(Sumber : Kumparan )

Fenomena Ziarah Kontemporer

Riset Agama

Artikel berjudul “Visiting a Sufi Shaykh: A Contemporary Experience of Religious Pilgrimage” merupakan karya Makhabbad Maltabarova dari Friedrich Schiller University Jena, Jerman. Tulisan ini terbit di Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam “Teosofi” tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis dan etnografis dengan subjek dalam penelitian ini adalah komunitas Sufi Naqshybandi Haqqani di Lefke, Siprus. Fokusnya adalah ziarah ke guru sipiritual Sufi dan merenungkan kontribusinya terhadap pemhaman perjalanan, pariwisata dan ziarah di dunia pasca sekular. Di Lefke, ada makam Syekh Sufi yang biasa di datangi oleh para peziarah, baik muslim maupun non muslim. Terutama, mereka yang berasal dari Amerika dan Eropa. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, bertatap muka. Ketiga, kebutuhan berada di tempat. Keempat, Kebutuhan Momen. 

  

Pendahuluan

 

Akhir-akhir ini, fenomena haji mendapat perhatian akademis yang sangat besar dalam berbagai bidang penelitian. Salah satunya adalah Victor Turner dalam tulisannya yang berjudul “Image and Pilgrimage in Christian Culture.” Ia menjelaskan bahwa ziarah sebagai institusi temporal yang terlibat dalam proses dan fungsi sosial. Turner juga menekankan pentingnya konteks, atau kondisi teologis dan tradisi rakyat sebelum ziarah dan memberi makna, serta simbol yang mewakili pengalaman ziarah. Ziarah dimulai sebagai aktivitas individu dan sukarela yang mencakup keputusan, harapan, tujuan, dan pengalaman pribadi. Hal yang harus digaris bawahi adalah makna ziarah dapat berubah, tergantung pada banyak faktor eksternal dan internal. Oleh sebab itu, motivasi awal dan pengalaman menjadi dua hal yang harus dipertimbangkan. 

  

Pengalaman sakral yang awalnya dirasakan diri sendiri, secara bertahap berubah menjadi konsumsi publik, terutama ketika para peziarah sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Ziarah dalam masyarakat pasca-sekular memiliki makna sosial budaya dan politik yang besar. Makna ziarah semakin menguat dan menggambarkan semakin pentingnya agama dalam konteks sosial, budaya dan politik. Berdasarkan perspektif ini, tumbuhnya kesadaran sosial dan budaya Islam dalam masyarakat global seakan dijelaskan oleh pentingnya ziarah sebagai penguatan kesadaran identitas dalam komunitas.  

  

Bertatap Muka 

  

Mengapa perjalanan terjadi? Pertanyaan ini dijawab oleh salah satu akademis bernama John Urry dalam tulisannya berjudul “Mobility and Proximity.” Ia menjelaskan bahwa perjalanan adalah tentang momen sesaat dari kedekatan fisik dengan orang lain, tempat dan perasaan. Perjalanan termasuk kebutuhan jasmani yang menyenangkan, dibutuhkan, bahkan diinginkan. 

  

Cabang Naqsybandi Haqqani didirikan oleh Syekh Nazim Adil al-Haqqani yakni salah satu tarekat Sufi yang paling berpengaruh dan aktif secara sosial dan politik di dunia. asal usul tarekat ini dalam tradidi Guru Agung, Khwajagan, yang tumbuh subur dari adab 13 hingga 16 di Asia Tengah. Kemudian, menyebar ke Anatolia, Turkestan Timur dan India. Pada abad 19, tarekat tersebut mencapai daerah seperti Indonesia. 

  

Salah satu narasi yang paling mencolok dalam komunitas Sufi di Lefke adalah pentingnya Syekh Nazim dan kehadiran fisiknya. Akibatnya, banyak yang melakukan perjalanan menuju Lefke untuk bertemu dan melakukan beberapa ritual sekaligus berbagi pengalaman. Beberapa dari mereka mempertahankan relasi ini setelah dari Lefke. Sebagian besar pengunjung memutuskan untuk berpartisipasi aktif, seperti mengunjungi rumah syekh, makan bersama, salat, dan kegiatan kolektiflainnya. Artinya, pertemuan semacam itu multifungsi dan mungkin membutuhkan partisipasi dalam kehidupan keagamaan komunitas. Kemudian, muncul masalah komunitas vs individual yakni hubungan antar individu dan kelompok selama ziarah. Singkatnya, hanya manifestasi publik dari ziarah, karakter sosial dan performatifnya yang diperhitungkan, bukan motif atau hubungan antara peziarah. Akibatnya, ziarah dimaknai sebagai perluasan dan penegasan struktur sosial sehari-hari. 


Baca Juga : Paus Fransiscus dan Pesan Perdamaian

  

Di dalam Islam, rata-rata orang beriman mengunjungi makam wali adalah kesempatan untuk mendapatkan barokah atau berkah dari wali. Para wali dianggap sebagai pelindung, serta dapat membantu dalam masalah kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan kesehatan, perkawinan dan pendidikan. Berdasarkan studi etnografi yang berkembang, ziarah dianggap sebagai budaya dan condong terpisah dari atribusi keagamaan. Boleh dikatakan bahwa, perjalanan ziarah adalah perjalanan pribadi. 

