(Sumber : Tribun Jakarta )

Musik Qalbu: Religiositas Karya Ebit G.Ade

Opini

Hal yang bisa menjadi pengingat terhadap dunia spiritualitas, bukan hanya dakwah bil lisan atau bilhal, dan juga bukan hanya nasehat para ulama, akan tetapi bisa juga datang dari lagu yang diciptakan dengan semangat keagamaan atau spiritualitas. Bahkan juga banyak syair lagu yang bertemakan surga atau neraka bahkan siksa kubur tetapi tidak bisa memasuki ruang religiositas di dalam diri manusia. 

  

Ceramah agama yang disampaikan oleh da’i terkadang bukan menghasilkan pemahaman agama dan pengamalan agama yang bernuansa spiritualitas, akan tetapi justru menimbulkan rasa amarah. Dakwah yang seharusnya memberikan rasa damai dan ketenangan batin malah menjadi ajakan untuk membenci dan menghina umat dalam satu agama atau agama lain. Dakwah bukan menjadi sarana untuk saling menyayangi sesama umat manusia tetapi justru menghasilkan rasa antipati, alih-alih rasa empati atau simpati. 

  

Lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Bang Haji Rhoma Irama, misalnya yang bertema agama terasa lebih sejuk dan menghibur. Ada banyak lagu Bang Haji Rhoma Irama yang dapat dihayati maknanya dari dunia spiritualitas.

  

 Akhir-akhir ini saya sering mendengarkan lagu Ebiet G. Ade yang pernah popular di tahun 1980-an, yang berjudul “Masih Ada Waktu.\"  Seingat saya, waktu itu sedang menyelesaikan pendidikan sarjana pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Saya ngekos di Rumah Ibu Sumaidah yang karyawan pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel di Gang Masjid No 21 A Wonocolo Surabaya. Lagu ini sering saya putar sore hari menemani saya membaca bukunya Leopold Von Weiss, “The Road to Mecca.\" Lagu ini dinyanyikan ulang puterinya, Shanna  Shannon, tidak syair seluruh lagunya tetapi diambil saripatinya saja. 

  

Saya menerima kiriman lagu ini dari WhatsApp Group (WAG) Ronggolawe Tuban, saya dengarkan dan saya resapi dengan hati dan perasaan, dan kemudian saya kirimkan ke WAG Ngaji Bahagia Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Lalu ada respon dari Pak Suryanto salah seorang anggota Ngaji Bahagia dengan postingan sebagai berikut: “yang dilantunkan adalah lagu Ebit G. Ade yang sangat menyentuh qolbu. Hampir tidak ada beda cara ayahnya membawakan.   Hanya  beda dicengkoknya ya Prof. Saya pernah melewati kampung halaman Ebit G Ade di Desa Wonodadi Banjarnegara Jateng waktu menghadiri undangan nikah putrinya teman kerja di SABCON Hydro Electrical Power Project Consortium of Indonesia Sweden & England sekitar tahun 1985-1989 (PLTA Mrica-Bendungan PanglimaSoedirman Banjarnegara, Jateng). 

  

Syair lagu itu adalah: 

“Mumpung masih ada. 

Kesempatan  buat kita.  

Mengumpulkan  bekal perjalanan abadi. 

Kita pasti ingat tragedi yang memilukan.  


Baca Juga : Islam, Kepemimpinan dan Pemilu 2024

Kenapa  harus mereka yang terpilih menghadap.  

Tentu  ada hikmah yang harus kita petik. 

Atas  nama jiwa mari heningkan cipta. 

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu. 

Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung. 

Hanya  atas kasihnya. 

Hanya atas kehendaknya.  

Kita  masih bertemu matahari. 

Kepada rumput ilalang pada bintang gemintang. 

Kita dapat mencoba meninjam catatannya. 

Sampai kapan kah gerangan.   

Waktu  yang masih tersisa. 

Semuanya menggeleng.  

Semuanya  terdiam.  

Semuanya  menjawab tak mengerti. 


Baca Juga : Sebuah Kajian dalam Perspektif Tafsir: Ayat-Ayat Gelisah

Yang terbaik hanyalah segeralah bersujud.  

Mumpung   kita masih diberi waktu. 

Yang  terbaik hanyalah segeralah bersujud. 

Mumpung  kita masih diberi waktu”. 

  

Lagu ini sungguh menjadi favorit . Saya bisa mendengarkan lagu ini berkali-kali dalam satu waktu. Bahkan pernah saya dengarkan empat kali. Saya dengarkan dan saya resapi benar kata demi kata. Saya camkan di dalam hati bait demi bait. Dan bahkan saya meneteskan air mata. Saya merasakan betapa Tuhan masih memberi waktu kepada saya untuk melakukan pertaubatan yang serius. Bukankah manusia itu tempat kekhilafan dan lupa. Kecuali Nabi Muhammad SAW yang ma’shum  atau terlepas dari dosa, maka sebagai manusia dipastikan pernah mengalami kekhilafan. 

  

Syair lagu ini benar-benar menguras kesadaran agar kita  untuk terus beribadah mempersiapkan diri menghadap-Nya. Kita sungguh  tidak tahu kapan ajal akan datang. Jika waktu itu sudah datang, maka tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Takdir akan kematian. Kita tidak tahu masih berapa lama waktu tersisa. Makanya, kita harus menyiapkan diri dengan bersujud, segera bersujud kepada yang membikin hidup, Allah SWT.

  

Sungguh bagi orang yang menghayati akan makna religiositas, lagu ini menjadi semacam pengingat bagi kita semua agar terus mempersiapkan diri menghadapi kematian yang waktunya bisa datang kapan saja. Dan kita juga tidak tahu masih berapa lama waktu yang tersedia untuk kita jadikan persiapan menghadap-Nya. Semua menggeleng, semua terdiam, semua menyatakan tidak tahu. Karena kehidupan dan kematian itu benar-benar urusan Allah SWT, yang manusia tidak diberikan kapasitas untuk mengetahuinya. 

  

Oleh karena itu, marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kenikmatan masih diberi waktu untuk melakukan pertaubatan dan terus beribadah, sehingga seandainya kita dipanggil oleh Allah SWT kita sudah cukup memiliki bekal yang berupa perbuatan baik yang kita lakukan. Kita akan menuju kampung abadi, yang memerlukan kesiapan spiritualitas. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.