Wak Toe
pepelingOleh: Jambedaweh
Bagi siapapun Anda yang berkenan menikmati catatan ini, saya mohon berkenan membacakan surat al-Fatihah untuk figur yang akan kita cermati sebagian sikap hidupnya pada kesempatan yang baik ini. Untuk Wak Toe, al-Fatihah.
Tiap pagi sebelum embun menguap dari ujung rerumputan, Wak Toe sudah bertandang sowan ke rumah Kyai Murod, guru sekaligus tetangganya. Pisowanan itu kaprahnya ia lakukan hanya untuk satu hal, merawat beberapa Kambing Kibas Kyai Murod yang jumlahnya puluhan ekor. Perawatan kambing sebagai wujud khidmah pada guru. Pemeliharaan itu dimulai dari memeriksa kondisi kambing, membersihkan kandang, dan yang terpenting adalah menyediakan rumput untuk ternak yang mudah berkembang biak tersebut. Di samping kandang terlihat secangkir wedang kopi dan sebungkus rokok kretek yang disediakan sendiri oleh Kyai Murod khusus untuk Wak Toe.
Biasanya, Wak Toe hanya sekali dalam sepekan mengeluarkan kambing-kambing itu dari kandang, dan menggembalakannya di sekitar padang rumput di pinggiran desa. Selebihnya, Wak Toe hanya melakukan pemeliharaan tanpa mengeluarkan hewan peliharaan tersebut dari kandangnya. Pada saat kira-kira matahari naik sepenggalah, Wak Toe beranjak ke sebuah petak sawah yang menjadi garapannya sehari-hari. Itulah pekerjaan Wak Toe, sebatas buruh penggarap sawah.
Ketika sinar matahari memanas dan embun sudah menguap habis dari ujung rerumputan, biasanya Wak Toe terlihat berjongkok di satu sudut padang rumput atau pematang persawahan untuk menyabit rumput bagi kambing Kyai Murod. Sebenarnya, Wak Toe juga memiliki beberapa Kambing Kibas yang diperolehnya dari pemberian Kyai Murod. Tapi, sebagian besar rumput hasil sabitannya memang untuk keperluan kambing-kambing gurunya itu karena memang jumlahnya lebih banyak dari kambingnya sendiri. Topi caping dari dari bambu yang lebarnya sekitar semeter digunakannya saat menyabit rumput sekedar untuk melindungi tubuhnya dari panas sinar Mentari.
Sore hari selepas shalat ashar, Wak Toe kembali mengunjungi kandang kambing gurunya. Melakukan beberapa pemeriksaan ulang, dan yang terpenting menyiapkan diang, semacam perapian dari ilalang yang fungsi utamanya untuk penghangat situasi dan mengusir nyamuk. Di tungku perapian itu terkadang disertakan beberapa umbi-umbian yang ditaruh di bawah ilalang agar matang oleh bara di atasnya. Umbi-umbian ini dikonsumsi saat malam atau pagi hari bila Wak Toe kembali melakukan tugasnya. Umbi-umbian yang dibakar biasanya singkong, ganyong, talas, gembili, dan garut.
Rutinitas sore berbeda dengan kebiasaan pagi hari. Minimal hal itu dapat dilihat dari pakaian yang dikenakan Wak Toe. Bila pagi pakaian dinasnya adalah kaos oblong, celana klomprang, caping, dan sabit. Tapi bila sore Wak Toe bercelana klomprang, berbaju koko, berpeci hitam usang, dan berselempangkan sarung yang dua sisi lobangnya telah banyak berpilin. Sarung itulah yang dikenakannya saat mengikuti jamaah shalat. Kopi dan sebungkus rokok juga disiapkan sendiri oleh Kyai Murod, tapi saat sore diletakkan di beranda luar surau, dan terkadang di bawah lepeknya diletakkan juga beberapa uang untuk Wak Toe.
Memang setelah dianggap cukup melakukan pemeriksaan dan menyiapkan diang, Wak Toe bergeser ke surau panggung di depan rumah Kyai Murod. Memenuhi bak air dan padasan untuk keperluan jamaah serta warga sekitar, lalu menyapu surau itu. Tikar pandan untuk sementara digulung untuk memudahkannya menyapu lantai. Bila tugas itu sudah rampung, sambil menunggu waktu maghrib tiba, Wak Toe biasanya terlihat menikmati kopi dan rokok yang disiapkan gurunya.
