(Sumber : IndoProgres)

Lokalitas, Kesetaraan dan Kesalehan: Ekofeminisme di Indonesia

Riset Agama

Artikel berjudul “Locality, Equality, and Piety: Pesantren Ecofeminism Movement in Indonesia" merupakan karya Mardian Sulistyati. Penelitian ini terbit di Jurnal Studia Islamika tahun 2023. Penelitian ini berusaha menunjukkan lahirnya ekofeminisme yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam dalam bentuk pesantren. Berbeda dengan pemikiran/gerakan ekofeminisme lain yang umumnya merupakan respons terhadap kerentanan wanita dan lingkungan, ekofeminisme pesantren merupakan upaya untuk bangkit dari trauma mental dan kelas ekonomi masyarakat petani. Penelitian ini dilakukan di Pesantren Ekologi At-Thaariq, Garut, Jawa Barat dari tahun 2015-2019. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, silsilah ekofeminisme dan dialektikanya yang belum selesai. Ketiga, keindonesiaan akar ekofeminisme pesantren. Keempat, etika ketakwaan sebagai landasan ekofeminisme pesantren.

  

Pendahuluan

  

Ekofeminisme merupakan salah satu gerakan yang mengakar, berkembang pesat, dan terpecah menjadi beberapa tipologi pemikiran mazhab. Perpecahan tersebut menyebabkan para ekofeminis saling mengkritik dan berdialektika dengan berbagai kemungkinan untuk mengungkap akar permasalahan hubungan alam dan manusia. Fakta ini menyiratkan bahwa ekofeminisme bukan sebuah ideologi yang monolitik. Pada konteks Indonesia, kajian ekofeminisme cukup berkembang dan memiliki banyak perspektif.  Salah satunya adalah perspektif yang menjelaskan bahwa ekofeminisme adalah pandangan bahwa relasi langsung antara penindasan terhadap wanita dan alam. Jika dikaitkan dengan konsep pesantren sebagai pilar pendidikan Islam Indonesia yang mengusung romantisme perubahan sosial, maka ekofeminisme pesantren dapat dimaknai sebagai gerakan etis yang melampaui ekofeminisme pendahulunya. 

  

Pada upayanya untuk mencapai pembebasan, konsep ekofeminisme pesantren berupaya melepaskan diri dari segala bentuk dualisme. Misalnya, ekofeminisme budaya yang dicanangkan oleh Daly dan Griffin menjadi titik tolak. Narasinya meluas hingga penolakan terhadap skeptisisme yang berakar pada antroposentrisme agama, sejalan dengan perspektif ekofeminisme spiritual, seperti Starhawk. Selain itu, wacana tersebut mencari emansipasi dari batasan enkulturasi penolakan terhadap takdir biologis, yakni sebuah konsep yang didukung para ekofeminis transformatif seperti Dinnerstein dan Warren. Lebih jauh lagi narasi tersebut menjauhkan diri dari asumsi moral yang menghubungkan persamaan hak wanita yang sejalan dengan sentimen para ekofeminis vegan sepeti yang diutarakan Kao, Regan dan Singer. Selain itu, keunikan ekofeminisme pesantren adalah etika keimanan sebagai landasan keadilan ekologi dan sosial. 

   

Silsilah Ekofeminisme dan Dialektikanya yang Belum Selesai

  

Dua dekade yang lalu, studi akademis menunjukkan bagaimana sistem pengelolaan sumber daya alam dan perekonomian yang berorientasi pada modal di Indonesia menimbulkan krisis lingkungan hidup dan metode diskriminasi berbasis gender. Salah satu alasannya adalah rendahnya gagasan Pembangunan yang melibatkan nilai dan perspektif wanita baik dalam hal seksualitas maupun gender. Kebanyakan kehadiran dan peran wanita dilupakan dan terhapus ketika narasi Pembangunan terbentuk. Konsep wanita dan ideologi Pembangunan tidak lain adalah strategi developmentalisme dalam mengontrol wanita, bukan memerdekakannya. 

  

Pada perdebatannya, ekofeminisme tumbuh menjadi beberapa jenis pemikiran. Pertama, ekofeminisme alam atau radikal-budaya yang dikemukakan Mary Daly dan Susan Griffin. Mereka percaya bahwa ciri-ciri tradisional yang diasosiasikan dengan perempuan seperti kasih sayang, kepekaan dan kepedulian bukan hasil dari konstruksi budaya melainkan pengalaman psikologis dan biologis wanita. Mereka menolak anggapan bahwa inferioritas wanita adalah sesuatu yang wajar, superioritas pria adalah sesuatu yang bersifat budaya. Kritik terhadap ekofeminisme alam datang dari Janet Biehl yang menganggap pandangan optimis mereka menyesatkan wanita. Ia menganggap hubungan pria dan wanita sangat merendahkan wanita. 

