(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Mencermati Luanching ADP: Tantangan Kolaborasi Keilmuan Dosen PMII (Bagian Dua)

Opini

Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) memang belum seumur jagung. Dibandingkan dengan asosiasi dosen lainnya, seperti Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam Indonesia (ADPISI), maka ADP termasuk asosiasi dosen yang paling muda. Terbentuk seusainya Conferensi Pemikiran Dosen PMII yang diselenggarakan di UIN SATU Tulungagung (5-7 April 2021), maka di antara amanahnya adalah mendirikan satu asosiasi bagi dosen PMII untuk mempertegas peranannya di tengah pembangunan bangsa.

  

Sesungguhnya, dosen PMII banyak yang usianya di antara 40 tahunan. Meskipun tentu banyak juga yang berada di atas 60 tahunan. Mengingat kebanyakan usianya berada di dalam usia emas, maka sesungguhnya sedang terjadi puncak pemikiran dan aktivitas. Di era Covid-19 ini maka banyak Webinar atau Zoominar yang menghadirkan nara sumber dari dosen PMII dalam bidang yang beragam, mulai dari Islamic studies, sampai ilmu sosial humaniora serta sains dan teknologi. Kebanyakan bergelar doktor atau profesor dalam ilmu pengetahuan yang variative

  

Namun demikian juga tidak bisa dipungkiri, bahwa kebanyakan dosen PMII juga berada dan menjadi dosen pada perguruan tinggi NU yang baru saja mentas dan menjadi universitas. Selama ini kiprah mereka berada di Lembaga Pendidikan Islam (baca IAI atau STAI), dan kemudian dengan kebijakan Mendukbud Mohammad Nuh, maka banyak yang kemudian memperoleh perluasan mandat menjadi Universitas. Oleh karena itu, yang semula mengambil program Strata I di dalam Islamic Studies lalu melanjutkan studi pada program studi sosial dan humaniora. Dan kemudian menjadi doktor dalam ilmu sosial dan humaniora. Dan pada merekalah kemudian pengembangan Integrasi Ilmu memperoleh momentum yang sangat luas. 

  

Oleh karena itu, agar dosen PMII bisa memiliki distingsi dan ekselensi, maka tentu para dosen harus bergerak dinamis di dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman yang integrative ini. Dan sesungguhnya yang sangat membanggakan adalah banyak dosen yang selain menguasai disiplin keilmuan umum juga memiliki talenta yang baik di dalam penguasaan ilmu keislaman. Mereka menguasai teks-teks Islam yang baik, sehingga bisa menjadi modal intelektual yang sangat baik sebagai piranti pengembangan integrasi ilmu.

  

Sesuai dengan KKNI, bahwa para dosen yang bergelar doctor dan jabatan professor harus mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis pada pendekatan multidispliner dan interdisipliner. Ini artinya, bahwa para dosen akan sangat dimungkinkan untuk berkolaborasi secara optimal.  Sungguh para dosen PMII harus menunjukkan talentanya untuk bergerak dan berkembang dalam area ini. Maka kehadiran dosen PMII, yang ahli ilmu keislaman akan bisa berkolaborasi dengan ahli ilmu sosial, humaniora, serta sain dan teknologi. Melalui program saling menyapa antara agama dan sains ini, maka tidak akan terjadi “kesombongan” akademis dari masing-masing personal dosen PMII. Bukankah untuk menulis di jurnal terindeks nasional maupun internasional akan sangat baik jika dilakukan secara kolaboratif?. 

  

Kolaborasi antara ahli ilmu keislaman dengan sains dan teknologi mutlak diperlukan. Misalnya ahli ilmu keislaman dengan fisika, kimia, biologi, kedokteran, teknologi dan sebagainya. Saat sekarang kajian integrative ini sangat penting. Buku yang dihasilkan oleh Balitbangdiklat Kemenag dengan tema Al Qur’an dan Sains (Penciptaan Bumi, dan Penciptaan Tata Surya) rasanya menjadi contoh riil karya yang merupakan integrasi antara Sains dan agama yang bisa menjadi contoh di masa depan. Dosen PMII harus mampu untuk menyelenggarakan riset-riset kolaboratif untuk mendukung terhadap program integrasi llmu.

  

Para dosen yang tergabung di dalam ADP, harus menunjukkan jati dirinya sebagai dosen yang memiliki kemampuan mandiri dan juga kolaborasi di dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Para dosen harus menjadi penggerak dinamika ilmu yang terus bergerak sesuai dengan arah integrative. Makanya, tuntutan yang paling riil dari para dosen ini adalah bagaimana mereka dapat berperan secara signifikan untuk menggerakkan dinamika kelembagaan, akademik, riset dan pengabdian masyarakat. Di Pundak mereka tidak hanya inovasi pembelajaran, akan tetapi juga relasi kelembagaan baik nasional dan internasional. 

  

Di era Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar, yang menuntut kolaborasi kelembagaan institusi pendidikan dengan institusi sosial, budaya, ekonomi dan sains, maka para dosen ADP harus berkontribusi positif. Tidak hanya mengejar jabatan structural, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sumbangannya untuk karya akademik, atau riset akademik kolaboratif dan juga inovasi-inovasi pengabdian masyarakat. Dosen ADP harus menunjukkan jati dirinya memiliki distingsi dan ekselensi yang bisa dibanggakan bagi instusi pendidikan di mana yang bersangkutan melakukan pengabdian. Para dosen juga tidak hanya mampu menulis di jurnal terindeks Scopus, tetapi juga menulis buku yang outsanding. Kita membayangkan bahwa dosen PMII akan mampu menulis seperti Imam Al Ghazali, Imam Syafi’i atau karya di bidang sains dan teknologi yang bisa menjadi abadi hingga waktu yang panjang. 

  

Jika bisa seperti ini, maka kehadiran ADP tidak hanya hangat-hangat tahi ayam, tetapi sungguh memiliki peran siginifikan bagi perubahan di dalam dinamika persaingan dalam kemitraan antar insitusi pendidikan sekarang dan di masa yang akan datang.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.