Yahudi, Negara Israel dan Kekerasan Atas Palestina (Bagian Satu)
OpiniBangsa Yahudi pertama menempati tanah Kan’an, tanah yang di masa lalu menjadi tempat dari Kan’an bin Nuh. Seorang anak yang membangkang atas perintah ayahnya, Nabi Nuh AS, untuk masuk ke dalam kapal yang akan menyelamatkan umat manusia di kala itu. Kan’an menolak bergabung dan lebih memilih wilayah pegunungan untuk menjadi tempat bertahan, akan tetapi tidak ada daratan yang tidak tersentuh oleh banjir besar Nabi Nuh, sehingga Kan’an pun meninggal. Hanya orang yang patuh pada Nabi Nuh saja yang berhasil mempertahankan hidupnya.
Ada banyak kesalahpahaman di dalam memahami Bangsa Israel dan Negara Israel. Bangsa Israel adalah bangsa yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Ishaq AS. Dari perkawinannya dengan Sarah, maka lahirlah Ishaq yang kemudian menjadi cikal bakal Bani Israel yang kita kenal selama ini. Nabi Ishak memiliki dua orang anak, yaitu Esau dan Ya’kup. Yang kemudian dikenal sebagai Nabi Ya’kup, dan menjadi penerus Nabi Ishak. Ya’kup juga dikenal dengan nama Israel artinya orang yang berjalan dan berada di dalam lindungan Allah atau orang yang berjuang di jalan Allah. Peristiwa yang terjadi pada malam hari terkait dengan pengalaman spiritual itulah yang memberikan gelar Israel.
Nabi Yakup memiliki 12 putra, yang kemudian menjadi cikal bakal bagi Bani Israel atau 12 suku dari Bani Israel. Bangsa Yahudi berasal dari Suku Yehuda dan Bunyamin. Kerajaan Israel pecah menjadi dua pada abad ke 10 SM, dan dua suku Bani Israel, Yahuda dan Bunyamin mendirikan Kerajaan Yehuda (Yudea) yang beribukota di Yerusalem. Seirama dengan perkembangan zaman, maka istilah Yahudi dijadikan sebagai identifikasi khusus keturunan Kerajaan Yehuda, dan hingga sekarang mereka mengidentifikasi seperti itu.
Babak baru di dalam Sejarah Bani Israel adalah di kala mereka berpindah ke Mesir. 12 anak Yakup pindah ke Mesir pasca pembuangan Yusuf dan kemudian ditemukan para pedagang Mesir. Yusuf diadopsi dan seiring dengan kecerdasan dan wahyu kenabian, maka Yusuf menjadi pembesar di Kerajaan Mesir. Sebelas saudaranya kemudian menyusulnya terkait dengan kekeringan yang melanda wilayahnya. Oleh Yusuf kemudian diakui dan mereka menetap di Mesir. Akan tetapi watak bangsa Israel yang serakah, akhirnya mereka dikucilkan dan bahkan diusir dari tanah Mesir. Berkat Nabi Musa dan Nabi Harun maka mereka dapat kembali ke tanah yang dijanjikan yaitu Palestina dan Baitul Maqdis.
Nabi Musa dan Nabi Harun wafat sebelum mereka berhasil merebut Baitul Maqdis, tetapi dilanjutkan dengan Nabi Yesaya atau Nabi Ilyasa dan berhasil menaklukkan Baitul Maqdis. Dari sini kemudian jadilah Palestina menjadi Kerajaan dengan pemimpinnya yang terkenal yaitu Salul, lalu Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman. Karena konflik antar keturunan Nabi Sulaiman, maka Kerajaan itu lalu berganti-ganti di bawah kekuasaan pemerintahan asing, dan yang terakhir berada di dalam kekuasaan Kerajaan Romawi dan Bait Suci atau The Temple of Solomon kembali dihancurkan pada tahun 70 Masehi. Palestina berhasil direbut oleh Khalifah Umar bin Khatab, 530 M, atas bangsa Romawi, sehingga akhirnya banyak orang Arab yang bertempat di Palestina.