  

Kedua, ekofeminisme spiritual yang dikemukakan oleh Starhawk, Carol Christ, dan Diann Neu. Ekofeminisme spiritual harus melepaskan unsur maskulinnya dan bersatu dengan alam guna mencoba spiritualitas berbasis bumi. berbeda dengan ekofeminisme alam menolak relasi wanita dan alam, para ekofeminis spiritual justru mengapresiasi keduanya. Ekofeminis spiritual juga meyakini bahwa ada relasi erat antara perusakan lingkungan dan keyakinan bahwa Tuhan memberi manusia kekuasaan atas bumi melalui doktrin agama. Namun, mereka bersikukuh bahwa teologi/agama/spiritual apa pun yang dianut wanita dapat memberi pengaruh besar selama mereka dapat memurnikan agamanya dari gagasan patriarki. Kritik terhadap pandangan ini datang dari Maria Mied dan Vandana Siwa. Mereka menganggap ekofeminis spiritual terlalu banyak menghabiskan waktu di bawah sinar bulan, melantunkan “mantra,” bermeditasi dan saling mengirimkan pesan.


Baca Juga : Teologi Cinta dalam Bekerja

  

Ketiga, ekofeminisme transformatif atau sosial-konstruksionis yang dikemukakan oleh Dorothy Dinnerstein dan Karren J Warren. Mereka meyakini bahwa pengalaman sifat tradisional pada wanita hanya akan menjadikannya tunduk pada tanggung jawab dan perlakuan tidak setara. Wanita akan terus di bawah pria dan tunduk pada budaya perkembangan selanjutnya. Kritik diri juga datang dari Warren yang melihat bahwa para ekofeminis transformatif gagal membaca bagaimana sistem penindasan manusia terhadap non-manusia terjadi.

  

Keempat, ekofeminisme global dikemukakan oleh Maria Mies dan Vandana Shiva. Aliran ini bekerja dengan enam ciri yakni (1) interseksionalitas sistem penindasan; (2) menekankan keberagaman pengalaman perempuan; (3) menolak logika dominasi; (4) memikirkan kembali makna menjadi manusia; (5) mengandalkan etika feminin tradisional yakni menjalin, menghubungkan dan mempersatukan masyarakat; (6) berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi hanya digunakan untuk menjaga kelangsungan bumi.

  

Kelima, ekofeminisme vegan atau vegetarian. Kaum ini sering kali memiliki pandangan yang kontradiktif secara kontekstual dan universal. Kontekstualis mengakui masyarakat yang menggunakan produk hewani seperti masyarakat pedalaman tidak mampu bertahan hidup kecuali berburu. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang tidak boleh memanfaatkannya karena sudah banyak makanan pengganti. Sedangkan, kaum universalis memegang nilai mutlak bahwa satwa harus dilindungi, sehingga perburuan dan pengolahan dengan alasan apa pun tidak dibenarkan. 

  

Keenam, ekofeminisme lingkungan yang digaungkan oleh Anne Primavesi. Aliran ini fokus pada masyarakat di wilayah Utara yang menggunakan bahan bakar fosil, sehingga merugikan wilayah Selatan. Label Utara-Selatan berasal dari penelitian Willi Brandt yang menyebut negara maju dan kaya sebagai “Utara” serta negara miskin dan berkembang sebagai “Selatan.” Sejauh ini negara-negara Selatan telah dieksploitasi demi keuntungan negara-negara Utara.

  

Keindonesiaan Akar Ekofeminisme Pesantren

  

Garut dikenal dengan tanah yang subur dan dikelilingi enam gunung, beberapa di antaranya gunung berapi aktif. Wilayah ini juga memiliki hutan dan kebun yang luas, sehingga produktivitas pertanian menduduki peringkat tertinggi di Pulau Jawa. Artinya, Garut memiliki dua fungsi strategis yakni penyangga keseimbangan lingkungan dan pemasok bahan pangan pokok di Jawa Barat. Setelah Indonesia Merdeka, Presiden Soekarno melakukan dekolonisasi dengan mengubah arah kebijakan pertanahan dan merombak sistem kepemilikan tanah. Pada prosesnya, disahkan Undang-Undang (UU)Pokok Agraria/UUPA sebagai rujukan resmi kebijakan terkait reformasi pertanahan. Sayangnya, UU ini terhenti ketika masa Presiden Soeharto. Pada era ini, konsesi lahan untuk proyek dalam dan luar negeri dibuka secara luas, sehingga era “predator birokratisme” dimulai. Pada konteks Garut, dua tipe pemilik tanah paling signifikan adalah Perum Perhutani dan Perkebunan milik negara atau swasta. 

  

Ketika era Soeharto jatuh, maka momentum kebangkitan akar rumput di mulai. Gerakan lokal dan otodidak mulai tumbuh sumbur. Di Garut, terjadi perjumpaan antara aktivis agrarian, mahasiswa dan kelompok tani. Mereka membangun aliansi dengan pola yang khas yakni pemimpin petani mendirikan organisasi lokal, sementara aktivis dan mahasiswa memperkenalkan reformasi pertanian. 

