(Sumber : Nur Syam Centre)

Pandangan Agama Mengenai Manusia

Riset Agama

Artikel berjudul “Manusia dan Agama” adalah karya Solehan Arif. Artikel ini terbit di Jurnal Studi Islam “Islamuna”. Tulisan ini bertujuan untuk “mengetengahkan” manusia menurut pandangan Islam. Kajian tentang manusia memang dapat dianalisa dari berbagai perspektif maupun disiplin ilmu. Beberapa disiplin ilmu tersebut diantaranya adalah antropologi, filsafat, sosiologi, psikologi dan ilmu Al-Qur’an. Tulisan ini akan menuliskan resume karya Arif dalam enam sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, hakikat manusia. Ketiga, martabat manusia. Keempat, kebutuhan manusia terhadap agama. Kelima, tantangan manusia beragama. Keenam, tanggung jawab manusia. 

  

Pendahuluan

  

Manusia dan agama memiliki hubungan yang bersifat kodrati. Agama menyatu dalam fitrah penciptaan manusia, yang terwujud dalam ketundukan, kerinduan ibadah dan sifat luhur. Jika dalam perjalanan hidupnya manusia menyimpang dari fitrahnya, maka secara psikologis ia akan merasa ada “hukuman moral”. Selanjutnya, akan spontan muncul rasa bersalah maupun berdosa. Agama dapat membuat manusia menjadi orang yang beriman dan mampu menjalankan semua tanggung jawab sebagai manusia. 

  

Hakikat Manusia

  

Hakikat manusia menurut Islam adalah kaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh merupakan substansi yang berdiri sendiri, tidak tergantung yang lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa substansi yang kedua adalah substansi alam. Sehingga, manusia dan alam adalah makhluk yang diciptakan Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat 14 dan dalam Hadist Riwayat Bukhari. 

  

Di dalam Al-Qur’an, terdapat empat kata yang merujuk pada makna manusia. Pertama, al-basyar. Kata al-basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam Al-Qur’an. Secara etimologi berarti kulit kepala, wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Kata al-basyar berasal dari kata basyarah yang artinya kulit. Manusia disebut dengan basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang. Selain itu, kata basyar digunakan untuk merujuk pada proses kejadian manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap hingga mencapai kedewasaan. Artinya, manusia adalah makhluk biologis. 

  

Kedua, Al-Insan yang disebut sebanyak 60 kali. Kata al-insan berasal dari kata al-uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Kata insan dalam Al-Qr’an digunakan untuk menunjuk manusia sebagai totalitas (jiwa dan raga). Selain itu, kata al-insan sering juga dihadapkan dengan kata jin atau jaann, artinya makhluk yang tidak tampak. 

  

Ketiga, al-nas yang disebutkan sebanyak 240 kali. Kata al-nas merujuk pada eksistensi manusia sebagai makhluk sosial secara keseluruhan tanpa melihat status keimanannya. Kata ­al-nas lebih bersifat umum dibanding kata al-insan. Selain itu, penggunaan kata al-nas memiliki arti peringatan Allah kepada semua makhluk untuk selalu menjaga  perbuatan. Karena, setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi. 


Baca Juga : Fakta Dibalik Meningkatnya Perceraian

  

Keempat, bani adam yang disebutkan sebanyak 7 kali. Secara etimologi, kata bani adam memiliki arti keturunan Nabi Adam. Menurut Al-Qur’an, pada hakikatnya manusia  berasal dari nenek moyang yang sama yakni Nabi Adam dan Hawa. Pemaknaan kata bani adam lebih ditekankan pada aspek amaliyah manusia dan penjelasan bagaimana suatu perbuatan dilakukan. 

  

Martabat Manusia 

  

Pada dasarnya, martabat manusia adalah sesuatu yang diwariskan. Di dalam Al-Qur’an, manusia lebih banyak dibahas dari sisi sifat dan potensi yang dimiliki. Potensi dalam bahasa agama disebut fitrah. Di dalam Hadist Sahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa, setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya yang memungkinkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Artinya, hadist tersebut mengisyaratkan bahwa sejak lahir manusia telah dibekali dengan potensi kodrati yang harus dikembangkan demi kesempurnaan hidup. 

  

Menurut psikologis, manusia memiliki tiga kelebihan dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Pertama, daya pikir atau akal yang berpusat di kepala. Daya pikir dapat dipertajam dengan perenungan alam semesta dan kejadian yang ada di alam. Kedua, daya rasa yang berpusat di dada. Daya rasa dapat dipertajam melalui ibadah, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji. Ketiga, daya nafsu yang berpusat di perut. 

  

Kebutuhan Manusia Terhadap Agama

  

Agama merupakan sumber nilai, sumber etika dan pandangan hidup yang dapat diperankan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Pertama, fitrah agama yakni potensi bawaan yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk selalu tunduk pada Tuhan sebagai pencipta. Kedua, kemampuan manusia yang terbatas. Agama manusia dapat mengetahui dan memahami  sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran yang dimiliki manusia, misalnya hal gaib. 

  

Tantangan Manusia Beragama

  

Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh manusia dalam beragama. Tantangan tersebut bisa datang dari dalam maupun dari luar diri. Tantangan dari dalam diri, misalnya adalah  dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Sedangkan, tantangan dari luar diri, misalnya adalah rekayasa dan upaya manusia yang secara sengaja ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka rela mengeluarkan biaya, tenaga dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang di dalamnya mengandung “misi” untuk menjauhkan manusia dari Tuhan. 

  

Tanggung Jawab Manusia

  

Pada dasarnya perjalanan hidup manusia mengemban amanah yang dibebankan Allah untuk dipenuhi, dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya. Pertama, manusia sebagai khilafah di bumi. Tugas sebagai khilafah yang harus diselesaikan diantaranya adalah menuntut ilmu pengetahuan, menjaga dan memelihara dari bahaya dan sengsara, menghias diri dengan akhlak mulia, menegakkan kebenaran, memakmurkan bumi dan berlaku baik terhadap siapapun. Kedua, manusia sebagai hamba Allah. Artinya, manusia harus mengabdi kepada Allah. Mengabdi dapat dilakukan melalui jalur khusus seperti ibadah sholat, puasa dan zakat, serta melalui jalur umum berupa perbuatan baik dan amal saleh. 

  

Kesimpulan

  

Manusia dalam perspektif Islam merupakan makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Terbukti, dengan segala potensi yang dimiliki oleh manusia. Manusia dan agama agaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Lalu, mengapa masih ada manusia yang ingkar atas agama?. Pada dasarnya, kepribadian dan lingkungan menjadi faktor mengapa pengingkaran manusia terhadap agama dapat terjadi. Namun, sebenarnya menutupi maupun manghilangkan dorongan dan rasa keagamaan sebenarnya sulit dilakukan. Manusia memiliki unsur batin yang cenderung mendorong untuk tunduk pada dzat yang gaib.