(Sumber : www.nursyamcentre.com)

NU dalam Gerakan Moralitas dan Lingkungan

Opini

Mungkin ada di antara kita yang menanyakan tentang program moralitas yang ada di dalam artikel ini. Selama ini NU sudah berkecimpung di dalam pembinaan moralitas, sebagai konsekuensi NU sebagai jam’iyah keagamaan dan kemasyarakatan. Saya nyatakan memang kerja besar NU adalah dalam membimbing umat sebagai bagian tidak terpisahkan dari prinsip waratsat al anbiya’. NU merupakan organisasi yang menghimpun para kiai atau ulama yang selama ini konsern dalam bidang pendidikan terutama dalam kaitannya dengan pendidikan moral atau akhlak al karimah.

  

Pertama, Gerakan moralitas kebangsaan. Gerakan moralitas ini memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu sebuah gerakan yang memberikan peluang untuk mentransformasikan nilai-nilai moral dalam kehidupan manusia. Moralitas kejujuran, moralitas keadilan, moralitas equalitas, moralitas toleransi, moralitas kerukunan, moralitas ekonomi dan juga moralitas politik. Saya masih teringat pesan Kiai Hasyim Muzadi kala melihat carut sengkarut perpolitikan di Indonesia, lalu beliau menyatakan bahwa “di Indonesia itu politik tanpa etika."

  

Gerakan moral ini sangat penting untuk dikedepankan untuk mengembalikan jati diri NU sesuai dengan Khittah 1926. Sebagai jam’iyah diniyah dan ijtima’iyah, maka NU harus memperkuat programnya agar NU terus update dengan berbagai problem kebangsaan dewasa ini, yang dikhawatirkan akan salah orientasi dan salah arah. NU mesti tampil dalam wajah depan dan belakang bahwa NU adalah penyangga moralitas bangsa dan masyarakat Indonesia yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

  

Program gerakan moralitas ini dapat diterjemahkan, misalnya program etika birokrasi. Dewasa ini sudah sangat banyak orang NU yang menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan, dan menjadi penting agar para pejabat tersebut untuk menjadi agen moralitas birokrasi, yang ditandai dengan tidak melakukan kebohongan publik, melakukan tindakan koruptif, melakukan kolusi dan nepotisme. Kita sudah kenyang pengalaman tentang tindakan koruptif para pejabat yang berakibat sangat fatal bagi masyarakat.  Terdapat juga  aktivis organisasi keagamaan yang melakukan tindakan tidak senonoh dalam keuangan negara. NU perlu menjaga kadernya di dalam birokrasi agar melakukan tindakan yang benar sesuai dengan regulasi yang menjadi pedoman dalam tindakan birokratis. Program seperti ini bisa disinergikan dengan berbagai lembaga pemerintahan di dalam implementasinya. Moralitas kejujuran, keadilan dan kesetaraan akan dapat dilakukan secara bersama-sama. NU perlu menyapa kadernya di berbagai instansi pemerintah agar kehadiran NU dapat dirasakan.

  

Moralitas toleransi dan kerukunan tentu juga sangat penting. Program ini dapat disinergikan dengan program Moderasi Beragama yang telah memperoleh momentum sangat baik dewasa ini. Jika selama ini program ini hanya berada di bawah Kemenag, maka NU bisa terlibat untuk membawa program ini menjadi lintas organisasi, lintas birokrasi, lintas masyarakat. NU merupakan organisasi penyangga moderasi beragama di Indonesia yang sudah teruji semenjak lama. NU telah menjadi organisasi dengan branding image sebagai organisasi Islam wasathiyah. Dan saya kira tidak ada yang meragukannya.

  

Kedua, gerakan cyber team. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana NU menjaga Islam wasathiyah di Indonesia. Bangsa Indonesia sangat tergantung kepada NU untuk melestarikan dan menegakkan Islam wasathiyah. Di tengah haru biru media sosial yang semakin permissive dengan konten-konten yang merugikan ikatan solidaritas dan soliditas bangsa atau integrasi bangsa, maka masyarakat Indonesia tentu berharap banyak pada NU agar terus speak up tentang moderasi beragama untuk mengampanyekan Islam wasathiyah. NU tidak boleh kendor dalam menghadapi serangan bertubi-tubi dari kaum salafi dalam berbagai variannya. Agen-agen muda NU harus disinergikan dengan tokoh-tokoh NU untuk membangun konten Islam wasathiyah yang menarik dan up to date. Kelompok salafi ini telah menguasai media sosial, dengan berbagai konten yang menarik, misalnya komunitas hijaber, Yuk Ngaji dan sebagainya. 

  

NU dengan generasi mudanya, misalnya PMII, Anshor, Banser, Fatayat, IPNU, dan IPPNU akan dapat memainkan peran yang signifikan untuk kepentingan ini. Diperlukan kolaborasi yang sangat sinergik agar kerja seperti ini dapat lebih massif dan menarik. Dakwah konvensional tetap diperlukan dan NU akan kehabisan talenta-talenta ajaib untuk kepentingan dakwah seperti ini, namun harus ada tim cyber yang kuat juga untuk mengantisipasi attacking yang dilakukan oleh kelompok sebelah yang juga ingin menguasai otoritas keagamaan di Indonesia. 

  

Ketiga, gerakan  kesadaran lingkungan. Masalah lingkungan adalah masalah global. Tidak hanya menjadi problem negara Indonesia tetapi menjadi masalah internasional. Isu tentang pemanasan global, isu perubahan iklim, isu kerusakan lingkungan merupakan masalah yang sangat mendasar karena terkait secara langsung dengan kehidupan manusia. Itulah sebabnya di dalam SDG’s persoalan lingkungan menempati posisi penting. NU sebagai organisasi sosial keagamaan tentu harus terlibat di dalam penyelesaian isu-isu global ini dengan mengambil segmen yang bisa dilakukan, misalnya tentang masalah kerusakan lingkungan,  Kesehatan lingkungan dan masyarakat. Program ini tentu bisa disinergikan dengan organisasi lain atau institusi pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi lingkungan hidup. Diperlukan pemetaan yang mendasar tentang isu lingkungan yang mana yang diperlukan untuk diselesaikan secara sinergis. 

  

NU kiranya bisa banyak terlibat di dalam upaya-upaya untuk pemberdayaan masyarakat dan penyelamatan lingkungan selain masalah-masalah teknologi informasi yang juga menjadi tantangan yang serius dewasa ini. Saya kira memang tidak mudah untuk menemukan solusi atas tantangan NU menjelang usianya yang seabad, tahun 2026. Waktu tersebut tinggal beberapa tahun, dan untuk meyakinkan para warga NU tentu jika NU bisa terlibat di dalam menjawab masalah-masalah kebangsaan, keumatan dan keagamaan. Dan NU sudah memiliki pengalaman menghadapi jebakan batman yang terkadang tidak terduga.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.