Perubahan Kesalehan dan Spiritualitas Masyarakat Urban
Riset AgamaArtikel berjudul “The Changing Piety and Spirituality: A New Trend of Islamic Urbanism in Yogyakarta and Surakarta” merupakan karya Lukis Alam, Benni Setiawan, Shubhi Mahmashony Harimurti, Miftahulhaq, dan Meredian Alam. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2023. Penelitian tersebut mencoba mengangkat empat profil majelis yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta. Empat majelis tersebut antara lain Muslim United, Teras Dakwah di Yogyakarta, serta Majelis Ar Raudhah yang didirkan Habib Novel Alaydrus dan Majelis Busytanul Asyiqin yang didirikan oleh Habib Syech Assegaf yang terletak di Suurakarta. Riset tersebut menjelaskan bagaimana empat majelis tersebut mendiseminasi pengetahuan agama yang moderat, sehingga bisa diterima di kalangan urban. Selain itu, terkait dengan respons keempat majelis terhadap dinamika spiritualitas masyarakat urban yang diyakini dinamis. Basis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, persaudaraan dan otoritas keagamaan dalam lanskap religi perkotaan. Ketiga, dibalik kepanikan moral kaum urban. Keempat, agama dan desekularisasi ruang. Kelima, aktivisme berbasis agama dan filantropi perkotaan.
Pendahuluan
Manifestasi spiritualitas yang ditunjukkan masyarakat perkotaan selalu memancing kontroversi dan menyebar ke masyarakat. Agama nampaknya dianggap sebagai solusi praktis pada saat masyarakat menghadapi tantangan globalisasi. Yogyakarta dan Surakarta merupakan dua kota dengan masyarakat beragam di dalamnya. Selain itu, kedua kota ini memiliki pertumbuhan kawasan industri yang cepat. Keduanya telah menjadi kota metropolitan kecil, namun pada saat yang sama masyarakatnya tidak terpisah dari globalisasi. Praktik sosial dalam masyarakat terjalin dengan etos keagamaan yang sesuai. Kesadaran beragama adalah kebutuhan yang tidak dapat ditawar bagi masyarakat perkotaan saat ini. Yogyakarta dan Surakarta sangat militan terhadap ajaran agama. Munculnya kesadaran tidak lepas dari pengutamaan sikap transendental dan asketis.
Persaudaraan dan Otoritas Keagamaan dalam Lanskap Religi Perkotaan
Perkembangan globalisasi saat ini telah mengubah cara pandangan masyarakat. Jumlah penduduk yang begitu besar pada masyarakat perkotaan memiliki implikasi sosial, budaya dan spiritual. Modernisasi begitu “mengancam” beberapa peradaban dalam masyarakat yang tampaknya tidak siap. Indonesia adalah salah satu negara yang paling mudah beradaptasi dan konsisten dengan kondisi keagamaannya. Negara ini telah berhasil menata berbagai bangunan keagamaan. Terdapat beberapa kelompok fundamentalis, tradisionalis dan modernis, meski ada pula yang menyebut kelompok santri, priayi dan abangan sebagai jembatan untuk melihat Islam Indonesia dari berbagai sudut pandang.
Strategi adaptif umat saat ini bergerak menuju adaptasi pada perkembangan zaman. Alhasil, unsur pembentuk masyarakat yang rukun, adil, dan toleran adalah sesuatu yang mutlak. Muslim United dan Teras dakwah mengambil peran dengan menegakkan prinsip menghadirkan jalan kesalehan sosial dan membangun kapasitas umat Islam yang tidak lagi berkutat pada kesalehan personal dan transaksional. Kedua majelis membangun hubungan intrapersonal dan kerja sama antar berbagai kelompok masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menggambarkan narasi inklusivisme. Selain itu, pengadopsian nilai-nilai Islam masa kini nampaknya juga dilakukan oleh Majelis Bustanul Asyiqin dan Ar-raudhoh. Pola ini telah membawa perubahan besar pada kesalehan sosial para tokoh agama, sehingga otoritas agama telah bergeser ke arah yang berbeda.