Baca Juga : Prabowo dalam Upaya Mengentas Kemiskinan
Bila masuk waktu maghrib, tugas Wak Toe adalah memukul kentongan sebagai tanda masuk waktu shalat, lalu mengumandangkan adzan yang saat itu tanpa pengeras suara. “Tung tung tung tung” Suara kentongan dari kayu jati bertalu-talu terdengar khas setelah dipukulnya dengan kayu dari akar pohon nangka berwarna hitam mengkilat. Adzan lalu dikumandangkan. Suaranya kecil tapi sumbang melengking, ditambah dengan cengkok yang sangat tidak jelas. Walaupun begitu, suara adzan itu sudah akrab di telinga warga sekitar surau. Bahkan mereka juga akrab dengan tak fasihnya Wak Toe melafadzkan beberapa kalimat adzan. “Hayya ‘alal palaaah! Hayya ‘alal palaaah!” Begitulah salah satu kalimat dari panggilan ilahi itu dikumandangkannya.
Para remaja di kampung kami kerap tersenyum sinis yang mengandung olokan saat mendengar Wak Toe sampai pada kalimat itu. Bahkan anak-anak warga kampung kami juga menirukan suara dan gaya adzan itu saat mereka bermain di siang hari. Demonstrasi adzan yang tujuannya untuk bergurau, tapi secara langsung mengolok-olok pemilik gaya tersebut. Wak Toe sendiri bukannya tidak tahu atas kelakuan anak-anak kampung tentang gaya adzannya karena memang terkadang diatraksikan dengan sengaja di hadapan Wak Toe. Tapi dia tetap cuek dan terus melakukan hal serupa sampai bertahun-tahun lamanya. Begitulah bullying itu diterimanya tanpa respon sedikitpun. Bahkan, kalangan orang tua juga terkadang mengkritik gaya adzan Wak Toe. Tapi kritik itu mereka sampaikan antar mereka sendiri, sehingga lebih tepat menjadi sebuah pergunjingan.
Saat berjamaah shalat, Wak Toe tidak bertempat khusus di surau itu. tapi biasanya ia memilih tempat di sisi paling kiri di belakang Kyai Murod sebagai imam shalat. Tentu kebiasaan ini akan dicap tidak utama oleh sebagian orang di zaman ini yang kerap berburu pengamalan sunnah dengan satu pemahaman bahwa sisi kanan imam lebih utama dari sisi kiri.
Alasan pemilihan posisi Wak Toe dalam jamaah itu agaknya baru terfahami saat gerakan shalat sampai pada duduk akhir sebelum salam. Cara duduk tasyahud akhir yang biasa disebut dengan duduk tawarruk tersebut, dilakukan Wak Toe dengan cara yang unik. Tungkai kaki kanannya terlihat sangat sulit ditekuk yang mengakibatkan kaki kanan itu lebih menyamping ke kanan kanan dan tubuhnya secara ekstrim sangat condong ke arah kiri. Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa orang yang ada di sisi kirinya akan tersandari tubuhnya yang kecil. Bahkan bisa jadi orang di sisi kirinya akan merasa terganggu dengan gaya duduk tawarruk-nya tersebut. Cara duduk itu menunjukkan bahwa ruas tulang-tulang Wak Toe sudah cukup tua saat mulai dibiasakan dengan gerakan tersebut. Maka mafhumlah bila ia selalu memilih sisi paling kiri di belakang imam saat berjamaah agar tidak ada yang terganggu oleh kemiringan tubuhnya.
Badannya kecil berkulit gelap, namun tegap dan kekar lengkap lengan otot-otot yang terlihat jelas di tangan dan kakinya. Ditambah dengan cara jalannya yang cepat, gerakannya yang lincah dan cekatan, menandakan bahwa Wak Toe merupakan orang yang sudah terbiasa bekerja keras secara fisik. Itulah beberapa lintasan ingatan yang dapat tergali kembali dari Wak Toe. Orang biasa dan tak tampak sama sekali keistimewaannya, kecuali keahliannya merawat kambing. “Tangane teles” (tangannya basah), begitulah istilah yang biasa diberikan warga kampung kami pada orang yang ahli memelihara hewan ternak. Sedangkan, rutinitas Wak Toe membersihkan surau, adzan, dan berjamaah sekali lagi tak dianggap istimewa karena tertutupi oleh bacaan “hayya ‘alal palaah” yang dianggap tidak begitu benar tersebut.
