Jaringan Global dan Dinamika Keagamaan: Membaca Hikayat Raja Pasai
Riset SosialArtikel berjudul “Global Networks and Religious Dynamics: Reading the Hikayat Raja Pasai of Pre-Colonial Malay-Archipelago” merupakan karya Jajat Burhanudin. Tulisan ini terbit di Studia Islamika tahun 2025. Tulisan diawali dengan ilustrasi naratif dari Hikayat Raja Pasai yang menampilkan kedatangan Syekh Isma‘il dari Mekkah ke Kerajaan Samudra Pasai. Kisah ini tidak hanya berfungsi sebagai pengantar historis, tetapi juga sebagai pintu masuk analitis untuk memahami keterkaitan antara Islamisasi dan jaringan global pada abad ke-14. Penulis menegaskan bahwa hikayat tersebut merekam hubungan religius sekaligus ekonomi antara elit Pasai dengan pusat-pusat Islam global. Artinya, Islamisasi tidak diposisikan sebagai proses lokal semata, melainkan sebagai bagian dari dinamika global yang lebih luas.
Tulisan tersebut menempatkan Hikayat Raja Pasai sebagai sumber sejarah yang memiliki nilai penting meskipun sarat dengan unsur mitologis. Jajat Burhanuddin mengikuti pandangan bahwa mitos dalam teks tidak serta-merta menghilangkan validitas historisnya, melainkan mencerminkan cara masyarakat Melayu memahami perubahan sosial dan religius. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan hikayat sebagai rekonstruksi ingatan kolektif tentang keterlibatan Pasai dalam jaringan dunia Islam. Teks dipahami sebagai medium yang menjembatani sejarah lokal dan arus global. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pembentukan kerajaan. Kedua, seorang syekh dari Mekah. Ketiga, Islam dan jaringan global. Keempat, penguasa dan Islam. Kelima, makmur dan religious.
Pembentukan Kerajaan
Pada sub bab ini, penulis menjelaskan pembentukan Kerajaan Samudra Pasai melalui narasi tentang Merah Silu, tokoh sentral dalam Hikayat Raja Pasai. Kisah perjalanan Merah Silu dari Semerlanga hingga ke wilayah pesisir Pesangan ditafsirkan sebagai representasi pencarian pusat kekuasaan baru yang strategis secara ekonomi. Penulis menekankan pentingnya sungai Pesangan sebagai jalur perdagangan utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan jaringan maritim. Fondasi politik Pasai sejak awal sudah terkait erat dengan dinamika perdagangan.
Artikel tersebut juga menempatkan kemunculan Pasai dalam konteks kemunduran Sriwijaya dan perubahan pola perdagangan regional. Runtuhnya dominasi Sriwijaya membuka ruang bagi pusat-pusat baru di pesisir Sumatra utara untuk berkembang. Penulis menunjukkan bahwa Pasai memanfaatkan kondisi geopolitik tersebut dengan baik, terutama melalui hubungan longgar dengan Majapahit dan meningkatnya peran pedagang Muslim. Pada konteks ini, Pasai muncul sebagai simpul baru dalam jaringan perdagangan internasional.
Lebih jauh, legitimasi Merah Silu sebagai penguasa digambarkan sangat bergantung pada kekayaan dan dukungan elit lokal. Hikayat menegaskan bahwa kemakmuran ekonomi menjadi alasan utama pengangkatannya sebagai raja. Penulis membaca bagian ini sebagai indikasi bahwa kekuasaan politik di Pasai sejak awal dibangun di atas basis ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa Islamisasi dan pembentukan negara berjalan seiring dengan kepentingan material dan stabilitas politik.
Seorang Syekh dari Mekah
Kedatangan Syekh Isma‘il dari Mekkah menjadi momen penting dalam narasi Islamisasi Pasai. Artikel ini menafsirkan figur Syekh Isma‘il bukan hanya sebagai pendakwah, tetapi juga sebagai simbol jaringan Islam global yang menghubungkan Timur Tengah, India, dan Asia Tenggara. Penulis menekankan bahwa perjalanan Syekh Isma‘il merepresentasikan jalur perdagangan dan intelektual yang telah mapan. Islam hadir melalui jalur yang telah dikenal masyarakat Pasai.
Baca Juga : Kualitas Hidup Mahasiswa dan Kecemasan Akademik
Penulis juga memberi perhatian khusus pada singgahan Syekh Isma‘il di Ma‘bari, sebuah kerajaan Muslim di India Selatan. Bagian ini ditafsirkan sebagai pengakuan atas peran penting wilayah India dalam penyebaran Islam ke Nusantara. Kehadiran Fakir dari Ma‘bari sebagai pendamping Syekh Isma‘il menegaskan bahwa Islamisasi merupakan hasil kolaborasi ulama Arab dan India. Hal ini memperkaya pemahaman tentang pluralitas sumber Islam di kawasan Melayu.
