. Oleh karena itu, para penari Sufi berpikir bahwa ruang suci lebih mampu menghubungkan mereka dengan Tuhan.

  

Kesimpulan

  

Salah satu tujuan mendasar dari tari Sufi adalah menumbuhkan rasa dan kepekaan religius mereka serta membuka hati mereka untuk terhubung dengan Tuhan dari dalam. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan media tertentu untuk membangun hubungan spiritual. Suara adalah salah satu media yang membentuk kepekaan religius dalam tari Sufi. Namun, peran ruang juga sama pentingnya. Tidak semua ruang memiliki kapasitas untuk menyalurkan energi spiritual positif, karena atmosfernya bergantung pada hubungan, pertemuan, dan aktivitas di dalamnya. Oleh karena itu, ruang menjadi sangat penting dalam membentuk serta menumbuhkan rasa dan kepekaan religius yang berkelanjutan dengan hubungan pengkondisian saleh.