(Sumber : www.nursyamcentre.com)

"Golek Slamete Dewe"

pepeling

Oleh: Suko Susilo

  

Tentu sering kita dengar dan lihat ajakan untuk mencintai Indonesia. Semuanya gencar tersiar untuk mengingatkan agar kita tak semakin kalap mencintai setiap yang berbau luar negeri. Tak semakin lalai mencintai bangsanya sendiri, budayanya sendiri, dan tanah airnya sendiri.

  

Ketidakcintaan pada bangsa sendiri tampak ketika sebagian rakyat Indonesia tertimpa musibah. Partisipasi untuk membantu sangat rendah. Kalau ada, terkesan sangat resmi, prosedural, dan tak maksimal. 

  

Berita tabrak lari menghias berita hampir tiap hari. Sementara menabrak kucing segera berhenti, meratap dan sangat menyesali. Aneh, menabrak binatang segera berhenti, menabrak bangsa sendiri ditinggal lari.

  

Abai pada budaya sendiri, justru memberi puja puji pada budaya lain negara. Globalisasi dikatakannya sebagai realitas yang tak bisa dihindari. Bahasa Inggris menjadi prasyarat yang harus dikuasai tak boleh terlambat. 

  

Kemaruk Nginggris lebih nyata dibanding sekedar memelihara kebisaan berbahasa Jawa. Bicara dengan teman di desa, diselang-seling kosa kata asing bermaksud pamer otak encer. Berlagak pinter, tapi kesan yang muncul justru dungu keblinger.

  

 Ketidakcintaan pada tanah air tampak misalnya ketika terjadi kebakaran hutan nyaris tidak ada penanganan memadai. Udara dan air tercemar tak tertangani. Justru memaksa warga sekitar menunggu solusi dengan sabar.  

  

Wonderful Indonesia maunya dipromosikan untuk orang Indonesia yang suka berwisata ke lain negara. Lebih bangga bercerita keliling Eropa dan Amerika dari pada keliling Sumatra dan Papua yang menyimpan keindahan bagai surga. 


Baca Juga : RUU SISDIKNAS: Siapkah Semua PTN/PTKN Menjadi PTN-BH?

  

Ketidakcintaan pada produk dalam negeri jangan ditanya lagi. Kebanggaan membeli dan memakai produk luar negeri kini kian menjadi-jadi. Dianggapnya semua yang datang dari luar negeri pastilah hebat, eksklusif, dan bergengsi. Harga tinggi dianggap tinggi juga gengsinya. 

  

Seharusnyalah kita mencintai tanah air dan bangsa sendiri. Bersama mereka kita berjuang dan tumbuh berkembang. Di tanah Indonesialah kita dibesarkan. Makan, minum, bermain dan bernafas di tanah air Indonesia nan elok permai. Tanah tumpah darah yang kandungan alamnya sungguh kaya bagai untaian permata. Kaya alamnya, miskin warganya.

  

Dari dulu hingga kini kemiskinan tak juga turun dari jumlah yang tinggi. Bahkan jadi kemiskinan turun temurun. Makin banyak manusia Indonesia mengais rejeki di luar negeri. Nasib mujur bisa kirim biaya sekolah dan membangun rumah. Yang tak mujur bawa pulang aib setelah disiksa dan diperkosa majikannya.

  

Banyak sebab hal demikian terjadi. Sebab yang paling nyaring terdengar adalah karena bangsa kita bukanlah bangsa pekerja keras alias pemalas. Ingin kaya, jalan korupsi yang dilalui. Tak mau kerja keras malah pasang wajah memelas meminta-minta. 

  

Ketidakadilan disejumlah aspek kehidupan bukanlah penyebab yang ingin diakui. Keadilan sosial diingkari dengan dalih yang dicari-cari. Tak peduli saudara sebangsa terkapar lapar. Yang penting hidup diri dan keluarganya tak terancam berbagai macam penderitaan. 

  

Di masa pandemi ini, kesuraman realitas makin mengarahkan kita untuk tidak sekedar mencintai segala hal yang berbau Indonesia, tetapi bergerak mengerucut ke arah yang lebih mencintai diri sendiri. Semua tersebab rongrongan rasa takut yang amat sangat tertular virus korona. Tanpa terasa, sebenarnya kita semakin individualistik. Semakin berpikir untuk keselamatan diri sendiri atau dalam ungkapan Jawa disebut golek slamete dewe

  

Kita tidak mau repot-repot jika sesuatu sedang terjadi di luar diri dan keluarga kita. Cuma jadi penonton kecelakaan tanpa peduli nyawa sesama perlu diselamatkan, Takut dijadikan saksi dalam persidangan terlebih-lebih takut jangan-jangan korban kecelakaan itu membawa virus korona. Segera tancap gas dan lari saat ada yang teriak minta tolong sekedar membawa korban ke puskesmas. Buaangsat….

  


Baca Juga : Makna Kehidupan Dunia Bagi Mereka Yang Lengah: Telaah al-Hadid [57]: 20 Perspektif Tafsir Al-Mishbah

Nasionalisme kita sungguh kian rendah. Acuh dan tidak mau tahu saudara sebangsa sedang tertimpa musibah. Ikatan sosial kita sangat longgar untuk merasa senasib sepenanggungan.

  

Jangan-jangan pada dasarnya bangsa kita ini sebenarnya bukan berciri guyub rukun, saling tolong dan suka gotong royong. Jangan-jangan justru individualistik. Bahkan untuk pengertiannya yang negatif. Kita terbiasa untuk berpikir demi keselamatan dan keuntungan diri sendiri. 

  

Golek slamete dewe adalah ungkapan Jawa klasik yang semakin menunjukkan kebenarannya. Kita menjadi ketakutan, kebingungan, dan panik bila sejumlah cobaan menghampiri diri dan keluarga kita. Di luar itu bukan urusan.

  

Di tengah gencarnya ajakan mencintai Indonesia, sejumlah orang kaya sangat bergairah menyambutnya. Sembako dibagi untuk yang sedang bernasib malang. Selimut dan pakaian dikirim agar korban longsor tak menggigil kedinginan saat malam. Keluar masuk pasar memborong berbagai produk Indonesia. Sekalipun sebenarnya bukan untuk diri dan keluarganya. Tapi ternyata hanya untuk pembantunya. 

  

Semua disorot kamera dan ditulis jadi judul berita. Semua itu dilakukan untuk tanda mencintai Indonesia serta peduli sesama. Agar orang mengakui bahwa Indonesia memang betul tanah airnya. Mungkin saja sambil berharap semua pertunjukan itu akan memuluskan niatnya ikut pilkada tahun depan.

  

Seandainya, saya memiliki banyak uang, saya pasti berkemampuan memenuhi ajakan mencintai Indonesia. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki ? Yang sedikit rupiah saja harus didapat dengan susah payah ? 

  

Bagaimana dengan kakek renta pemecah batu di dasar kali ? Nenek yang terbungkuk-bungkuk terpanggang siang mencari kayu bakar di tepian hutan ? Hasil kerja mereka hanya cukup untuk makan sehari. Apakah perlu mereka kita paksa mencintai Indonesia dan memikirkan keselamatan orang lain sementara diri sendiri saja tak cukup kuat melawan pandemi ?

  

Di tengah jaman yang dipenuhi pikiran golek slamete dewe, saya menjadi ragu apa kita masih perlu memikirkan nasib mayoritas bangsa kita sendiri ? Miris ….