Dari Praktik ke Metafisika: Evolusi ‘Stasiun’ Spiritual dalam Pemikiran Ibn ‘Arabī
Riset AgamaArtikel berjudul “From Practice to Metaphysics: The Evolution of Spiritual Stations in Ibn ‘Arabī’s Thought” merupakan karya Muhammad Ahmad Ibrahim Aljahsh. Tulisan tersebut terbit di Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam. Jurnal tersebut berupaya untuk membaca kembali perkembangan konsep maqāmāt (stasiun-stasiun spiritual) dalam pemikiran Ibn ‘Arabī. Penulis menegaskan bahwa perkembangan konsep ini tidak dapat dipahami hanya sebagai bagian dari disiplin tasawuf, melainkan harus ditempatkan dalam konteks perubahan besar dalam struktur pemikiran Islam pascaklasik. Tradisi tasawuf yang diwariskan oleh Sarrāj, al-Qushayrī, dan al-Harawī menggambarkan maqām sebagai posisi spiritual yang diperoleh melalui latihan, mujahada, dan disiplin diri. Namun, Ibn ‘Arabī melalui pemikiran metafisiknya, melakukan transformasi yang signifikan: dari sekadar praktik etis menjadi sebuah sistem metafisika yang menggambarkan susunan kosmos, ontologi wujud, dan relasi antara Tuhan, manusia, dan alam.
Melalui pendekatan filologis dan analitis terhadap al-Futūhāt al-Makkiyyah, penulis memetakan mekanisme perubahan tersebut. Ia menunjukkan bahwa Ibn ‘Arabī membawa konsep maqām jauh melampaui pemahaman psikologis dan etisnya, sehingga menjadi struktur penyingkapan Ilahi dalam realitas. Bagian pendahuluan artikel ini menekankan bahwa transformasi itu bukan sekadar reinterpretasi, tetapi perubahan paradigma, yang menandai perpindahan tasawuf dari tradisi mistik etis menuju mistik metafisis. Terdapat enam sub bab dalam artikel tersebut. Pertama, latar historis maqāmāt dalam tradisi sufi. Kedua, konseptualisasi baru maqāmāt oleh Ibn ‘Arabī. Ketiga, arsitektur triadik maqāmāt. Keempat, dimensi epistemologis dan hermeneutis. Kelima, kontroversi dan perdebatan tradisi. Keenam, implikasi filosofis dan dialog lintas tradisi.
Latar Historis Maqāmāt dalam Tradisi Sufi
Tinjauan historis mengenai konsep maqāmāt mengungkap bahwa para sufi awal memandang maqām sebagai tahapan moral dan spiritual yang dilalui seorang salik melalui usaha kesungguhan. Para tokoh seperti al-Sarrāj dan al-Qushayrī menempatkan maqām sebagai ruang internal yang menuntut kestabilan karakter. Perjalanan spiritual dianggap bersifat bertahap, linier, dan membutuhkan penguasaan mental yang kokoh sebelum berpindah ke tahapan berikutnya. Pemahaman ini menggambarkan dunia tasawuf sebagai arena pembentukan diri, dengan fokus kuat pada pengendalian hawa nafsu dan penyucian batin. Inilah kerangka awal yang kemudian ditantang oleh gagasan-gagasan Ibn ‘Arabī.
Konseptualisasi Baru Maqāmāt oleh Ibn ‘Arabī
Berdasarkan pemikiran Ibn ‘Arabī, maqām tidak lagi dipahami sebagai tingkatan etis atau psikologis, melainkan sebagai tempat tajallī, yaitu titik di mana Nama-Nama Tuhan menyingkapkan diri. Ibn ‘Arabī menghapus sifat hirarkis maqām dengan menunjukkan bahwa setiap stasiun spiritual tidak bersifat tetap, tetapi menyajikan wujud baru pada setiap kemunculannya. Perjalanan seorang salik bukan lagi perjalanan bertahap dari satu maqām ke maqām lain, melainkan serangkaian pengalaman penyingkapan Ilahi yang masing-masing unik, tidak berulang, dan selalu melibatkan transformasi wujud manusia itu sendiri. Dengan demikian, maqām berubah dari etika menjadi ontologi; dari disiplin moral menjadi bentuk keberadaan.
