Rasanya Baru Kemarin Emak Wafat
OpiniRasanya Emak Hj. Turmiatun masih hidup. Rasanya Emak masih duduk di kursi di depan rumah. Rasanya Emak masih tersenyum di kala saya datang menjenguknya. Sungguh itulah yang saya rasakan di saat saya kembali ke rumah Tuban, rumah yang menjadi saksi atas kehadiran Emak 85 tahun yang lalu. Rumah yang menjadi saksi atas semua kelakuan keberagamaan dan perilaku social yang diekspresikannya.
Saya harus ke Tuban di sela-sela kesibukan di Surabaya. Saya memang harus pulang ke tanah kelahiran saya. Ada hal yang harus saya lakukan, yaitu peringatan 100 hari wafatnya Emak, yang jatuh pada hari Senin, 16/02/2026. Jadi menjadi kewajiban saya untuk hadir pada acara ini. Sebuah acara yang menjadi pengingat bagi saya khususnya bahwa Emak sudah menghadap ke hadirat Ilahi Rabbi, kembali ke alam kubur yang sudah menjadi takdirnya. Saya yakin Emak ini orang baik, yang tidak pernah meninggalkan shalat fardhu yang memang menjadi kewajiban untuk ditunaikannya. Shalat fardhu lima kali sehari selalu dilakukannya bahkan menjelang wafatnya. Inilah kebahagiaan seorang anak atas kepatuhan Ibu yang melahirkannya. Sebuah kepatuhan pada ajaran agamanya. Saya merasakan betapa besar kasih sayangnya yang diwujudkan dengan tidak pernah memarahi saya.
Saya masih ingat jika saya pulang ke rumah Tuban, maka pertanyannya yang selalu saya dengar adalah “apakah sudah ziarah ke makam Bapak dan embahmu”. Pertanyaan ini sudah tidak ada lagi saya dengar. Ada rona kebahagiaan jika saya sudah melakukannya. Makanya, tugas saya sekarang adalah “nyambangi” makamnya sebagai salah satu tanda bakti kepadanya. Setiap malam saya berdoa untuknya dan seluruh keluarga saya yang sudah wafat. Saya lantunkan setiap malam doa agar mereka semua mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Setiap sujud malam hari, selalu saya panjatkan doa kepada mereka semua. Hanya ini yang bisa saya lakukan atas bagaimana besarnya kasih sayang, ikhtiarnya dan doanya yang Ikhlas untuk kehidupan saya. “Ya Allah, ampuni Bapak dan Emak saya, embah-embah saya, buyut saya, canggah saya dan seluruh keluarga saya yang sudah wafat”. “Rabbana taqabbal minna du’aana innaka antas sami’un ‘alim wa tub ‘alaina innaka antat tawabur rohim.”
Jika saya datang ke rumah, maka foto yang terpampang adalah foto kami bertiga. Bapak, Emak dan saya. Foto itu begitu memiliki makna yang mendalam bagi saya. Foto di saat saya masih kecil. Masih kelihatan imut-imut. Bersandal jepit, bercelana pendek dan memakai baju pada zamannya. Foto itu menggambarkan gaya berpakaian orang Islam di masa lalu. Alangkah indahnya foto itu. Foto itu diambil di kota Tuban. Ada sebuah studio yang berada di Kota Tuban, yang rasanya masih ada sampai saya Sekolah di SMEPN Tuban. Dulu di dekat alun-alun Tuban, sebelah utara. Saya tidak tahu apakah sekarang masih ada.
Foto yang menggambarkan kemanjaan anak kepada Emaknya. Saya belum sekolah. Foto itu sudah berusia 62 tahun yang lalu. Kira-kira diambil gambarnya pada tahun 1963. Saya bersyukur sebab foto itu masih tersimpan dengan baik, termasuk foto saya dengan embah di kala saya masih duduk di SMEPN Tuban. Melihat foto masa lalu, rasanya kita sedang merenda kehidupan di masa lalu, yang tergambar secara gamblang. Kini kedua orang tua saya sudah wafat. Hanya tinggal fotonya. Maka tugas saya adalah mendoakannya semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT.
Di dalam tradisi NU, maka peringatan wafat ke 100 hari dianggap sebagai kebaikan. Andaikan dinyatakan bahwa tidak ada contoh pada zaman Nabi Muhammad SAW, maka sekurang-kurangnya adalah upacara doa dan pembacaan kalimat Tauhid, La ilaha illallah, bacaan surat Yasin dan doa bersama. Siapa yang meragukan bahwa tahlilan bukan membaca kalimat tauhid, atau acara yasinan bukan membaca Alqur’an, Surat Yasin. Dan doa yang ditujukan kepada almarhum atau almarhumah adalah bagian dari sunnah Rasulullah agar sesama umat Islam saling mendoakan. Saya tidak perduli apakah membaca hal-hal tersebut merupakan bidh’ah atau tidak, namun sekurang-kurangnya adalah upaya kebaikan bagi orang tua saya yang sudah meninggal.
Saya berkeyakinan bahwa bacaan tahlil, bacaan surat Yasin dan doa-doa itu akan dapat diterima oleh almarhum atau almarhumah. Dunia keyakinan tentu tidak bisa diverifikasi, akan tetapi saya berkeyakinan bahwa Allah akan memberikan kerahmatan bagi arwah leluhur yang dibacakan tahlil, Yasin dan doa, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.
Upacara 100 hari tentu bukan sama dan sebangun dengan acara agama lain di negeri ini. Konon dilakukan oleh umat agama lain jauh sebelum Islam datang ke sini. Tetapi substansinya sungguh berbeda. jika seandainya ada upacara 100 hari bagi arwah leluhur atau kerabat yang dilakukan oleh umat beragama lain tentu dipastikan tidak sama dengan upacara 100 hari yang dilakukan oleh umat Islam. Di sini ada bacaan kalimat tauhid, ada bacaan Alqur’an dan doa dalam bahasa Arab dan terkadang ditambah dengan Bahasa Indonesia juga dipastikan tidak sama dengan yang dilakukan oleh umat agama lain. Hanya momentumnya yang sama tetapi substansinya berbeda. Tidak adil rasanya di kala kita menyamakan upacara 100 hari yang dilakukan oleh umat Islam dengan umat agama lain.
Ada dimensi teologis dan ritual yang sungguh berbeda. Oleh karena itu, akan tepat rasanya untuk saling memahami tentang tradisi upacara ba’da kematian yang dilakukan oleh umat Islam dalam kerangka memberikan penghormatan, merawat dan pemberian kasih sayang kepada keluarga yang sudah wafat. Bukankah Islam menganjurkan agar kita berbuat baik dengan cara berdoa kepada Allah SWT untuk umat Islam yang masih hidup maupun sudah meninggal.
Wallahu a’lam bi al shawab.

