Mengembalikan Kesakralan Alam
OpiniDi dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Implementasi Kebijakan Ekoteologi Kementerian Agama Republik Indonesia, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, ternyata ada gagasan yang menarik, 29/12/2025. Hadir para penasehat Ahli Menag, Para Pejabat dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dan para staf. Juga hadir Staf Khusus, Staf Ahli, dan Tenaga Ahli Kemenag.
Diawali dengan presentasi oleh Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Prof. Moh. Ali Ramdhani, lalu dilanjutkan dengan presentasi para Dirjen, yaitu: Dirjen Pendidikan Islam, Dirjen Bimas Katolik, Dirjen Bimas Buddha, Dirjen Bimas Islam dan Dirjen Bimas Kristen dan kemudian tanggapan Tim Penasehat Ahli Menteri Agama RI. Yang memberikan respon adalah Prof. Romo Magnis Suseno, Prof. Fasli Jalal, Prof. Burhanuddin Muhtadi, Dr. Buddy Munawar Rahman dan saya.
Ada pesan Prof. Nasaruddin Umar, Menag, yang sangat menarik yang saya kira dapat menjadi pedoman bagi semua pejabat dan ASN Kemenag, khususnya para guru dan dosen terkait dengan kurikulum ekoteologi. Ada tiga hal yang disampaikannya di dalam acara ini, yaitu:
Pertama, ekologi yang digagas oleh Kemenag ini sedang menuai zamannya. Benar-benar hadir pada saat yang tepat. Pada saat kita merumuskan konsep ekoteologi, maka terjadi bencana yang luar biasa di Indonesia, khususnya di Sumatera. Sebuah kejadian yang menyadarkan kita semua bahwa manusia ternyata harus bersahabat dengan alam. Kerusakan hutan di Sumatera, khususnya di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh tentu bisa dikaitkan dengan kerusakan lingkungan yang luar biasa. Sungguh kita harus prihatin dengan banyaknya korban banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan lebih dari 1000 orang. Ratusan yang hilang dan luka-luka. Kayu-kayu gelondongan yang menghantam bangunan rumah dan juga rumah-rumah ibadah yang menggambarkan bahwa telah terjadi deforestasi yang sangat besar.
Telah setahun kita menggagas mengenai ekoteologi, dari yang semula konsep dan sekarang sudah dilakukan upaya untuk menyusun pedoman tentang bagaimana ekoteologi tersebut dapat diimplementasikan di dalam kehidupan riil di masyarakat, dan salah satu yang terpenting adalah merumuskan bagaimana kurikulum ekotelogi yang integratif tersebut dapat diimplementasikan di lembaga pendidikan, seperti di madrasah, di pesantren dan lembaga pendidikan tinggi Islam. Bagi kita yang terpenting adalah berupaya agar konsep ini dapat dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan. Kita memang tidak dapat melihat hasilnya secara instan, sebab pendidikan adalah proyek jangka panjang, dan kita sekarang berkewajiban untuk menyiapkan yang terbaik bagi generasi yang akan mengemban kelanjutan bangsa Indonesia di masa yang akan datang.
Kedua, ekoteologi sangat diperlukan di tengah masyarakat yang menganggap bahwa manusia adalah yang memiliki apa yang ada di alam ini. Manusia adalah khalifah yang dapat memperlakukan alam semau-maunya. Padahal sesungguhnya sebagai khalifah manusia justru harus memakmurkan alam dan tidak hanya memakmurkan dirinya sendiri. Manusia menganggap dirinya subyek dan alam atau lingkungan adalah obyek. Akibat sekularisasi, maka manusia menganggap dirinya sebagai pemilik alam. Manusia bisa memperlakukan apa saja atas alam. Antroposentrisme yang berlebihan menyebabkan manusia berpikir menjadi pemilik alam, sehingga alam dapat dieksploitasi sedemikian rupa. Hubungan manusia dan alam yang tidak seimbang menyebabkan timbulnya keserakahan manusia atas alam. Padahal antara manusia dan alam merupakan partner, mitra sejajar yang saling membutuhkan. Rasionalisasi dan sekularisasi bergandengan tangan untuk memperlakukan alam sebagai obyek yang dapat diperlakukan semena-mena.
Manusia harus kembali menempatkan teosentrisme atau serba Tuhan dan antoposentrisme atau serba manusia dalam keseimbangan. Di dalam relasi Tuhan, Alam dan Manusia terkandung maksud agar alam dan manusia saling membutuhkan Tuhan. Alam dan manusia sebagai sesama makhluk Tuhan yang berdzikir kepada-Nya.
Ekoteologi sekarang sedang menjadi isu internasional. Bahkan Paus Leo XIV di Vatikan menyatakan bahwa hanya Bahasa Agama yang dapat menyelamatkan bumi. Hanya agama yang dapat menjadi instrument untuk memelihara alam. Yang akan menyelamatkan alam bukan Bahasa Politik atau bukan Bahasa Teknologi akan tetapi Bahasa Agama. Sudah diputuskan tahun depan akan terdapat pertemuan antar tokoh agama dunia untuk membahas tentang “Religion and Climate Change”, bisa di Masjid Istiqlal atau di Vatikan untuk menindaklanjuti gagasan mengenai ekoteologi. Jadi yang kita rumuskan selama setahun ini akan menjadi contoh bagi dunia tentang peran Kementerian Agama dalam keterlibatannya di dunia internasional tentang pentingnya menjaga dan melestarikan alam.
Ketiga, kita harus kembali mensakralkan alam. Mensakralkan alam tidak berarti kita berpikir bahwa alam itu sebagai sesuatu yang harus disembah atau dipertuhankan, akan tetapi menjadikan alam sebagai sesama ciptaan Allah yang harus saling menghormati. Semua agama mengajarkan tentang pentingnya manusia menghormati alam. Jika kita memperlakukan alam dengan baik, maka alam juga akan berlaku baik kepada kita. Karena kita menggunduli hutan, maka akibatnya air meluap ke wilayah pemukiman manusia dan tempat hunian manusia menjadi rusak. Coba jika kita tidak merusak alam, maka tentu alam tidak akan merusak lingkungan yang dekat dengan kita.
Para orang tua kita di masa lalu memiliki kearifan local untuk menjaga alam. Ada pepatah dan berbagai ujaran agar kita menjaga lingkungan, misalnya ungkapan jangan melakukan tindakan seperti itu karena di situ ada penunggunya. Tanpa bertanya siapa yang menjadi penunggunya, maka kita patuhi nasehat orang tua.
Sekarang tentu kita tidak bisa melakukan hal tersebut karena perbedaan generasi. Genzi semakin rasional, sehingga yang tidak sesuai dengan pikirannya akan ditolaknya. Makanya kita harus melakukannya secara terstruktur di dalam kurikulum yang disupport oleh berbagai data tentang perlunya relasi yang baik antara manusia dengan alam. Apa yang kita sajikan kepada siswa atau mahasiswa berbasis pada kurikulum ekoteologi harus didukung dengan data-data lapangan agar mereka bisa memahami dan menghayati betapa pentingnya menjaga alam.
Selama setahun kita telah mendiskusikan tema yang menarik ini, dan tahun depan kita harus maju selangkah untuk memikirkan bagaimana implementasinya. Terima kasih atas kerja sama yang sangat baik, dan semua ini merupakan modal social yang diperlukan untuk meraih kemajuan dan keberhasilan.
Wallahu a’lam bi al shawab

