Perkuat PTKI Impactfull: Harlah ADP IV di UIN Kediri (Bagian Ketiga)
OpiniArtikel ke tiga ini akan sedikit membahas tentang pelayanan pembelajaran berbasis IT atau berbasis AI. Pembelajaran berbasis IT atau AI saya kira sudah saatnya untuk dibicarakan atau didiskusikan. Konsepnya dijadikan sebagai kajian empiric dan kemudian bisa diterapkan secara implementatif. Tulisan ini sungguh-sungguh merupakan gagasan, sebab untuk terlibat dalam diskusi tentang pembelajaran berbasis IT atau AI tentu memerlukan seorang pakar dan saya tentu bukan ahlinya. Saya sebagai generasi baby boomer, sering disebut generasi colonial, maka rasanya sudah berada di luar area tersebut. Sebuah pengakuan.
PT sedang menghadapi perubahan yang luar biasa di dalam pemanfaatan AI dalam bidang pendidikan. Ada Artificial Intelligent (AI), Augmented Reality (AR) dan Big data (BD). Kita tidak pernah membayangkan bahwa untuk membuat sebuah konteks penelitian atau latar belakang penelitian, dapat diperoleh dalam beberapa detik. Melalui ChatGPT atau bahkan Meta AI, dengan mudah kita memperoleh hal-hal teoretik atau konseptual tentang apa yang kita butuhkan. Sungguh mengerikan, jika seseorang malas untuk melakukan upaya menjadikannya sebagai inspirasi dan bukan sebagai karyanya sendiri. AI bisa membuat seseorang malas berpikir. Inilah yang barangkali bisa dikonsepsikan sebagai matinya kepakaran atau The Death of Expertise. Tanya ke dosen ribet, tanya saja ke ChatGPT. Bahkan suatu ketika kita akan menjadikan ChatGPT sebagai Promotor atau Co-Promotor. Bukan sesuatu yang tidak mungkin.
Ada banyak program pembelajaran berikut aplikasi yang dapat digunakan, tetapi kebanyakan untuk pembelajaran program pendidikan dasar dan menengah. Penggunaan aplikasi ini tentu dikaitkan dengan percepatan di dalam daya resepsi siswa di dalam menghadapi pembelajaran yang memerlukan pengayaan materi pembelajaran. Sedangkan untuk PT rasanya masih jarang atau bahkan bisa dinyatakan tidak ada.
Berdasarkan data dari Alvara Riset Center, bahwa ada tiga kategori GenZi dalam menghadapi AI, yaitu kelompok Enthusiastik, kelompok adopter dan kelompok skeptisisme. Kelompok enthusiastic adalah mereka yang menganggap bahwa AI sangat bermanfaat, sedangkan kelompok adopter menganggap tidak terlalu penting, dan kelompok skeptisisme menganggap AI tidak ada pentingnya di dalam kehidupan. Meskipun terjadi perbedaan penggolongan, akan tetapi kebanyakan penggolongan tersebut memanfaatkan AI untuk pendidikan. Itu artinya penggunaan AI masih positif.
Para dosen, sesungguhnya juga diuntungkan dengan penggunaan AI untuk pendidikan. Bagi dosen yang sudah menguasai prinsip-prinsip dasar dalam teori suatu ilmu, maka akan dengan mudah dapat menggunakan AI dan membandingkannya dengan seperangkat pengetahuan yang diketahuinya. Misalnya, sebagai dosen dalam mata kuliah teori social, maka dengan bantuan AI akan dapat memperoleh pengetahuan tambahan dari AI terkait misalnya dengan teori yang dibahas. Mahasiswa juga terbantu, misalnya pada saat akan menggunakan perspektif teori social tertentu, maka AI dapat berperan. Akan tetapi di dalam kerangka memperluas program discovery learning, maka para mahasiswa akan mendapatkan inspirasi dan kemudian menggunakan teori tersebut untuk menganalisis atas fakta atau realitas social yang dikajinya.
Pada era Pendidikan berbasis IT atau AI, maka sebenarnya sudah tidak lagi berpikir jarak dan waktu. Dunia PT kita masih sangat konvensional, dengan menerapkan aturan jarak dan waktu pembelajaran. Meskipun tidak berwujud pendidikan Jarak jauh atau distance learning, akan tetapi fleksibilitas pembelajaran dapat dirumuskan regulasinya yang memihak kepada penguatan pendidikan masyarakat. Pada tahun 2011, President University sudah menerapkan pendidikan berbasis IT, sehingga mahasiswanya datang dari berbagai negara. Demikian pula Bina Nusantara University sudah menerapkan perbandingan 80 persen IT dan 20 persen luring, 50 persen daring dan 50 persen luring, dan 20 persen daring dan 80 persen luring. Andaikan tidak ada wabah Covid-19, program seperti ini tidak akan secara massive digunakan oleh PT.
Di dalam menghadapi GenZi yang IT minded, maka program konvensional tentu tidak menarik. Makanya ada empat aspek yang dapat menarik mahasiswa, yaitu tawarkan ekselensinya, tawarkan kemudahan proses pembelajarannya, tawarkan biaya yang terjangkau dan penyelesaian studi tepat pada waktunya. Mengenai ekselensi memang harus menjadi kekuatan PT, misalnya prodi tafsir hadits, atau studi agama-agama lalu dipikirkan bagaimana kolaborasinya dengan IT. Ini yang secara serius harus didiskusikan.
Kemudahan pembelajaran juga penting. Itulah sebabnya program pembelajaran harus simple dan menarik. Besarnya prosentase dapat dirundingkan sesuai dengan regulasi yang memihak kepada simplifikasi program pembelajaran. Yang penting adalah pengawasan atau control terukur dari system pembelajaran yang bekerja secara teknikal sistemis. Di Amerika dalam waktu 10 tahun ke depan, PT yang tidak menerapkan IT sebagai piranti penting akan mati. Diperkirakan hanya akan tinggal 50% PT yang survive dan sustainable.
Apapun diperlukan regulasi, akan tetapi regulasi tersebut harus berisi pemihakan atas prakarsa atau inovasi yang memihak kepada penguatan dan perluasan akses pendidikan. Kemendikti, Kemendikdasmen dan Kemenag sedang merumuskan RUU Sisdiknas dan Kementerian terkait, yang akan menjadi Omni Bus Law atas UU No. 20 Tahun 2023 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan UU No. 18 tahun 2019 tentang Pendidikan Pesantren, tentu yang diharapkan agar RUU ini peka terhadap pendidikan yang memihak kepada kualitas tetapi simple, memihak rakyat dan pendidikan yang berdampak dan berkelanjutan.
Sebagai organisasi akademis, ADP tentu dapat melakukan berbagai kerjasama untuk mendiskusikan berbagai peluang untuk mengembangkan pendidikan. Bukankah di dalam ADP ada banyak talenta muda dengan varian latar belakang pendidikan. Sepertinya diperlukan sinergi untuk melakukan uji coba berbagai varian program pembelajaran yang berbasis pada aplikasi TI dan AI. Jika kita dapat melakukannya bukan tidak mungkin kitalah yang dicari oleh Institusi Pendidikan Tinggi dan bukan kita yang mencari Pendidikan Tinggi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

