Kaum Perempuan pun Harus Speak Up Moderasi Beragama
OpiniSaya diberitahu oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Prof. Kamaruddin Amin bahwa akan ada acara di Jakarta untuk membahas tentang moderasi beragama. Lalu, Dr. Ahmad Zayadi, Direktur Penerangan Agama Islam menindaklunjuti informasi tersebut. Ternyata yang menjadi sasaran program ini adalah para da’iyah dari berbagai organisasi Islam Pusat dan anggota MABIMS. Acara dilaksanakan di Hotel Sunlake Sunter Jakarta, 29-31 Mei 2023. Tema yang diusung adalah “Peran dan Tantangan Wanita Muslimah di Era Milenial: Persiapan Sebagai Madrasatul Ula”.
Kita sekarang hidup di dalam suatu era yang disebut sebagai Era disruptif ditandai dengan perubahan cepat yang tidak terduga arahnya dan memaksa manusia untuk mengikutinya. Era sekarang merupakan zaman VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity). Konsep ini ditemukan oleh Warren Bennis. Konsep tersebut adalah Volitility (Tidak stabil), Uncertanty (tidak pasti), Complexity (kompleks atau rumit) dan Ambiguity (ambiguitas atau tidak jelas). Sekarang kita hidup di zaman yang berubah cepat, tidak terduga, masa depan tidak pasti, dan rumit dalam menghadapinya dan tidak jelas penyelesaiannya. Sedang terjadi kerumitan dalam kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi. Bahkan agama juga mengalami hal yang sama. Secara khusus agama juga mengalami era disrupsi dengan pertarungan yang bersifat simbolik dan aktual.
Sebagai contoh, perkembangan yang tidak terhindarkan dalam teknologi kloning. Beberapa negara di Eropa sudah membolehkannya. Tetapi banyak tokoh agama yang tidak menjustifikasi atas kloning manusia, sedangkan untuk lainnya mubah saja. Tergantung kemanfaatannya untuk manusia. Kasus lain adalah teknologi transportasi, dari kereta berbahan bakar kayu dan batubara ke teknologi listrik. Bahkan juga mobil tanpa sopir dan drone untuk pengiriman barang. Juga teknologi robot yang semakin canggih, misalnya robot pasukan perang, robot pelayanan rumah tangga, robot pelayanan toko, robot pelayanan kedokteran, robot pelayanan keamanan dan sebagainya. Di China sudah muncul teknologi robot untuk pelayanan kebutuhan seksualitas, obrolan mesra dan sebagainya.
Kita juga tiba-tiba masuk ke Era Revolusi Industri 4.0. secara tahapan, maka beberapa era, yaitu Era Revolusi Industri 1.0: ditemukannya mesin uap. Menjadikan sarana transportasi kereta dan lainnya untuk kepentingan pengiriman tentara ke luar negeri, terutama Jerman pada Perang Dunia I. Era Revolusi Industri 2.0: ditemukannya listrik. Perubahan mendasar dalam dunia otomotif, temuan mesin berbasis listrik, temuan manufactur, perusahaan-perusahaan dan pemenuhan kebutuhan manusia. Era Revolusi Industri 3.0: ditemukannya komputer. Membantu manusia dalam bekerja secara lebih cepat, ditemukannya faximile, ditemukannya email, dan lain-lain. Era revolusi Industri 4.0: ditemukannya teknologi informasi dengan media sosial sebagai anak keturunannya.
Sebagai akibatnya, muncul perang yang menggunakan senjata berupa koneksi internet dan computer. Biasanya berupa hacking atau antihacking dengan tujuan melumpuhkan system yang digunakan oleh musuh. Sasarannya adalah institusi strategis, misalnya Institusi Pertahanan, Perbankan hingga KPU. Melibatkan ahli-ahli di bidang teknologi informasi. Juga terjadi Cyber crime adalah kriminalitas dengan menggunakan perangkat teknologi informasi. Lalu, Cyber security adalah upaya untuk mencegah system dalam teknologi informasi dari serangan cyber crime dan lainnya. Berikutnya Cyber war adalah perang tidak menggunakan SDM atau SDA (alat) tetapi mengunakan media informasi, kehancurannya tidak bisa dilihat secara langsung tetapi bisa jangka panjang, misalnya character assassination, bullying, atau lainnya. Era cyber war ditandai dengan perang media sosial dengan conten berita bohong, pembunuhan karakter, fitnah dan kebencian. Indonesia sangat rawan sebab pengguna internet banyak dengan literasi media masih sangat rendah.
Di era media sosial, maka terdapat banyak pola kekerasan sosial berbasis agama. Ada kekerasan simbolik, misalnya ujaran kebencian, pembunuhan karakter dan berita bohong atau hoaks. Ada kekerasan aktual, misalnya bom bunuh diri, penyerangan terhadap orang lain. Misalnya kepada Syekh Ali Jabir (alm), kantor MUI. Kekerasan akan dapat menyebabkan terjadinya spiral kekerasan.