  


Baca Juga : Khaul Prof. Ahmad Imam Mawardi: Mengenang Jasa dari yang Telah Pergi

Ide pesantren berdaulat lahir dalam politik pertanian dan fenomena sosial. Bagi sebagian besar masyarakat akar rumput, pesantren merupakan lembaga sosial yang terpercaya karena memadukan fungsi pendidikan dan keagamaan. melalui peran dan fungsi ini, pesantren dipandang sebagai media paling strategis dan penting guna mensosialisasikan dan mewujudkan konsep etika lingkungan. Pada akhir tahun 2008, berdiri Pesantren Ath-Thaariq di Desa Cimurugul, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Warga menamakannya Pesantren Kebon Sawan karena kegiatan sehari-hari pesantren berdiri di tengah sawah mereka. Sawah tersebut merupakan sisa proyek perumahan dan kantor pemerintahan setempat. Posisi tersebut cukup mewakili sikap mental dan pendirian pesantren yakni perlawanan terhhadap developmentalisme yang mengganggu keseimbangan dan penghidupan petani.

  

Etika Ketakwaan Sebagai Landasan Ekofeminisme Pesantren

  

Menurut Starhawk dalam tulisannya berjudul “Feminist, Earth-Based Spirituality and Ecofeminism,” spiritualitas berbasis bumi mengusung tiga konsep inti. Pertama, iman di mana setiap makhluk hidup memiliki nilai dan kekuatan. Spiritualitas adalah pembangkit energi dan pemicu tindakan berkelanjutan menuju keseimbangan makhluk dan alam semesta. Jadi, ketika bumi rusak, kesadaran akan menuntut untuk melakukan sesuatu guna menghentikan kerusakannya dan memulihkannya. 

  

Kedua, keterhubungan yang memerlukan pandangan luas mengenai diri sendiri dan ciptaan di luar diri kita. Semakin memahami bahwa kita adalah alam, maka semakin sadar bahwa ada kesatuan antara manusia, siklus dan proses alam, hewan dan tumbuhan. Akan muncul kekacauan apabila melawan alam, misalnya antroposentrisme atau melawan manusia, seperti ekoterorisme. Harus selalu ada jalan tengah untuk memenuhi semua kepentingan.

  

Ketiga, spiritualitas berbasis bumi yang paling penting adalah gaya hidup welas asih. Starhawk mengklaim bahwa spiritualitas ekofeminis memberikan kepedulian dan kasih sayang. Hal ini memungkinkan mereka mengidentifikasi ketidakberdayaan dan struktur yang melanggengkannya sebagai akar dari kelaparan, kelebihan populasi dan degradasi ekologi. 

  

Pesantren Ath-Thaariq mengajarkan bahwa membangun keimanan adalah yang utama dan terpenting. Iman tumbuh dengan membaca kitab suci. Jadi, kerusakan ekologi yang diakibatkan aktivitas manusia dapat diatasi dengan memperkuat keimanan manusia itu sendiri. Pesantren ini memiliki cita-cita memperkuat pengetahuan masyarakat terhadap isu-isu ekologi yang notabene bersifat universal tanpa gender dan tidak mengucilkan agama maupun suku.

   

Proses penalaran kesalehan teologis dan ekologi melalui tiga fase. Pertama adalah interpretasi yakni dengan menafsirkan kembali ajaran iman agar lebih dekat dengan sumbernya yakni al-Qur’an dan Sunnah. Jika para ekofeminis spiritual klasik menganggap degradasi lingkungan sebagai akibat pemberian Tuhan kepada manusia yakni kekuasaan atas bumi, maka dalam ajaran pesantren ini kekuasaan dimaknai dengan melindungi, bukan mengendalikan. 

  

Kedua, melakukan kontak dengan segala macam hal yang terjadi. Cara ini mengusung semangat pengalaman eksistensial yang kontekstual. Asas ekologi berari memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Sementara itu, prinsip feminitas berarti mempertimbangkan permasalahan etnis dan kelompok rentan dalam perjuangan yang lebih komprehensif. 

  

Ketiga, kepedulian yakni fase yang melengkapi proses teologi dan ekologi. Kepedulian memungkinkan mengidentifikasi ketidakberdayaan dan struktur yang melanggengkannya sebagai akar dari masalah kelaparan, kemiskinan, kelebihan penduduk, bahkan lingkungan yang sistemik. 

  

Kesimpulan

  

Secara khusus penelitian tersebut menyusun terminologi gerakan baru yakni ekofeminisme pesantren. Gerakan masyarakat akar rumput sebagai respons terhadap developmentalisme dan politisasi sumber daya alam yang antara lain menimbulkan trauma budaya masyarakat, siklus krisis sosio-ekologis-ekonomi, dan hilangnya nilai-nilai budaya dan tradisi leluhur dalam mengelola alam. Ekofeminisme pesantren merupakan gerakan berwawasan global yang tidak hanya diinternalisasikan oleh perempuan namun dapat diterapkan pada seluruh umat manusia. Hal ini tidak dimaknai secara sempit sebagai penyatuan ekofeminisme dan pesantren. Sebagai gagasan ekofeminisme, ia melepaskan diri dari asumsi dualisme, bodilyisme, dan antroposentrisme agama. Sebagai pesantren melepaskan diri dari tradisi otonomi kiai dan membina hubungan setara antara santri, kiai , dan nyai.