(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Sujud Syukur, Sepak Bola dan Kemerdekaan

Opini

Sama sekali tidak ada keinginan untuk mengekspresikan sentimen keagamaan, tetapi saya kira tindakan pemain sepak bola Indonesia untuk bersujud syukur pasca mencetak gol dan kemenangan dalam ajang final AFF U-16 melawan Vietnam merupakan ekspresi keagamaan. Di antara kita tentu memahami bahwa sujud syukur merupakan ekspresi religiositas yang sangat mendalam dan menjadi ciri dari umat Islam.  Agama  memang mengajarkan agar setiap individu yang berhasil di dalam kehidupannya  bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  

Sebagai warga negara Indonesia, salah satu peristiwa  heroik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terjadi dalam peristiwa olahraga yang menguras dan mengaduk-aduk perasaan, misalnya dalam pertandingan sepak bola. Di antara yang menjadi momentum penting dalam nuansa kebangsaan  adalah pertandingan sepak bola untuk Piala AFF U-16 yang diselenggarakan di Stadion Maguwoharjo, yang mempertemukan tim Sepak bola Indonesia usia 16 tahun dan  tim Vietnam Usia 16 tahun dengan kedudukan akhir 1:0 untuk kemenangan tim sepak bola Indonesia, 12/08/2022. Semua ”penggila” bola yang menonton di stadion maupun layar kaca, tentu sudah tahu dari menit ke menit jalannya pertandingan.

  

Di antara peristiwa yang sangat menarik dalam perhelatan kejuaraan AFF U-16, adalah kala pemain Indonesia, Muhammad Kafiatur Rizky, mencetak gol pada menit akhir babak pertama. Rasa kegembiraan tersebut dirayakan dengan sujud syukur para pemain atas terjadinya gol tersebut. Setelah mereka saling memeluk, lalu bersujud di atas rumput lapangan hijau. Sungguh indah melihat para pemain bola usia 16 tahun  berselebrasi dengan sujud syukur. Sujud ini memiliki makna mendalam bagi para pemain usia muda sebagai perwujudan atas keberhasilannya di dalam pertandingan. Ada upaya para pemain untuk menang dan ada kenikmatan atas takdir Tuhan dalam kemenangan bersejarah yang dimaksud.

  

Kehadiran Piala AFF untuk usia 16 tahun tentu bukan yang pertama. Tetapi kali ini terasa spesial sebab terkait dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia ke 77. Kemenangan atas Vietnam dalam pertandingan final sepak bola juga sangat spesial. Selama ini, team sepakbola Vietnam selalu menjadi momok bagi team sepak bola Indonesia. Selain itu semakin lengkap karena di dalam AFF U-16 tahun ini,  kesebelasan Indonesia berhasil mengalahkan pasukan Vietnam dua kali, yaitu pada babak penyisihan grup dengan skor 2:1 dan pada momen final dengan skor 1:0. Peristiwa itu yang membuat masyarakat Indonesia sangat bangga dan senang. Para pemain muda yang bertalenta tersebut mempersembahkan Piala AFF tepat pada momen peringatan kemerdekaan Indonesia. 

  

Sesungguhnya ada banyak peristiwa yang bisa menjadikan rasa kebangsaan dan nasionalisme kita tumbuh. Satu di antaranya adalah  lewat pertandingan sepak bola. Ada perasaan deg-degan kala pasukan Indonesia mendapatkan serangan bertubi-tubi dan perasaan sedih kala gawang pasukan Indonesia kebobolan. Tetapi kita merasa sangat senang kala para pemain Indonesia memasukkan bola ke gawang lawan. Perasaan campur aduk ini bukan hanya perasaan individual tetapi dirasakan oleh masyarakat yang menonton permainan sepak bola. Di dalamnya terdapat rasa nasionalisme yang luar biasa. Saya kira sama dengan kala para pemain bulutangkis kita memenangkan pertandingan dalam even olahraga sebagai wakil bangsa.  Alan Budikusuma dan Susi Susanti, disebut sebagai pengantin olimpiade, memperoleh medali emas pada Olimpiade Barcelona, Spanyol 1992,  Ricky Subagya/Rexy Mainaky, olimpiade Atlanta 1996, Candra Wijaya/Toni Gunawan Olimpiade Sydney 2000, Taufiq Hidayat olimpiade Athena 2004, Markis Kido/Hendra Setiawan olimpiade Beijing, Lilyana Nasir/Tontowi Ahmad olimpiade Rio de Janeiro 2016 dan Apriyani Rahayu/Gresya Polii menjadi juara ganda putri badminton dalam olimpiade Tokyo Jepang, 02/08/2021. Maka seluruh bangsa Indonesia bersyukur dengan puja dan puji kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Rasa gembira, bahagia dan meningkatnya identitas sebagai bangsa Indonesia adalah wujud dan ekpresi kebangsaan.

  

Sebagai masyarakat Indonesia, kita merasakan bahwa kemenangan dalam olahraga pada momen internasional merupakan kemenangan bangsa. Mereka yang bertanding adalah representasi negara, sehingga doa dan zikir dan bahkan istighosah pun digelar untuk kemenangan tersebut. Semua ini menandai bahwa kita masih memiliki rasa kebangsaan. Jadi, kita memahami bahwa  kehadiran para pemain dalam berbagai even internasional tidak hanya mewakili diri sendiri, dan daerah asalnya, akan tetapi mewakili bangsanya. Mereka adalah duta bangsa. Mereka  membawa harum negara dan bangsa. Mereka membawa identitas bangsa. 

  

Berdasarkan konsep negara dan identitas kebangsaan atau state identity, maka bisa ditarik proposisi bahwa “tinggi rendahnya identitas kebangsaan dapat dilihat dari bagaimana penghargaan atas representasi negara dalam relasinya dengan berbagai momen kebangsaan”. Pertandingan olahraga yang menjadi representasi negara merupakan  salah satu contoh dari ekspresi identitas kebangsaan yang bercorak simbolik dan sekaligus realitas sosial. 

  

Wallahu a’lam bi alshawab.