Palestina kemudian berada di dalam kekuasaan Turki Utsmani. Pada tahun 1897, Theodor Herzl memimpin Kongres Zionis Pertama. Di antara yang dijadikan program adalah untuk mendirikan negara Israel yaitu dengan bekerja sama dengan para banker Yahudi di Eropa. Dengan kekuatan dana tersebut, orang Yahudi pada datang ke Palestina dengan membeli tanah-tanah yang semula dikuasai oleh orang Arab. Setelah merasa kuat, maka lama kelamaan mereka menguasai wilayah di Palestina. Kala mereka sudah menguasai tanah-tanah yang lebih luas, maka mereka mengusir orang-orang Arab. Pada tahun 1897, Komisi Arab dibentuk untuk menghentikan penguasaan tanah oleh orang Israel, tetapi mereka sudah semakin kuat, sehingga tidak mudah untuk menghentikannya.
Dengan dukungan Inggris, yang berhasil mengadu domba dengan Kerajaan Turki Utsmani dan memeranginya 1915, Sharif Mekkah Hussein bin Ali, dijanjikan oleh Inggris untuk mendirikan negara Arab Saudi. Tetapi pasca Kemenangan Inggris di dalam Perang Dunia ke dua, maka Inggris semakin bernafsu untuk kendirikan Negara Israel, sehingga pada 2 November 1917, Bankir Yahudi, Walter Roschield dan Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, mendeklarasikan Negara Yahudi. Melalui deklarasi ini, maka semakin banyak imigran Yahudi yang datang ke Palestina. Dari sinilah kemudian dilakukan pengusiran besar-besaran atas orang-orang Arab, pada 1919. Silih benganti terjadi kekerasan terhadap etnis Arab yang dilakukan oleh Etnis Yahudi. Jadi, keinginan untuk membumihanguskan etnis Arab itu sudah semenjak semula direncanakan dan dilakukan.
Seirama dengan genosida atas etnis Yahudi di Eropa oleh Jerman, Hitler, maka semakin banyak etnis Yahudi yang menyeberang ke Palestina. Jumlah mereka yang semakin besar menjadikan Inggris dan sekutunya menghendaki agar negara Israel dipastikan. Inggris kemudian membagi dua wilayah Palestina, sebagian besar untuk Yahudi meskipun jumlah penduduknya lebih sedikit dan sebagian kecil lainnya untuk etnis Arab. Hal ini sebagaimana tercantum di dalam Resolusi PBB 181 (II) pada 29 November 1947, sehingga terjadilah kekerasan yang menggelora di Palestina. Terjadilah kekerasan social dan puncaknya 800 ribu etnis Arab dibinasakan. Etnis Arab kemudian berpencar ke Gaza, Tepi Barat, Suriah dan Mesir.
Secara kenegaraan, Palestina kemudian mendeklarasikan kemerdekaan pada 22 September 1948. Dan pada tahun 1964, Yasser Arafat mendirikan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di pengasingan dan mendapatkan persetujuan dari negara-negara Arab. Pertempuran terus terjadi sepanjang tahun tersebut. Adakalanya Israel yang memulai menyerang, misalnya dalam serangan atas Mesir dan juga serangan-serangan atas wilayah Gaza. Tetapi kebanyakan tentara Israel berhasil mengalahkan negara-negara lainnya di semenanjung karena kekuatan senjatanya yang dibantu oleh Amerika dan Inggris serta sekutunya.
Hingga sekarang, pertempuran itu tidak pernah berhenti. Kekerasan terhadap Palestina nyaris setiap hari terjadi. Kekerasan di luar batas kemanusiaan, yang membuat orang-orang yang waras merasakan betapa besarnya penderitaan warga Palestina. Kita sungguh tidak tahu, kapan perang ini akan berakhir.
Wallahu a’lam bi al shawab.