Mungkin ketidak-istimewaan tersebut akan terus tersembunyi bahkan setelah Wak Toe meninggal sekitar 30 tahun yang lalu, kecuali saat ada peristiwa yang mengguncangkan di kampung kami. Tidak tahu oleh sebab apa, pada suatu malam area pekuburan kami mengalami kelongsoran di beberapa sudutnya. Memang pemakaman tersebut terlihat seperti bukit kecil dengan pohon-pohon besar yang memberi kesejukan dan kerindangan, bahkan di saat kemarau sekalipun.
Longsor yang paling paras terjadi di sisi bawah makam, dekat dengan pohon ringin contong, sebuah pohon beringin besar yang batangnya miring meliuk ke selatan. Akibat longsor itu, banyak makam rusak dan memerlukan perbaikan, atau pemakaman ulang. Bahkan ada beberapa tulang kerangka manusia yang berserakan tanpa diketahui siapa pemiliknya. Salah satu yang menggemparkan adalah munculnya jenazah dengan tubuh yang masih utuh dan kain mori yang tak lapuk, walau terlihat kotor. Bahkan tak terlihat kerusakan sedikitpun dari jenazah itu. Ternyata itu adalah jenazahnya Wak Toe.
Walau cukup membuat kegemparan, tapi oleh tetua kampung kami, secepatnya dilakukan renovasi makam dan juga upacara penguburan kembali beberapa tulang yang tersembul. Tentu juga jenazah Wak Toe dimakamkan ulang dengan iringan decak kagum oleh orang-orang di kampung kami. Bahkan banyak di antara kami yang menelisik cerita seakan ingin mencari rahasia “kesaktian” Wak Toe sampai jenazahnya bisa utuh setelah puluhan tahun terkubur. Penelisikan yang sangat bersemangat seolah-olah jenazah utuh adalah prestasi yang sangat diidamkan, minimal saat itu. Maka fenomena terkuaknya keutuhan jenazah Wak Toe mempengaruhi kesalehan sebagian besar warga kampung kami. Terlihat mereka jadi lebih giat berjamaah, mengikuti majelis dzikir, dan bersaleh diri dengan cara masing-masing. Bahkan ada yang membeli beberapa kambing dan merawatnya sendiri hanya sekedar itba’ kehidupan Wak Toe.
Bagi warga yang berusia belum genap 40 tahun dan meskipun terlahir di kampung kami, bisa dipastikan bahwa mereka tidak memiliki gambaran tentang profil Wak Toe dalam ingatan mereka. Kecuali informasi yang mereka dapatkan dari warga lain yang lebih sepuh dan kebetulan mengetahui kehidupan Wak Toe, atau beberapa keluarga Wak Toe yang kini tinggal generasi cicit-cicitnya. Tapi lebih sulit lagi menguak keistimewaan atau kekeramatan Wak Toe, sehingga peristiwa longsornya pemakaman dan utuhnya jenazah Wak Toe mulai terlupakan.
Apakah ketulusan khidmah Wak Toe dengan merawat kambing Kyai Murod sebagai penyebab jenazahnya utuh? Ataukah sebab istiqomahnya menyediakan air bersuci, menyapu surau, menabuh kentongan, adzan dengan gaya “hayya ‘alal palah”, atau jamaah shalat dengan gaya duduk tawarruk-nya yang khas? Tidak ada yang bisa memastikan semuanya itu berkaitan. Satu hal yang pasti, bahwa Wak Toe telah memilih sebuah pilihan atas jalan hidupnya. Lalu setelah 30 tahun, Allah Yang Maha Abadi memilih Wak Toe sebagai bukti dari keabadian dan kebenaran pilihan hidup tersebut. Lantas, apa pilihan hidup kita menuju keabadian?