Arsitektur Triadik Maqāmāt
Penulis artikel menemukan struktur triadik dalam gagasan maqām Ibn ‘Arabī, meskipun tidak diwujudkan secara eksplisit oleh sang sufi. Maqām membentang dalam tiga dimensi yang saling terkait: kosmik, spiritual, dan ontologis. Maqām kosmik menggambarkan bagaimana Nama-Nama Tuhan mengoperasikan struktur semesta; maqām spiritual menandai bagaimana Nama-Nama tersebut tercermin dalam diri manusia sebagai mikrokosmos; sementara maqām ontologis menunjukkan bahwa seluruh realitas, pada tingkat terdalamnya, adalah medan keberadaan yang terus berubah melalui proses penyingkapan Ilahi. Struktur ini menunjukkan bahwa maqām bukan lagi konsep tunggal, tetapi jaringan menyeluruh yang mengikat kosmos dan manusia dalam satu arsitektur wujud.
Baca Juga : Ritual "Islam Jawa"
Dimensi Epistemologis dan Hermeneutis
Dimensi epistemologis maqām menegaskan bahwa pengetahuan spiritual tidak hanya berupa informasi atau pemahaman tekstual, tetapi pengalaman ontologis yang mengubah keberadaan manusia. Setiap maqām membawa jenis pengetahuan yang tidak dapat direduksi menjadi kata-kata, karena pengetahuan itu berasal dari pengalaman langsung dengan tajallī Ilahi. Di sisi lain, maqām juga menjadi kerangka hermeneutis, yang membuat perbuatan ritual seperti shalat dipahami bukan hanya sebagai kewajiban syariat, melainkan sebagai peristiwa kosmik yang melibatkan struktur terdalam realitas. Jadi, maqām berfungsi ganda: sebagai prinsip transformasi diri dan sebagai alat pembacaan kosmik.
Kontroversi dan Perdebatan Tradisi
Pembahasan dalam artikel juga menyinggung berbagai kritik terhadap pemikiran Ibn ‘Arabī. Beberapa tokoh seperti Ibn Taymiyya menuduh bahwa pemikiran Ibn ‘Arabī meleburkan batas antara Tuhan dan makhluk. Penulis menunjukkan bahwa kritik tersebut muncul karena kesalahpahaman terhadap konsep huwa/lā huwa, yakni relasi paradoksal antara keberadaan Tuhan dan dunia. Dalam tradisi modern, para sarjana seperti Chittick, Morris, dan Rustom memiliki beragam interpretasi; ada yang menyebut pemikiran Ibn ‘Arabī sebagai kelanjutan tradisi tasawuf, ada yang menganggapnya sebagai radikalisasi, sementara sebagian melihatnya sebagai sintesis baru antara tasawuf dan metafisika.
Implikasi Filosofis dan Dialog Lintas Tradisi
Pada bagian penutup, penulis artikel membahas bagaimana pemikiran Ibn ‘Arabī berpengaruh pada filsafat Islam pascaklasik, terutama pemikiran Mulla Ṣadrā. Gagasan Ṣadrā mengenai intensitas wujud, gerak substansial, dan keutamaan eksistensi menunjukkan jejak mendalam tradisi Akbarian. Selain itu, struktur maqām yang berlapis memungkinkan dialog lintas tradisi dengan fenomenologi, filsafat eksistensial, dan kajian mistik perbandingan. Gagasan Ibn ‘Arabī tidak hanya penting bagi tasawuf, tetapi juga bagi filsafat agama secara global.
Artikel tersebut memberikan kontribusi besar dalam memahami perkembangan maqāmāt dalam pemikiran Ibn ‘Arabī. Salah satu kekuatan utamanya adalah penggunaan sumber primer secara intensif, terutama al-Futūhāt al-Makkiyyah, sehingga narasi yang dibangun memiliki fondasi historis dan tekstual yang kuat. Penjelasan tentang transformasi maqām dari konsep etis menuju entitas ontologis menjadi salah satu temuan paling signifikan, karena membantu melacak perubahan besar dalam cara para sufi berpikir tentang perjalanan spiritual. Selain itu, pembacaan penulis terhadap struktur triadik maqām membuka ruang baru bagi interpretasi metafisika Ibn ‘Arabī, yang selama ini tidak dirumuskan secara sistematis oleh para peneliti sebelumnya.
Meski demikian, artikel tersebut juga memiliki beberapa catatan penting. Fokus yang sangat besar pada Futūhāt membuat gambaran tentang maqām menjadi kurang lengkap karena minimnya eksplorasi terhadap Fuṣūṣ al-Ḥikam, yang justru merupakan karya kunci dalam memahami ontologi Ibn ‘Arabī. Keterlibatan murid-murid Ibn ‘Arabī seperti Ṣadr al-Dīn al-Qūnawī juga tidak banyak dibahas, padahal mereka memainkan peran vital dalam mendorong pemikiran Akbarian masuk ke ranah filsafat. Walau begitu, kekurangan ini tidak mengurangi nilai artikel secara keseluruhan, karena kontribusi analitisnya tetap sangat signifikan.

