Perempuan Gen Z: Menikah Bukan Tujuan, Kesetaraan Adalah Kebutuhan
InformasiEva Putriya Hasanah
Zaman telah berubah, dan begitu pula cara perempuan memandang kehidupan, cinta, dan pernikahan. Generasi Z, khususnya perempuan, tumbuh di tengah derasnya arus informasi dan pergeseran nilai-nilai sosial yang cukup signifikan. Mereka menyaksikan langsung bagaimana generasi sebelumnya menjalani kehidupan rumah tangga dengan banyak luka yang dipendam, ambisi yang diredam, dan suara yang sering diabaikan.
Kini, perempuan Gen Z belajar untuk tidak lagi kembali ke pola itu. Mereka menginginkan hal yang berbeda.
Bagi perempuan Gen Z, menikah bukan lagi tujuan hidup yang sakral dan wajib tercapai sebelum usia 30 tahun
Dulu, ada semacam “tenggat waktu” sosial tak tertulis yang menekan perempuan untuk menikah sebelum usia tertentu—biasanya 25 atau 30 tahun. Terlambat menikah sering dianggap sebagai kegagalan, bahkan oleh lingkungan terdekat.
Tapi Gen Z, dengan kepercayaan diri dan akses pada banyak perspektif baru, mulai mengungkap paket tersebut. Mereka tak lagi memandang pernikahan sebagai destinasi utama dalam hidup. Menikah, bagi mereka, adalah pilihan sadar, bukan tuntutan sosial. Dan jika pilihan itu diambil, maka harus disertai dengan satu syarat mutlak: kesetaraan.
Mereka bukan cuma butuh pasangan yang romantis, tapi juga paham hubungan yang setara
Gen Z perempuan paham bahwa cinta saja tidak cukup. Chemistry dan rasa sayang tak akan bisa menutupi ketimpangan peran dalam hubungan. Oleh karena itu, banyak dari mereka mulai bertanya lebih kritis:
Baca Juga : Menjaga Marwah NU
“Apakah pasangan ini bisa berbagi tugas domestik merasa tanpa 'membantu'?”
“Apakah dia bisa mendengarkan tanpa meremehkan pendapatku?”
“Apakah dia bisa menjadi rekan hidup, bukan atasan atau penentu arah tunggal?
Bagi perempuan Gen Z, kesetaraan gender bukan sekedar jargon. Ia adalah perenang cinta. Hubungan tanpa kesetaraan hanya akan menjadi jebakan yang membungkam dan melelahkan.
Mereka lebih memilih mandiri daripada masuk ke hubungan yang mengancam kebebasan
Satu hal yang menarik dari perempuan Gen Z: mereka punya keberanian untuk memilih sendiri arah hidupnya. Banyak yang memilih fokus membangun karier, mengejar pendidikan tinggi, bepergian sendiri, bahkan hidup sendiri—dan merasa cukup.
Karena bagi mereka, hidup yang utuh tidak bergantung pada status hubungan. Ketimbang buru-buru menikah lalu kehilangan diri, mereka lebih memilih menunda atau bahkan menolak pernikahan yang dirasa tidak sehat. Ini bukan soal anti-nikah, tapi soal menciptakan ruang hidup yang adil, sehat, dan saling menghargai.
Baca Juga : Jokowi, Organisasi Keagamaan dan Pertambangan
Cinta, bagi mereka, bukan tempat mengabdi.
Menjadi istri, bukan berarti berhenti menjadi diri sendiri.
Relasi patriarkal bukan hal yang bisa menjadi toleransi mereka
Generasi ini tumbuh dengan kesadaran bahwa struktur patriarki dalam rumah tangga bisa sangat merugikan perempuan—dari beban kerja domestik yang sepihak, memegang peran, sampai peminggiran suara dan pendapat.
Perempuan Gen Z menolak semua itu. Mereka tidak mau jadi “istri ideal” versi masyarakat yang harus serba bisa, serba sabar, dan serba mengalah. Mereka ingin menjadi istri yang tetap punya suara, punya ruang, dan punya pilihan.
Dan jika hubungan seperti itu tidak bisa didapat, mereka siap untuk tetap sendiri, dengan damai.
Mereka tidak takut “terlambat” menikah—karena hidup bukan lomba
Mungkin bagi sebagian orang, keputusan Gen Z perempuan yang menunda atau melakukan pernikahan dianggap aneh, egois, bahkan menyalahi kodrat. Tapi sebenarnya, yang mereka lakukan justru membentuk cinta paling sehat terhadap diri sendiri.
Baca Juga : Kritik Tekstual dalam Memahami Hadis
Mereka sadar bahwa menikah bukanlah solusi untuk hidup yang hampa, dan status pernikahan tidak menentukan nilai seseorang. Mereka percaya bahwa kebahagiaan bisa dibangun sendiri, dan cinta yang baik akan datang pada waktu yang tepat—bukan karena dikejar tenggat waktu, tapi karena sama-sama siap.
Pada akhirnya, perempuan Gen Z hanya ingin dicintai tanpa harus kehilangan dirinya
Cinta itu indah, tapi hanya jika dijalani dalam hubungan yang aman dan setara. Perempuan Gen Z tahu bahwa mereka layak mendapatkan cinta yang sehat—yang memberi ruang, bukan mengurung; yang menguatkan, bukan membesarkan.
Dan sampai cinta itu datang, mereka akan terus berjalan. Menjadi versi terbaik dirinya, dengan atau tanpa pasangan.
Karena bagi mereka, kesetaraan bukanlah opsi—tapi kebutuhan.