Narasi tentang kedatangan Syekh Isma‘il juga memperlihatkan bahwa Islamisasi Pasai tidak terjadi dalam ruang hampa. Masyarakat dan elit Pasai telah memiliki pengetahuan awal tentang Islam melalui interaksi dengan pedagang Muslim. Oleh karena itu, proses konversi digambarkan berlangsung relatif damai dan diterima dengan antusias. Artikel tersebut berhasil menunjukkan bahwa Islam diterima sebagai bagian dari jaringan sosial dan ekonomi yang sudah dikenal.
Islam dalam Jaringan Global
Argumen utama pada sub bab ini menegaskan bahwa jaringan perdagangan global menjadi motor utama Islamisasi. Penulis mengaitkan konsep perdagangan jarak jauh dengan perpindahan ide, budaya, dan praktik keagamaan. Pada konteks Samudra Pasai, perdagangan bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga wahana penyebaran Islam. Islamisasi dipahami sebagai konsekuensi logis dari keterlibatan dalam jaringan Samudra Hindia.
Artikel tersebut juga membahas perdebatan historiografis mengenai asal-usul Islam di Nusantara. Penulis mengakui kontribusi dunia Arab, tetapi menekankan peran penting kawasan India seperti Gujarat dan Bengal sebagai perantara. Hikayat Raja Pasai diposisikan sebagai teks yang merekam keterhubungan lintas wilayah tersebut. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih kompleks tentang proses Islamisasi.
Selain itu, konversi Merah Silu menjadi Malik al-Salih ditafsirkan sebagai peristiwa simbolik yang menandai integrasi penuh Pasai ke dalam dunia Islam. Meskipun digambarkan melalui mimpi bertemu Nabi Muhammad, penulis menekankan peran Fakir dari Ma‘bari dalam pengajaran Islam secara praktis. Hal ini menunjukkan bahwa unsur simbolik dan praktik keagamaan berjalan beriringan. Islamisasi dipahami sebagai proses spiritual sekaligus sosial.
Penguasa dan Islam
Pada sub-bab ini, penulis menyoroti hubungan erat antara penguasa dan agama dalam proses Islamisasi. Penulis menunjukkan bahwa konversi raja memiliki dampak besar terhadap masyarakat, karena legitimasi religius memperkuat otoritas politik. Pada konteks Pasai, Islam tidak menggantikan struktur kekuasaan lama, melainkan diintegrasikan ke dalam konsep kerajaan. Islam berkembang melalui idiom kekuasaan lokal.
Artikel terebut juga membandingkan kasus Pasai dengan kerajaan Melayu lain seperti Malaka. Pada kedua kasus, peran raja sangat menentukan dalam penerimaan Islam oleh masyarakat. Penulis menekankan bahwa Islamisasi berlangsung dari atas ke bawah, namun tetap didukung oleh kesiapan sosial masyarakat. Hal ini menunjukkan keseimbangan antara otoritas politik dan dinamika sosial. Lebih lanjut, penulis menegaskan bahwa faktor ekonomi turut memperkuat pilihan penguasa untuk memeluk Islam. Keterlibatan dalam jaringan perdagangan Muslim membawa keuntungan material yang signifikan. Islam tidak hanya dipahami sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga sebagai sumber legitimasi dan kemakmuran. Sub-bab ini memperlihatkan bagaimana agama dan politik saling memperkuat.
Makmur dan Religius
Pada sub bab ini menggambarkan Samudra Pasai sebagai kerajaan yang makmur sekaligus religius. Penulis mengaitkan kemakmuran ekonomi dengan meningkatnya peran Pasai dalam perdagangan internasional. Temuan emas, produksi rempah, dan penggunaan mata uang emas menunjukkan kemajuan ekonomi yang signifikan. Semua ini memperkuat posisi Pasai sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan.
Selain kemakmuran material, artikel tersebut menekankan kehidupan religius yang berkembang pesat. Kehadiran ulama, qadi, dan pusat pembelajaran Islam menjadikan Pasai sebagai pusat intelektual Islam di kawasan Melayu. Penulis mengutip catatan Ibn Battuta untuk menunjukkan kuatnya tradisi keilmuan dan kesalehan penguasa. Hal ini memperlihatkan bahwa Islam tidak hanya dipraktikkan secara formal, tetapi juga diinternalisasi dalam kehidupan sosial. Melalui gabungan kemakmuran dan religiusitas, Pasai digambarkan sebagai contoh kota Islam pra-kolonial. Artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan Pasai terletak pada kemampuannya mengintegrasikan perdagangan, kekuasaan, dan agama. Model ini kemudian memengaruhi kerajaan-kerajaan Islam lain di Nusantara. Sub-bab ini memperkuat argumen utama tentang keterkaitan erat antara jaringan global dan dinamika lokal.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, artikel tersebut berhasil menunjukkan bahwa Hikayat Raja Pasai merupakan sumber penting untuk memahami Islamisasi Nusantara dalam konteks global. Penulis secara konsisten menempatkan Islamisasi sebagai proses yang dipengaruhi oleh jaringan perdagangan internasional dan dinamika politik lokal. Pendekatan ini memperkaya kajian sejarah Islam di Asia Tenggara dengan perspektif global. Artikel ini memberikan kontribusi signifikan bagi studi Islam Nusantara.