  

Pada kasus komunitas Sufi Lefke termasuk unik, sebab mempertanyakan model ziarah individu modern. Para peziarah Lefke menunjukkan kombinasi seimbang antara faktor peziarah pribadi dan kolektif dengan menggabungkan religiusitas individu dan kolektif dan tidak memisahkan antara dua bentuk ibadah esensial ini. 

  

Kebutuhan Berada di Tempat

  

Menurut Urry dalam tulisannya berjudul “Mobility and Proximity” menekankan perlunya kehadiran fisik dan mengunjungi suatu tempat. Beberapa peziarah mengeluh bahwa beberapa orang datang ke Lefke hanya karena ingin berlibur di Laut Mediterania dan keinginan tinggal di asrama komunitas secara gratis. Lefke terletak di lokasi terpencil dengan pemandangan yang sangat indah. Serta, banyak yang menggambarkan Lefke sebagai tempat spiritual dan memanifestasikan kekuatan Tuhan. 

  

Di dalam tradisi Islam, ada tradisi panjang ziarah yang dihubungkan dengan konsep haji. Haji adalah salah satu kewajiban bagi umat Islam yang setidaknya bisa dilakukan sekali seumur hidup. jika mereka mampu secara fisik dan finansial untuk melakukan perjalanannya. Haji adalah ziarah ke Ka‘bah, di kota suci Makkah. Selain itu, haji dipandang memiliki nilai spiritual yang memungkinkan memberikan pengetahuan. 

  

Ziarah tetap menjadi bagian penting dari kehidupan beragama bagi mayoritas muslim di dunia. Menurut Peter Margy dalam tulisannya berjudul “Secular Pilgrimage: A Contradiction in Terms?” perlu mendefinisikan agama guna memahami konsep ziarah religius. Ia memahami agama sebagai semua gagasan yang dimiliki manusia mengenai pengalaman mereka yang sakral dan supranatural guna memberi makna pada kehidupan, serta memiliki akses kekuatan transformative yang dapat mempengaruhi kondisi eksistensial mereka. Ziarah adalah perjalanan berdasarkan inspirasi agama atau spiritual yang dilakukan individua tau kelompok, ke tempat yang dianggap suci dan bermanfaat guna mencari pertemuan transedental dengan objek kultus tertentu untuk tujuan manfaat spiritual, emosional atau fisik. 

  

Berdasarkan perspektif antropologis, jelas bahwa ziarah bukan lagi fenomena agama yang eksklusif dalam perjalanan fisik, seperti yang diilustrasikan dengan ziarah ke Lefke. Pada kasus Lefke, afiliasi keagamaan Syekh Nazim masih menjadi sentral. Pada saat yang sama tidak ada aturan ketat mengenai agama yang dianut selama tinggal di sana. Lefke adalah contoh terbaik mengenai bagaimana ziarah mencakup berbagai elemen seperti alam, tokoh, pencarian pribadi dan aktivitas kolektif. 

  

Kebutuhan Momen 

  

Salah satu contoh kebutuhan momen di Lefke adalah doa bersama dan pertemuan malam dengan nyanyian, minum teh dan interaksi. Selama acara ini, para peziarah berbagi pengalaman dan perasaan spiritual mereka. Ziarah dapat digambarkan dalam istilah rekreasi. Kegiatan ini dipercaya dapat meningkatkan kesehatan baik fisik maupun mental. 

Meskipun sebagian besar pengunjung Lefke tidak beragama Islam, namun ada beberapa pengecualian. Mereka menggambarkan diri mereka sebagai murid Syekh Nazim. Mereka menyadari bahwa Syekh Nazim adalah seorang Sufi yakni muslim dan guru spiritual. Kesadaran ini menimbulkan rasa hormat dan ketaatan, sekaligus ‘misteri’ yang membuat pengalaman ziarah semakin memesona bagi mereka. 

  

Kesimpulan

  

Pada batas tertentu, ziarah adalah tindakan suka rela tanpa paksaan. Seseorang akan terdorong untuk memuaskan kebutuhannya, seperti meminta perlindungan dan pertolongan keada seorang Sufi untuk memecahkan masalah baik kesehatan, keluarga, arau perjalanan batin menuju diri sendiri. Ziarah mencakup aspek yang berbeda seperti religius, kolektif dan individu. Artikel ini menggunakan konsep John Urry mengenai tiga fase/basis kehadiran yakni bertatap muka, kebutuhan di suatu tempat dan kebutuhan momen. Tujuannya adalah mengilustrasikan bagaimana pemaknaan ziarah yang berubah dan beradaptasi dengan realitas baru dunia pasca-sekular. Alhasil, tasawuf dalam kemampuannya terbukti secara historis menggabungkan bidang kehidupan keagamaan individu dan kolektif dapat memberikan kerangka yang berguna guna memahami fenomena ziarah kontemporer. Artikel ini akan lebih sempurna apabila dijelaskan pula secara rinci mengenai Syekh Nazim secara lebih detail, ritual keagamaan yang biasa dilakukan sehari-hari, dan pergeseran makna ziarah kontemporer lebih jelas dan terperinci.