Mengejar Semangat Ideologis Pemberontakan Kelompok Islam
Riset AgamaArtikel berjudul “Pursuing Ideological Passion in Islamic Radical Group’s Insurgency: A Case Study of Negara Islam Indonesia” merupakan karya Nur’aini Azizah, Hamdi Muluk, dan Mirra Noor Milla. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2023. Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi gairah ideologis individu dalam bergabung dengan kelompok makar berbasis agama. Jika makar berbasis wilayah biasanya berakhir setelah dikalahkan pemerintah, makar berbasis ideologi justru lebih bertahan lama meskipun sudah dibubarkan. Fokus penelitian ini adalah proses pembentukan gairah ideologis dalam konteks gerakan makar muslim Indonesia yang disebut dengan Negara Islam Indonesia. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, perenungan berbasis kelompok keagamaan. Ketiga, politik Islam sebagai orientasi nilai ideologis. Keempat, dedikasi pada gerakan. Kelima, kecenderungan aksi insurgensi melalui lingkaran sosial radikal.
Pendahuluan
Setidaknya ada dua motivasi berbeda dari gerakan pemberontakan yang berusaha mengubah atau merebut kekuasaan. Pertama, pemberontakan berbasis wilayah, yakni berdasarkan perebutan wilayah geografis. Misalnya, Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Indonesia. Kedua adalah pemberontakan bermotif ideologis yang didorong oleh faktor ideologi politik dan agama. Misalnya, Proklamasi Negara Islam Indonesia (NII) pada tahun 1959. Sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, NII telah menjadi pemberontak Islam pertama. Meskipun pemerintah telah membubarkan NII di tahun 1960, organisasi ini tetap bertahan, bahkan hingga hari ini. Hal ini terbukti dengan masih adanya komponen NII yang menerapkan konsep syariat Islam di Indonesia.
Isu politik memainkan peran penting dalam pemberontakan berbasis agama tersebut. Artinya, meskipun agama tidak serta merta berkontribusi pada terjadinya pemberontakan, namun menjadi landasan bagi pembentukan konektivitas struktural dalam pembentukan pemberontakan. Pemberontakan agama dilatarbelakangi oleh interaksi antara pemahaman agama dan masalah sosial ekonomi, serta kegagalan pemerintah.
Negara Islam Indonesia (NII) adalah gerakan pemberontakan yang diilhami oleh agama. Pemberontakan agama didorong oleh faktor ideologis, sehingga jelas bagaimana peran ideologi. Terdapat dua hipotesis yang menjelaskan bagaimana peran ideologi sebenarnya. Hipotesis pertama menyatakan bahwa ideologi tertentu dapat mendorong seseorang untuk menjadi pemberontak, seperti konservatisme dan fundamentalisme. Sayangnya, hipotesis ini hanya membedakan ideologi berdasarkan jenisnya, bukan sejauh mana individu menganut keyakinannya. Hipotesis kedua menyatakan bahwa semua ideologi memiliki potensi yang sama untuk terlibat dalam pemberontakan, khususnya ketika penganut ideologi tertentu memegang keyakinan ekstrem.
Perenungan Berbasis Kelompok Keagamaan
Perjalanan bergabung dalam aksi pemberontakan diawali dengan kegelisahan dan refleksi atas kondisi umat Islam. Mereka menafsirkan ajaran agamanya dengan narasi bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna sekaligus solusi untuk perdamaian dunia. Kondisi ketidakpuasan ini dapat dibedakan menjadi dua kategori yakni lebih mengarah pada kelompok atau individu. Orientasi pada kelompok lebih banyak dipengaruhi adanya anggapan bahwa persatuan kelompok muslim sedang dalam masa krisis. Sebaliknya, jika orientasi pada personal akan lebih berkonsentrasi pada bagaimana menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka melihat kurangnya umat Islam yang melakukan tindakan bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga mereka mengejar nilai spiritual kebenaran yang mengacu pada ajaran yang dianut, seperti mencari rida Allah SWT.
Hasrat ideologis memerlukan pemikiran mengenai agama seseorang yang sering kali mengarah pada perasaan negatif yang disebut sebagai perenungan. Keadaan ini sering dikaitkan dengan sistem politik dalam konteks pemberontakan. Pada tataran sosial seperti pendapatan negara yang rendah, masalah geografis, budaya, sosial, ekonomi, bahkan perbedaan kekuasaan meningkatkan peluang Masyarakat guna melakukan perubahan sosial yang memicu pemberontakan.
