Tren Keberagamaan Masyarakat Indonesia (Bagian Satu)
OpiniKita patut bersyukur lahir di negeri Indonesia, negeri yang plural dan multikultural tetapi aman dan damai, rukun dan harmonis yang berdampak pada keselamatan. Negara dengan pulau terbanyak, 17.380 pulau, 1340 suku bangsa dan 718 Bahasa (2024). Luas wilayahnya 1.904.569 Km2, negara terluas ke 14 di dunia. Negeri yang aman dan damai. Bandingkan dengan Afghanistan yang hanya terdiri dari 7 suku bangsa tetapi konflik tidak pernah berhenti. Masyarakat Indonesia bisa bekerja dengan aman, sekolah dengan aman, rekreasi dengan aman dan ibadah dengan aman. Bisa ke gereja, ke Vihara, ke Pura, Ke Klenteng dan Masjid dengan aman. Kesalehan ritual, kesalehan sosial aman, tetapi problematik dalam Kesalehan natural
Pernyataan saya ini saya sampaikan dalam Loka Karya Kementerian Agama yang menggagas tentang “Tren Keberagamaan Masyarakat Indonesia”, loka karya yang diikuti oleh seluruh Pejabat pada Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Utama, JPT Madya, para rektor, Ketua Sekolah Tinggi keagamaan dan para pejabat lainnya. Acara dibuka oleh Menag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Dan bersama saya adalah para nara sumber orang-orang hebat, Prof. Dr. Burhanuddin Muhtadi, KH. Ulil Abshar, dan Ir. Noer Tri Wardoyo dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Indonesia dapat ditipologikan dengan konsep Religious Optimistic. Indonesia sebagai negara dengan tingkat optimisme beragama yang sangat tinggi. Menurut World Statistic menyatakan bahwa dari 23 negara dijelaskan bahwa peringkatnya adalah: Indonesia 93%, Turkey 91%, Brazil 84%, Afrika Selatan 83%, Mexico 75%, Amerika Serikat 70%, Agentina 62%, Rusia 56%, India 56%, Polandia 51%, Italia 50%, Canada 46%, Australia 29%, Spanyol 28%, Jerman 27%, Inggris 25%, Belgia 20%, Perancis 19%, Swedia 18%, Korea Selatan 18%, China 9%, Jepang 4%. (detikedu, 26 Juli 2023).
WIN Gallup, ternyata dari 57 negara rata-rata percaya Tuhan sebesar 58%. Kaum atheis di seluruh dunia memang tambah 7%. Negara dengan kepercayaan tertinggi pada Tuhan dipegang oleh negara-negara di Afrika, yaitu Ghana 96%, Nigeria 93%, Macedonia 90%. Afrika rata-rata bertuhan sebesar 89%. Negara yang tingkat kepercayaan Tuhannya di Asia rendah adalah Jepang hanya 31%, Sementara di Eropa adalah Ceko 30%, Perancis 29%. (nursyamcentre “Eropa Semakin Tidak bertuhan” 14/08/23). Sebagai public religion, Survey Pew Research Center (September 2023) di beberapa Negara Asia Tenggara, menyatakan bahwa masyarakat tetap menganggap agama penting. Indonesia dengan gambaran masyarakat pedesaan 99% dan masyarakat perkotaan 97%. Malaysia dengan gambaran masyarakat pedesaan 86% dan perkotaan 85%. Thailand dengan gambaran masyarakat pedesaan 66% dan perkotaan 64%. Tinggi rendah pendidikan tetap meyakini akan adanya karma atau pembalasan atas amal perbuatan. Indonesia, makin rendah pendidikan sebesar 98% dan makin tinggi pendidikan 98%. Malaysia makin rendah pendidikan sebesar 86% dan makin tinggi pendidikan 80%. Thailand makin rendah pendidikan 71% dan makin tinggi pendidikan 53%.
Secara matematis tidak terdapat perbedaan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan berbasis pada pendidikannya mengenai pandangannya tentang agama. Berdasarkan Survey Pew Research Center (September 2023) di beberapa Negara Asia Tenggara, menyatakan bahwa masyarakat tetap menganggap agama penting. Indonesia dengan gambaran masyarakat pedesaan 99% dan masyarakat perkotaan 97%. Malaysia dengan gambaran masyarakat pedesaan 86% da perkotaan 85%. Thailand dengan gambaran masyarakat pedesaan 66% dan perkotaan 64%.
