Transformasi Pendidikan Islam di Era Perubahan: UNISDA Lamongan (Bagian Dua)
OpiniAcara Dies Natalis ke 39 Universitas Darul Ulum (UNISDA) Lamongan memang diselenggarakan dengan meriah. Acara ini memang didesaian dengan tayangan teknologi yang menarik, terutama pada saat launching program Doktor Ilmu Keislaman atau Islamics Studies. Program ini sesuai dengan rencana akan membuka konsentrasi dalam berbagai integrasi ilmu, misalnya studi keislaman yang didekati dengan perspektif sosiologis, antropologis, politik, psikhologi, bimbingan konseling, managemen dan bahkan ilmu kesehatan.
Saya mengapresiasi atas kehadiran UNISDA yang sudah menjadi perguruan tinggi yang layak untuk diapresiasi karena perguruan tinggi ini sudah melakukan banyak hal dalam kaitannya dengan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdidik. Makanya tepat tema Orasi Ilmiah yang diminta oleh Pimpinan UNISDA Lamongan dalam Dies Natalis tahun ini. Tema yang diminta untuk dibicarakan adalah “Transformasi Perguruan Tinggi menuju Era Pendidikan Berkualitas dan Modern”. Sebagai Perguruan Tinggi di bawah NU, maka posisi UNISDA termasuk perguruan tinggi yang bermutu di bawah UNISMA. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:
Pertama, kata transformasi memiliki makna perubahan dalam tiga aspek, yaitu perubahan kelembagaan, perubahan akademik dan perubahan menuju Perguruan tinggi berdampak. Diksi transformasi tentu mengandung makna yang sangat fundamental, yaitu sebuah upaya yang dilakukan dalam kerangka untuk melakukan perubahan terencana sesuai dengan arah yang dipikirkan dan harus dilakukan. Pendidikan merupakan upaya untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdidik atau well educated, yang memiliki keahlian sesuai dengan kapasitasnya. Transformasi bagi dunia pendidikan mengandung banyak dimensi, yaitu dimensi peningkatan kualitas pendidikan, khususnya terkait dengan kualitas institusional, PT harus terakreditasi unggul, sebagai tolok ukur bagi pengakuan lembaga yang memiliki otoritas terkait dengan kualitas institusi yang dinilainya. Jika ingin bertransformasi dalam kualitas pendidikan, maka harus dipetakan mana yang masih belum memenuhi standart dan mana yang sudah memenuhi standart. Dengan pengakuan yang memadai untuk prodi-prodi pada institusi ini, maka akan besar peluang bagi UNISDA untuk mendapatkan pengakuan unggul. Jika sebuah lembaga sudah diakui unggul oleh lembaga pemeringkatan, misalnya BAN PT atau LAM, maka dengan sendirinya sudah diakui kesejajarannya dengan PT yang sama-sama memiliki standart unggul. Tidak ada bedanya antara UA, ITS dan UNISDA jika sudah memiliki akreditasi unggul. Masyarakat sekarang sudah cerdas untuk memilih Lembaga Pendidikan, oleh karena itu perkuat tim untuk meraih status unggul agar kepercayaan masyarakat akan semakin besar.
Hal yang tidak kalah penting adalah pengakuan dosen, sebagai transformer ilmu pengetahuan. Ukurannya memang masih bercorak gelar yang didapatkan. Jika seorang dosen sudah mendapatkan gelar doctor maka dianggap sudah memenuhi standart sebagai dosen, padahal status doctor bukan hanya ijazah, akan tetapi karya nyata yang dilakukannnya. Harus menguapdate pengetahuannya tentang ilmu secara teoterik maupun metodologis, harus terus berkarya dalam berbagai variasi karya tulis, dan harus menghasilkan program pengabdian yang dapat dilakukannya. Janganlah menjadi doctor gedebog, doctor yang seperti pisang, sekali berbuah lalu mati karena ditebang orang.
Kedua, transformasi yang tidak kalah menarik adalah menjadi PT berdampak. Di Tengah perubahan social yang cepat, maka yang diharapkan memiliki peran penting untuk mengakselerasikannya adalah PT. Perguruan tinggi memiliki banyak instrument untuk melakukan perubahan. Ada banyak teori aplikatif dari applied science yang bisa dijadikan sebagai upaya untuk melakukan perubahan. Teori tidak hanya digunakan untuk pengembangan teori tetapi dapat digunakan untuk pengembangan masyarakat. Sebagai contoh kecil, di era penggunaan media social yang sedemikian rupa dan bahkan akan dapat menjadi instrument untuk disharmoni social, maka PT dapat hadir di tengah-tengah masyarakat, baik melalui konten dengan karakter berkesadaran untuk menjadi penyeimbang atas konten yang mengadudomba, yang hoaks, yang memiliki character assassination dan sebagainya. Atau datang dengan memberikan sumbangan pemikiran untuk masyarakat tentang kesadaran hukum, kesadaran beragama, kesadaran hidup sehat dan sebagainya. Jangan hanya dengan KKN bergerombolan tetapi secara individual atau berkelompok untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat luas. Bisa juga dilakukan upaya untuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan dan sebagainya.
Kiranya masih relevan pemikiran tentang konvergensi tridarma perguruan tinggi atau integrasi perguruan tinggi. Yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat yang saling menyatu dan memberikan kontinuitasnya. Pengajaran menghasilkan riset dan riset menghasilkan pengabdian masyarakat, dan terus bergulir seperti itu. Sebagai contoh pengajaran mendapatkan masalah penelitian, misalnya “ada banyak perilaku deforestasi di suatu wilayah”, maka kemudian menghasilkan hipotesis misalnya “perilaku para pengusaha menyebabkan banyak perilaku deforestasi”, lalu kemudian dijadikan sebagai problem akademik di PT, lalu menghasilkan Kesimpulan bahwa pengusaha jangan hanya menebang tetapi juga menanam. Kesimpulan tersebut kemudian menjadi kebijakan pemerintah daerah dan PT melakukan literasi tentang jangan merusak hutan. Inilah yang disebut sebagai PT berdampak.
Ketiga, PT modern sesungguhnya tidak hanya diisi dengan gedung-gedungnya yang megah, akan tetapi oleh SDM PT yang memiliki dampak bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, UNISDA akan dapat dinyatakan sebagai PT moderen, jika ada banyak doctor dan professor, ada teknologi informasi yang andal di era digital dan pengakuan nasional dan internasional yang sangat baik. Dan saya kira kita punya peluang untuk meraihnya selama nuansa internal PT dan kebersamaan sivitas akademinya sangat teruji.
Hanya dengan kebersamaan cita-cita untuk menjadi perguruan tinggi moderen akan dapat berada di dalam genggaman kita. Coming together, sharing together, working together and succeeding together. Filsafat togetherness ini yang menjadi pijakan kita bersama.
Wallahu a’lam bi al shawab.,