Baca Juga : Jurus Scale Up UMKM
Politik Islam Sebagai Orientasi Nilai Ideologis
Para pemberontak meyakini bahwa ajaran agama mengatur setiap aspek keberadaan mereka. Ajaran agama sangat dijunjung tinggi, sehingga mereka harus mengimplementasikannya sebagai bentuk tanggung jawab. Ideologi politik Islam berperan tidak hanya bagi mereka yang melakukan pemberontakan, tapi juga yang mendukung pemerintah. Partisipasinya tergantung pada keyakinan agama mereka dan bagaimana menyeimbangkan nilai perdamaian maupun konflik. Kecenderungan untuk menjunjung tinggi ideologi Islam politik ini yang menjadi landasan bagi tindakan selanjutnya.
Keyakinan agama yang kuat dapat menjadi landasan bagi hasrat ideologis. Para pemberontak menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya. Mereka menganut ideologi politik Islam yang berpandangan bahwa Islam bukan hanya pedoman hidup tapi landasan bagi kehidupan politik.
Dedikasi Pada Gerakan
Ketika para pemberontak meyakini bahwa agama adalah pusat kehidupan, maka semua tindakan akan dimotivasi atas keyakinan tersebut. Mereka meyakini bahwa Islam harus diwujudkan secara kaffah dan menjadi dasar negara mendorongnya bergabung dan berjuang bersama demi nilai Islam. Tindakan semacam itu dianggap sebagai bagian dari upaya menegakkan hukum Islam. Mereka akan berkomitmen membantu gerakan kelompoknya untuk mencapai tujuan dengan menekankan pentingnya mematuhi otoritas dan paling penting kepada Tuhan dan nabinya.
Mereka memiliki keberanian untuk mengabdikan diri pada gerakan pemberontak karena proses refleksi dan kecenderungan memegang teguh ideologi yang dianut. Hal tersebut dimulai dengan mempelajari ideologi dan gerakan secara lebih mendalam, mendekati orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan, dan terlibat secara langsung maupun tidak dalam pemberontakan. Pengabdian para pemberontak ini adalah bentuk sikap dan perilaku yang diwujudkan sebagai bagian dari ekspresi ideologi mereka.
Kecenderungan Aksi Insurgensi Melalui Lingkaran Sosial Radikal
Pemberontak biasanya memiliki teman dekat yang mendukung implementasi hukum Islam. Mereka biasanya mencari orang dengan pemikiran serupa guna mengembangkan jaringan sosialnya. Kemudian, mereka berkomunikasi secara intens untuk memperdalam keyakinannya dan mulai mengambil tindakan nyata. Beberapa para pemberontak memulai interaksinya dengan mengungkapkan kekaguman terhadap tokoh ideologis yang menjadi sumber inspirasi.
Mereka mengalami proses internalisasi antara ideologi dan identitas yang dilakukan dan tercermin dari keinginan mereka menegakkan syariat Islam. Para pemberontak beranggapan bahwa ideologi yang mereka yakini adalah benar, dan out-groupnya adalah salah. Keyakinannya ini selanjutnya divalidasi oleh jaringan sosial yang menjadikannya tujuan utama dalam hidup.
Selain itu, mereka condong mengalami internalisasi yang terkendali yang menunjukkan ‘obsesif passion.’ Hal yang menjadi kendali seseorang adalah janji kepada pemimpin dan organisasinya atau biasa disebut dengan baiat. Upaya penegakan syariat Islam akan tetap dilakukan bahkan setelah tidak lagi menjadi anggota NII. Meski tidak terang-terangan menentang pemerintah, namun mereka kerap mengalami konflik antara syariat Islam dan sistem pemerintahan yang ada. Pada kondisi yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama, mereka tidak akan melakukannya. Misalnya, saat pemilihan umum, mereka akan condong tidak menggunakan hak pilihnya.
Kesimpulan
Secara garis besar hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan passion ideologis pada individu dapat dimulai dengan merenungkan hilangnya signifikansi dalam kelompok, kecenderungan mengutamakan ideologi yang dianut, dedikasi diri, interaksi dengan orang yang terlibat dan mengintegrasikan ideologi dalam identitas mereka. Proses Pembentukan pengejaran ideologis dalam pemberontakan terdiri dari perenungan tentang kebermaknaan diri dan kelompok, penilaian yang melibatkan ideologi fundamentalisme agama dan peran figure pemimpin, dedikasi terhadap yang dilakukan pemimpin, interaksi dan internalisasi ideologi serta identitas. Jelas bahwa semangat ideologi berperan dalam gerakan pemberontakan.

