Motivasi dan Spiritualitas Segitiga : Urgensi tirakat dalam Pembentukan Karakter Siswa
KhazanahOleh : Imam Chanafi
- Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Angkatan Tahun 2000
- Mahasiswa Pascasarjana Prodi Doktor Angkatan 2025 Kelas A UNKAFA Gresik
Berita Kekerasan Antara Guru dan Siswa
Belakangan ini kita disuguhi lagi berita, seorang murid berani menantang kelahi guru, ada juga yang mempermainkan kepala sekolah saat ketahuan merokok, ditegur dan berbohong, karena merasa dipermainkan, kepala sekolah lepas kontrol lalu menempeleng murid, meskipun tempelengan itu kabarnya tidak keras tapi cukup menyinggung orang tua murid sehingga kepala sekolah dilaporkan ke polisi. Sebagian siswa bahkan demo, mogok masuk kelas, katanya sebagai bentuk solidaritas pada teman-teman yang ditempeleng tadi, gubernur pun turun tangan memecat kepala sekolah, netizen marah, kepala sekolah tidak jadi dipecat, dunia pendidikan gaduh sekali, ada apa ini? Mengapa hal serupa sering terjadi belakangan ini?
Saya adalah Alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta 1984-1989, Alhamdulillah sempat 5 tahun berada dalam bimbingan langsung Almaghfurlah “Mbah Ali” atau KH. Ali Maksum Krapyak. Lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan sedikit kisah yang saya anggap bisa menjadi tambahan inspirasi bagi para pendidik, siswa, maupun walinya.
Ada satu kegiatan, apabila santri tidak melaksanakan dan Mbah Ali Pirso dapat dipastikan santri tersebut dipanggil dan dipukul oleh beliau dengan sabetan kayu yang sangat keras. Kegiatan tersebut bernama Sorogan Bado Shubuh, atau membaca Kitab Kuning bertema apa saja plus setor satu dua makalah singkat langsung di hadapan Mbah Ali Maksum. Anehnya santri yang absen dan dapat hukuman tidak benci pukulan itu, bahkan hampir semua memiliki keyakinan bahwa pukulan Mbah Ali tersebut mengusir kebodohan, sehingga ada juga teman bahkan sengaja salah agar dapat pukulan Mbah Ali.
Dipukul guru dan meski sakit tapi hati tidak benci, ternyata tidak hanya terjadi di kebanyakan pesantren. Di beberapa sekolah tempo dulu pun kabarnya seperti itu. Satu dua juga kita menemukan kisah orang tua di medsos, bahwa jika cucunya melanggar di sekolah lalu dipukul guru maka sampai rumah orang tua juga menambahkan hukuman, bukan malah melaporkan gurunya ke Polisi atau Komnas HAM.
Baca Juga : Adat dalam Wacana “Agama yang Hidup”
Antara Dulu dan Sekarang
Mengapa fenomenanya berbeda jauh antara dulu dengan sekarang? Saya meyakini jawabannya antara lain ada dalam Motivasi dan Spiritualitas Segitiga, yakni Kesungguhan guru dalam mentirakati muridnya, kesungguhan orang tua dalam mentirakati anaknya dan kesungguhan siswa dalam mentirakati dirinya sendiri.
Kesungguhan dalam tirakat, bukan sekadar rutinitas berdoa sebelum dan sesudah belajar. Tetapi adalah keistiqomahan batin dalam mengawal niat yang kuat untuk mewujudkan anak didik, buah hati dan diri sendiri agar memilki kepribadian yang matang dan berbudi pekerti luhur. Orang dulu tidak begitu fokus pada nanti jadi apa, tetapi fokusnya pada proses pematangkan kepribadian sehingga punya potensi yang bisa diterima di berbagai kalangan sebagai figur yang bermanfaat bagi umat. Melakukan yang terbaik, perkara nanti jadi apa itu urusan Tuhan, urusan Allah Subhanahu Wata\'ala.
Pentingnya Kekompakan Lahir Batin
Pemukulan bisa berarti kekerasan, namun di sisi lain banyak yang menerimanya sebagai bentuk kasih sayang. Seperti perbedaan antara kita bercanda memukul teman akrab dengan memukul orang yang selama ini sentimen, kadar pukulannya bisa sama tapi bisa berbeda jauh penerimaannya. Artinya ada hati yang perlu digarap dan kalau sudah kesana kita jadi ingat Firman Allah.
وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS.Al-Anfal [8] Ayat 63)
Baca Juga : Nasehat Jawa Tentang Perempuan
Ada faktor langit yang perlu diunduh secara kompak, bukan hanya sepihak, guru saja yang semangat namun orang tua dan murid tidak melaksanakan, atau guru dan murid saja yang semangat namun orang tuanya tidak memperdulikan, tentu dalam hitungan batin hasilnya menjadi kurang maksimal. Jadi harus kompak melaksanakan Segitiga spiritual.
Ambil Satu Contoh Tirakat; Bismillahirrahmanirrahim
Rasulullah SAW bersabda;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ
Setiap urusan penting yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah (Bismillah), maka amal itu terputus (kurang berkah). (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya [no. 4840], Ibnu Hibban dalam Shahih-nya [no. 505], al-Bayhaqi dalam Syu'ab al-Imān [1/408].)
Baca Juga : Merantau Bagi Orang Madura
Semua sepakat tentang pentingnya Basmallah hingga Bismillah membudaya terucap secara otomatis setiap kali kita akan melakukan aktivitas apa saja. Namun yang perlu disepakati sejak awal oleh pelaku yang saya sebut segitiga itu adalah kesungguhan dalam memaknai dan menerapkan nilai-nilai Bismillahirrahmanirrahim. Duduk Bersama, memaknai dan menerapkan Bismillah sebagai Way of Life nya Pendidikan;
1. Bi : Pendidikan yang sedang ditempuh anak didik diproses secara kompak bersama guru dan keterlibatan orang dengan penuh kesadaran Bi-Ismillah. Sebisa mungkin kompak, jangan sampai satu pihak ada yang dominan, sementara yang lain tidak melakukan hal yang sama sekali. Semua dalam kesadaran bahwa tugas Pendidikan dijalankan Bi ; dari Allah, dijalani sesuai tuntunan Allah dan Menuju Keridhoan Allah.
2. Ismillah : Kesadaran sesuai QS. Al-Anfal [8] Ayat 63 ; bahwa semua hakikatnya adalah Allah, jika Allah tidak mengizinkan menyelesaikannya maka sebanyak apapun harta dan tenaga yang kita keluarkan tidak mempunyai pengaruh apapun. Sinkron juga dengan QS Al-\'Alaq [96] ayat 1 dan ayat penutupnya 19. Bahwa membaca itu bukan sekedar Iqra\' tapi harus Bismirabbik agar tidak ada perasaan telah pintar dan supaya hasil dari seluruh proses Pendidikan maksudnya adalah untuk bersujud dan mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah.
3. Arrahmanir Rahim : Proses pelaksanaan pendidikan ini harus betul-betul didasarkan pada semangat penuh kasih sayang terutama diantara pelaksana spiritualitas segitiga. Kita tahu dalam susunan Asmaul Husna, Arrahman dan Arrahim menempati bagian awal, dan itu kata para para guru kita antara lain memiliki maksud bahwa semangat semua Asmaul Husna harus didasari dengan semangat Kasih Sayang. Al-Malik, sebagai penguasa, Alquddus sebagai pengemban tugas suci seperti guru dan orang tua serta murid, semua bisa berlangsung sesuai Ridha Allah selagi masih didasarkan pada semangat penuh kasih dan sayang. Assahbur menempati urutan terakhir, mustahil orang bisa sabar jika dalam hati tidak ada kasih dan sayang.
Kesimpulan
Tirakat atau unsur spiritualitas dalam berbagai aktivitas kehidupan terlebih di dunia pendidikan perlu dilakukan lebih serius. Tanpa pusing berpikir bisa melenceng jauh dari tujuan yang diwujudkan pendidikan. Pendidikan yang menurut Islam berarti searah dengan tujuan diutusnya Nabi yakni “menyempurnakan Akhlaq” bisa melenceng jika tidak ditirakati dan diriadloi, Sistem nya ditempuh sebagai jalur kongkrit dan Spiritualitasnya ditempuh sebagai jalur langit.
Imam Chanafi
cak.chanafi@gmail.com
WA +6281803030309