Berdasarkan Alvara Research Center tentang “Indonesia Moslem Report” (2019): Bagi bangsa Indonesia, agama adalah pedoman di dalam melakukan tindakan. Alvara menyatakan terdapat sebanyak 80,2 persen menyatakan bahwa agama sangat penting. Dari survey ini juga diketahui bahwa seirama dengan pertambahan usia, maka semakin besar peluang untuk beragama. Berdasarkan riset Alvara (2019) juga disampaikan bahwa umat Islam menunaikan shalat dengan baik. Yang melakukan shalat sebanyak 99,6 persen, sementara itu yang tidak shalat sebanyak 0,4 persen. Selain itu juga dinyatakan bahwa yang melalukan shalat secara rutin ialah 4 dari 10 orang Indonesia. Sedangkan sisanya melakukan shalat juga tetapi belum rutin 5 kali sehari.
Generasi milenial yang lebih tua cenderung mengamalkan shalat 5 waktu secara aktif dibandingkan dengan generasi milenial yang lebih muda, generasi Z atau younger millenials. Generasi X yang lebih tua (40,6%) menyatakan sering melalukan shalat, Dibandingkan dengan generasi X yang lebih muda dengan persentase sebesar 35%, 34% dan 33,9%, yang sering melakukan shalat 5 waktu. Dan yang menyatakan selalu shalat 5 waktu dan kadang-kadang berjamaah dari generasi X muda sebesar (32,6%), generasi milenial muda (30,5%), generasi milenial tua (30,8%).
Data ini dapat memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius. Keyakinan tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, keyakinan tentang balasan amal perbuatan, dan keyakinan terhadap alam gaib sangat tinggi. Berdasarkan riset baik dari dalam maupun luar negeri memberikan gambaran tentang eksisting agama yang tetap dibutuhkan. Indonesia menempati posisi tinggi dibandingkan religiositas masyarakat Malaysia sebagai penganut Islam sebagai agama official, dan juga Thailand, bahkan dengan Vietnam, Myanmar, Pilipina dan Singapura. Data dari Pew Research Centre menggambarkan dengan jelas mengenai posisi agama bagi masyarakat Indonesia.
Dan yang juga sangat menggembirakan bahwa masyarakat yang terdidik atau well educated maupun yang berpendidikan rendah menyatakan, baik di pedesaan maupun perkotaan beranggapan bahwa agama itu penting di dalam kehidupan. Agama dapat dijadikan sebagai pattern for behavior di dalam kehidupan. Namun sebagai catatan, bahwa generasi milenial yang lebih muda ternyata religisositasnya lebih rendah dibandingkan dengan generasi milenial yang lebih tua. Ini bisa menjadi sinyal bagi kita, bahwa masa depan keberagamaan perlu untuk dicermati lebih lanjut.
Masyarakat Indonesia semakin religious, berdasarkan data World Statistics yang berkesebalikan dengan masyarakat Barat yang semakin tidak bertuhan atau bisa dinyatakan sebagai atheis. Data tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia mengungguli Turki dan negara-negara Amerika Latin. Yang tentu juga menarik bahwa masyarakat Barat, seperti Spanyol, Jerman, Inggris 25%, Belgia, Perancis, dan Swedia dalam prosentase di bawah 30 persen tentang kepercayaannya pada agama. Masyarakat Barat semakin menuju kepada menguatnya atheisme, sedangkan Indonesia semakin mantap keberagamaannya.
Data ini dapat dianalisis bahwa tesis Max Weber tentang the disenchanment of the World ternyata kurang tepat untuk digunakan sebagai pisau analisis atas masyarakat di negara-negara Asia Tenggara. Masyarakat modern itu tercerabut dari nilai spiritual atau mistis ternyata kurang tepat. Bagi masyarakat Barat memiliki relevansi hingga hari ini, akan tetapi masyarakat Asia Tenggara, khususnya Indonesia ternyata kurang relevan. Katakanlah bahwa masyarakat Malaysia dan Thailand lebih modern dibandingkan dengan masyarakat Indonesia, maka data itu memberikan makna bahwa meskipun masyarakatnya menjadi modern tetapi aura spiritualitas dan mistikalitas tetaplah eksis di dalamnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

