Menyongsong Masa Depan: Generasi Muda Harus Berprestasi
OpiniMasa depan adalah milik generasi muda. Siapa yang siap menyongsongnya maka dialah yang akan berjaya. Oleh karena itu persiapkan diri untuk menjemput masa depan dengan optimis di manapun berada dan latar belakang kehidupan seperti apa. Hal yang penting generasi muda harus berpendidikan, harus well educated, agar generasi muda bisa menyesuaikan setiap perubahan dengan cepat.
Demikianlah inti dari ceramah saya pada Studium General yang diselenggarakan oleh Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya, Senin/21/08/2023. Acara tersebut diselenggarakan di Aula lantai 3 FDK dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru, semester 1, tahun akademik 2023/2024. Hadir di dalam acara ini Wakil Dekan I pada FDK, Dr. Anshori, Ketua Prodi PMI Cand. Dr. Yusrianingsih, dan Sekretaris Prodi PMI, Nihlatul Falasifah, ST, MT.
Saya menguraikan tentang tantangan dan solusi atas problem yang dihadapi oleh generasi muda, khususnya mahasiswa PMI. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: pertama, generasi muda memiliki tantangan yang tidak sederhana di era disruptif dan media sosial yang berkembang dewasa ini. Era disruptif ditandai dengan terjadinya perubahan yang sangat cepat, bahkan terkadang tidak terduga, perubahan yang bercorak kompleks, misalnya terjadinya Covid-19 yang sedemikian mengharu biru seluruh jagad manusia, dan berakibat terhadap perubahan dalam nyaris seluruh kehidupan manusia. Kehidupan beragama yang selama ini tidak mudah mengalami perubahan ternyata harus tertatih-tatih dalam menghadapi perubahan cepat tersebut. Di bidang pendidikan juga terjadi perubahan yang cepat, semua mendadak IT, manajemen dan program pembelajaran juga tiba-tiba harus berubah. Harus serba daring atau dalam jaringan. Tidak ada satu lembaga pendidikan yang tidak menerapkan pembelajaran berbasis daring.
Tantangan ini berkait kelindan dengan semakin menurunnya kemampuan masyarakat untuk mengakses ekonomi, dan akibatnya adalah terjadinya peningkatan jumlah orang miskin di Indonesia, kira-kira sebanyak 26 juta, juga semakin sulitnya mengakses pekerjaan dan rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengakses kesehatan. Sarana dan prasarana ekonomi menjadi macet karena semua akses untuk pengembangan ekonomi tertutup. Era inilah yang menjadi tantangan generasi muda, termasuk para mahasiswa Indonesia.
Kedua, tantangan pola kehidupan generasi milenial. Para mahasiswa ini adalah generasi milenial yang tergolong generasi Z, karena lahir tahun 2000-an. Rata-rata usianya adalah 18 tahun. Generasi milenial tersebut ditandai dengan kemampuan teknologi informasi yang tinggi. Nyaris semuanya mengusai media social. Semisal Twitter, Instagram, Facebook, Skype, High5, youtube, tiktok, dan sebagainya. Tidak hanya sebagai penikmat tetapi juga sekaligus pengunggah aktif. Bahkan ada di antaranya yang memiliki kemampuan sebagai pengunggah konten di media sosial, dengan labeling golden buzzer.
Di antara ciri-ciri generasi mudah milenial tersebut jika belajar bukan belajar pada pengetahuan tetapi dari pengalaman. Pembelajaran harus didesain untuk mengajarkan pengalaman. Pengetahuan sudah didapatkannya dari media sosial, dari interaksinya dengan teknologi informasi. Di dalam seksi quiz, ternyata anak-anak muda ini bisa menyebutkan 10 jenis media sosial, lambang dan juga kontennya. Hal ini merupakan gambaran bahwa mereka akrab dengan media sosial dan teknologi informasi. Kemudian, juga cenderung untuk melakukan eksplorasi. Jika ingin jalan-jalan di dunia maya, maka mereka bisa jalan-jalan di Gedung Putih di Amerika Serikat, bisa melakukan perjalanan di Tanah Suci, bahkan juga bisa jalan-jalan di Buthan sebuah negeri di lereng Himalaya, yang warganya paling bahagia di dunia. Lalu mereka juga belajar pada hal-hal yang simple, mereka tidak menyukai sesuai yang rumit. Konten yang panjang dan rumit tidak disukainya. Kecenderungannya pada konten yang simple, pendek dan mudah diserap atau dicerna oleh akal pikirannya. Beginilah cara mereka belajar, sehingga program pembelajaran harus disesuaikan dengan kecenderungan dan mindset para generasi muda.
Ketiga, yang hari ini berada di ruang aula FDK ini marilah kita bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, yang telah memperjalankan kita semua untuk memasuki ruang pendidikan tinggi. Kita akan menjadi bagian dari enam persen orang Indonesia yang bisa menikmati pendidikan tinggi. Kita ini menjadi orang istimewa karena menjadi sedikit orang Indonesia yang bisa belajar pada perguruan tinggi. Dari 271 juta penduduk Indonesia itu hanya enam persen. Oleh karena itu marilah kita nikmati belajar di PT tersebut. Tugas anda semua adalah belajar. Saatnya anda semua berfungsi, berperan dan bertanggungjawab untuk diri sendiri. Hal yang penting yaitu tugas, peran dan tanggungjawab belajar. Tidak usah bertanya mau menjadi apa ke depan. Tugas anda ke depan adalah untuk menjadi agen pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Tugas yang mulia untuk menciptakan peluang masyarakat Indonesia untuk lebih religious, lebih sejahtera dan berakhir pada kebahagiaan.
Hal tersebut bisa dilakukan dengan mempelajari berbagai hal yang terkait dengan bagaimana mengembangkan kapasitas diri, mengembangkan komunitas dan mengembangkan masyarakat. Kita harus berkapasitas agar bisa berfungsi untuk orang lain. Di sinilah makna kita harus belajar dengan sungguh-sungguh. Jangan hanya cukup dengan menjadi lulusan Sekolah Menengah Atas, sebab era sekarang adalah era sarjana. Oleh karena itu anda harus menjadi sarjana yang memiliki empat kapasitas atau four C, yaitu competence, critical tinking and problem solving, communication and collaboration. Four C ini yang harus dimiliki oleh siapapun. Apapun program studinya jika tidak memiliki four C ini maka akan ditinggalkan zamannya.
Bersiaplah menyambut masa depan dengan Usaha, Doa dan Tawakkal. Usaha dilakukan dengan belajar sungguh-sungguh, dengan lulus tepat waktu, lalu berdoa agar semua cita dan keinginan dikabulkan oleh Allah, dan jika kita sukses maka kita pasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Tidak ada usaha yang sia-sia. Tidak ada doa yang mubadzir. Padukan usaha dan doa, insyaallah kita akan mendapatkan hasil yang terbaik.
Wallahu a’lam bi al shawab.