Saat ini, teks keagamaan memenuhi ruang publik. Terkadang, masyarakat terjebak pada pemahaman doctrinal ketika menafsirkan al-Qur’an dan hadis. Masyarakat tidak mungkin memahami secara komprehensif bagaimana al-Qur’an atau hadis ada, baik dari latar belakang politik maupun sosial. Artinya, kehadiran empat majelis tersebut berupaya menjawab kompleksitas penafsiran kitab suci bagi masyarakat. Para jemaah keempat majelis digambarkan ‘sepenuhnya sukarela’ dalam menegakkan ajaran agama. Bahkan, mereka juga disebut penjaga agama dan berusaha melegitimasi klaim kebenaran yang bisa diterima oleh masyarakat perkotaan.
Dibalik Kepanikan Moral Kaum Urban
Baca Juga : Dialektika Agama dan Identitas Nasional Umat Yahudi
Adanya majelis yang mentransformasikan struktur sosial masyarakat perkotaan semakin menguatkan persepsi bahwa pemahaman agama yang baik adalah sebuah keniscayaan. Saat ini, agama seakan menjadi salah satu aspek penting yang memiliki peran strategis sebagai model transformasi masyarakat ke arah yang lebih baik. Istilah islamisasi telah memosisikan jamaah di luar pesantren, namun peran majelis tidak jauh berbeda dengan peran pesantren.
Misalnya, Majelis Teras Dakwah membuat pengajian dengan topik yang beragam. Promosi hijrah dan tema popular menjadi tren yang banyak diminati masyarakat perkotaan, terutama di kalangan anak muda. Isu kemerosotan moral dikemas senyaman mungkin. Bahkan, persoalan peradaban dan militansi perjuangan di Palestina menjadi narasi yang mampu menggetarkan jiwa umat Islam. Hal yang juga menjadi catatan adalah, setiap ustaz yang akan menyampaikan dakwahnya disesuaikan dengan keahliannya masing-masing. Jelas bahwa majelis ini ingin menampilkan dirinya sebagai gerakan dakwah popular yang mudah diterima oleh semua kalangan. Pertarungan identitas semakin intensif pada saat globalisasi menjadi narasi yang memungkinkan budaya barat bersinggungan dengan adat. Jadi, pemahaman agama saja tidak cukup dengan intensifikasi doktrin. Doktrin tidak akan berhasil jika pesan yang disampaikan tidak mencerminkan nilai yang semestinya.
Agama dan Desekularisasi Ruang
Hedonisme dan materialisme sering diperdebatkan berdasarkan pandangan agama. keduanya bertolak belakang dengan aspek ketakwaan yang ditujukan masyarakat Islam saat ini. Kekaguman masyarakat perkotaan terhadap tokoh utama yang mengajarkan mekanisme pengenalan doktrin agama telah mentransformasikan cara pandang fungsi keagamaan menjadi perekat sosial. Ketakutan masyarakat terhadap hal-hal sekular perlahan mulai memudar. Berdasarkan pandangan Durkheim, jika agama berfungsi sebagai perekat sosial, maka secara tidak langsung berimplikasi terhadap perubahan peran agama sebagai pengendali moralitas. Agama dapat dihadirkan sebagai kekuatan integratif dalam menyatukan perbedaan dalam struktur masyarakat yang beragam.
Bagi umat Islam perkotaan, sekularisme tidak hanya dipandang sebagai narasi yang kontraproduktif. Sekularisme tidak lagi diasumsikan sebagai agama saja. Lebih dari itu, sekularisme melibatkan komitmen seperti toleransi, kebebasan berekspresi, demokrasi dan sebagainya yang berkaitan dengan urusan kemanusiaan. Sekularisme menginginkan partisipasi manusia dalam rangka menciptakan normalisasi dan keseimbangan, mengingat aspek tersebut menjadi kohesi peradaban.