Pada era media social, radikalisme semakin meningkat. Ada yang menyedihkan selaku umat Islam, sebab terorisme dan ekstremisme selalu dikaitkan dengan umat Islam di Indonesia. Pelaku bom bunuh diri semenjak di Bom Bali hingga sekarang pelakunya adalah orang Islam. Bom Bunuh diri di Bali 2002: Imam Samudra, Dulmatin dan Idris. Pelaku Bom Bunuh diri di Solo 2016: Nur Rohman (31 tahun). Bom Bunuh diri Surabaya 2018 di Mapolresta Anton Febriyanto dan keluarganya. Bom Bunuh diri di Gereja Surabaya 2018 Yusuf dan Firman. Pelaku bom Sibolga, Abu Hamzah, istri dan anaknya usia 2 tahun. Pelaku bom bunuh diri di Makasar 2021, suami istri Ibrahim Ibnu Andra. Kebanyakan pelaku adalah Jamaah Ansharud Daulah (JAD).
Menurut BNPT bahwa potensi radikalisme pada masyarakat Indonesia sebesar 33 juta atau sebesar 12 persen. Indikator radikalisme tersebut adalah Intoleran terhadap perbedaan dan keragaman, anti Pancasila, kesediaan memerangi kelompok agama lain dan anti terhadap pemerintah. Jika ada di antara orang Indonesia yang menyebarkan indikator-indikator ini, maka dianggap berpotensi radikal. Jika ada yang berjejaring dengan kelompok ini, maka juga dianggap bagian dari jaringan radikal.
Berdasarkan informasi BIN, bahwa generasi muda rawan terpapar radikalisme. Survei terbaru BNPT bahwa 85 persen generasi milenial rawan terpapar radikalisme. Media sosial dinyatakan sebagai penyebar virus radikalisme khususnya para generasi muda. Terjadi pertarungan ideologi transnasional melalui pemanfaatan media sosial 5G. Di era 4G saja sudah luar biasa. Kecepatan penyebaran gerakan transnasional itu melebihi kecepatan normal dalam penyebaran informasi pada umumnya.
Masyarakat Indonesia sudah memantapkan pilihan bahwa Islam yang hidup dan berkembang di Indonesia adalah Islam wasathiyah sehingga gerakan yang ditetapkan dalam kerangka berbangsa dan bernegara adalah Gerakan Moderasi Beragama. Para Pemimpin agama, ulama dan pendakwah harus berada di ruang ini, sebab Indonesia itu negara yang plural dan multicultural. Harus menjaga tali silaturrahim di antara para pimpinan agama atau para ulama agar terjadi kesamaan visi tentang Keislaman, keindonesiaan dan Kemoderenan.
Di tengah era media social, maka para da’iyah perlu untuk terlibat. Para perempuan diharapkan dapat menjadi penyebar Islam wasathiyah. Perlu speak up. Para da’iyah harus menjadi agen-agen untuk pengembangan dan penguatan Islam wasathiyah. Jika di masa lalu, ibu-ibu di ruang domestic atau masuk ke ruang public yang terbatas, maka sekarang peluang terbuka lebar untuk mengekspresikan keberagamaannya secara tuntas. Ibu-Ibu harus menjadi garda depan untuk menyuarakan moderasi beragama.
Saya melihat banyak talenta Ibu-ibu untuk menjadi agensi bagi Islam wasathiyah. Marilah terus menghasilkan karya di media social, bisa di youtube, Instagram, Twitter dan sebagainya dengan konten Islam wasathiyah. Jangan cukup dengan menjadi da’i yang face to face atau berceramah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi jadilah da’iyah dalam dunia media social. Bikinlah tim yang andal untuk kepentingan ini.
Tetapi yang penting, hendaknya tetap menggunakan prinsip utama dalam penyebaran Islam, sebagaimana diajarkan oleh Islam. Qoulan Sadidan: berkata dengan penuh ketegasan dan kebenaran. Qaulan Balighan: menggunakan kata-kata yang efektif, mudah dipahami, jelas dan tepat sasaran. Qaulan Layyinan: perkataan yang lemah lembut. Perkataan yang menyentuh terhadap dimensi perasaan dan hati. Qaulan Kariman: perkataan yang mulia penuh dengan semangat saling menghormati, penuh dengan kesopanan dan kesantunan serta menghargai harkat dan martabat kemanusiaan. Qaulan Ma’rufan atau perkataan yang pantas dan baik. Perkataan yang sesuai dengan kaidah berbahasa dengan nilai kebaikan. Qaulan maysuran: perkataan yang mudah dipahami, mudah dimengerti dan sesuai dengan prinsip dan etika komunikasi.
Prinsip Islam ini harus dipegangi agar kerahmatan Islam untuk seluruh umat akan terbina. Berdakwahlah dengan kasih sayang sehingga akan menghasilkan pemahaman Islam yang rahmah. Berdakwahlah dengan kelembutan agar umat merasakan Islam yang damai. Dan Ibu-Ibu pasti dapat melakukannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