Konflik antara agama dan sekularisme menimbulkan perdebatan yang cukup sengit. Pada negara maju, kemakmuran ekonomi tidak ada kaitannya dengan ideologi atau kepercayaan tertentu. Pada konteks ini, agama tidak berfungsi mengatur kesejahteraan dan kemakmuran. Bahkan, agama nampaknya diabaikan karena dianggap tidak bisa menjamin masa depan warganya. Justru, di negara yang terjamin secara ekonomi dan politik, keberadaan agama hanya sekadar hipotesis.
Sebaliknya, ada anggapan jika agama memiliki peran dalam menyejahterakan suatu negara. Islam misalnya, banyak nilai yang bisa diungkapkan dalam kehidupan nyata dan memberikan banyak manfaat. Agama juga tidak lagi menempati ruang privat. Simbol-simbol keagamaan diperbolehkan di ruang publik. Hal ini menegaskan bahwa masyarakat perkotaan telah berperan sebagai agen sosial dan agama adalah aspek penting dalam Pembangunan suatu bangsa.
Aktivisme Berbasis Agama dan Filantropi Perkotaan
Saat ini, keberadaan filantropi tidak hanya meneguhkan semangat kedermawanan dan keberagaman. Apalagi, filantropi didatangkan kelas menengah perkotaan merupakan gerakan yang pertama kali ada berdasar pengaruh situasi sosial politik. Pada masa lalu, filantropi digunakan sebagai gerakan pemberdayaan ekonomi guna menghidupkan kembali kesejahteraan dan membalikkan kemerosotan akibat sistem kolonial yang mengintervensi rakyat jelata.
Islam sangat menganjurkan kegiatan sosial, sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an. Belakangan ini, filantropi dilakukan guna mengatasi berbagai ketidakamanan perekonomian akibat kondisi sosial yang tidak menentu. Filantropi tidak hanya bersifat ekonomi, tapi juga sosial, misalnya pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa filantropi semakin menggugah minat masyarakat perkotaan dengan memainkan peran sentral di dalamnya. Terutama, di kalangan masyarakat perkotaan, filantropi telah melahirkan gerakan pemberdayaan dan pemanfaatan potensi partisipasi masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Di sisi lain, filantropi telah menggambarkan sebuah bentuk peradaban maju yang memajukan keadilan sosial dan kesejahteraan kolektif yang utuh.
Transformasi nilai-nilai kemanusiaan dalam ajaran Islam tidak lepas dari semangat penguatan modal sosial demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Kelompok marginal, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, menyiratkan bahwa sesama makhluk Tuhan saling peduli dan ada kesukarelaan dalam membantu dan mengatasi kesulitan pihak lain. Islam menempatkan kesejahteraan kolektif pada posisi yang mulia. Keempat majelis tersebut menyetujui hal ini dengan mengadakan serangkaian kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan menggalang donasi dan bekerja sama dengan portal penggalangan dana.
Kesimpulan
Inti dari penelitian tersebut adalah menunjukkan bahwa dari keempat majelis yakni Muslim United, Teras Dakwah, Majelis Ar Raudhah, dan Majelis Busytanul Asyiqin telah mensosialisasikan ilmu agama ke dalam ruang publik yang menarik bagi masyarakat perkotaan. Otoritas keagamaan telah bergeser dari lembaga tradisional seperti pesantren atau madrasah, kiai dan ustaz terkenal dan tokoh habaib. Otoritas keagamaan telah bergeser dari eksklusif menjadi inklusif. Apa yang dilakukan oleh para habaib tersebut berkontribusi pada peningkatan literasi keagamaan di kalangan penduduk perkotaan. Selain itu, aktivitas santrinisasi dan kesalehan pada masyarakat perkotaan adalah wujud nyata dari kebenaran ajaran agama.

