(Sumber : Nursyamcentre.com)

Praktik Terapi Sholat Bahagia Sebagai Dakwah Inovatif

Riset Agama

Karya dengan judul "Dakwah Inovatif Pada Masyarakat Urban: Analisis Konsep dan Praktik Terapi Sholat Bahagia" adalah tulisan milik Dr. Abdullah Sattar. Tulisan tersebut merupakan penelitian disertasi yang mengantarkan Sattar meraih gelar Doktor pada tahun 2019. Penelitian itu bertujuan untuk "menguak" dakwah inovatif Ali Aziz melalui terapi sholat bahagia untuk masyarakat urban. Tepatnya, bagaimana terapi sholat bahagia dikomunikasikan oleh Ali Aziz kepada masyarakat urban dan bagaimana responnya. Sattar menggunakan teori difusi inovasi untuk menganalisa dakwah inovatif Ali Aziz ini. Pada review ini akan dijelaskan tiga sub bab. Pertama, sekilas penelitian terapi sholat bahagia. Kedua, kiblat penelitian. Ketiga implikasi teori.

  

Sekilas Penelitian: Terapi Sholat Bahagia

  

Masyarakat urban merupakan masyarakat modern yang memiliki beberapa permasalahan mengenai spiritualitas, salah satunya adalah keterbatasan waktu dalam beribadah. Ali Aziz memberikan solusi bagi permasalahan tersebut. Ia berdakwah dengan inovasi baru, yakni melalui terapi sholat bahagia. Abdullah Sattar jeli melihat fenomena ini untuk diteliti lebih lanjut. Ia meneliti dari segi konsep, praktik dan respon dari masyarakat urban.

  

Abdullah Sattar menjelaskan bahwa dengan situasi dan kondisi masyarakat urban seperti saat ini, maka diperlukan berbagai dakwah yang inovatif. Kriteria atau atribut inovatif dikutip oleh Sattar dari teori milik Everett M. Rogers (1985) dalam buku Diffusion of Innovations. Teori ini menyatakan ada lima atribut sesuatu dianggap sebagai inovasi. Pertama, keunggulan relatif yakni derajat keunggulan inovasi yang dianggap lebih baik dari sebelumnya. Kedua, kesesuaian yakni derajat mengenai konsistensi nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan pengadopsi. Ketiga, kerumitan yakni derajat inovasi dianggap sebagai sesuatu yang sulit dipahami. Keempat, kemampuan diujicobakan yakni derajat inovasi dapat diuji coba dalam batas tertentu. Kelima, kemampuan diamati yakni derajat inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Di dalam analisanya Sattar menjelaskan bahwa terapi sholat bahagia memenuhi seluruh unsur inovasi. Terapi sholat bahagia memiliki keunggulan relatif, kesesuaian, kemampuan diujicobakan, dan kemampuan diamati yang cukup besar serta memiliki kerumitan yang sedikit. Artinya, terapi sholat bahagia adalah sebuah dakwah inovatif yang mudah dan cepat diadopsi.

  

Kiblat Penelitian

  

Penelitian Abdullah Sattar merupakan salah satu penelitian dalam kajian ilmu dakwah. Hal ini dikarenakan Abdullah Sattar meneliti tentang faktor dakwah, yakni metode dan efek dakwah. Sesuai dengan pendapat Nur Syam (2020) dalam artikelnya berjudul “Paradigma dan Teori Ilmu Dakwah: Perspektif Sosiologis” yang terbit pada Jurnal Ilmiah Syiar pada tahun 2020, ia menyatakan bahwa dalam keilmuan dakwah terdapat lima paradigma, salah satunya adalah paradigma faktor. Paradigma faktor dakwah meliputi da’i, pesan, metode, media, dan efek dakwah. Ali Aziz (2015) dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Dakwah” menyatakan bahwa ilmu dakwah adalah proses penyampaian pesan dari da’i, melalui media dan metode tertentu untuk memperoleh perubahan perilaku mad’u. Artinya, apa yang diteliti Abdullah Sattar adalah penelitian yang “berjenis kelamin” keilmuan dakwah.

  

Implikasi Teori

  

Sattar mengungkap bahwa konsep mengenai dakwah inovatif pada masyarakat urban harus mempertimbangkan lima hal. Pertama, penggunaan diksi yang bagus, membangun dan judul dakwah yang menarik. Kedua, teknik penutupan yang klimaks. Artinya, inti dari pesan akan disampaikan pada bagian akhir untuk mempertegas pesan dari dakwah yang disampaikan. Ketiga, pemakaian akronim. Akronim diperlukan guna mempermudah sasaran dakwah untuk mengingat intisari tema dakwah. Keempat, penguatan pesan dakwah yang dapat ditunjang melalui berbagai instumen. Misalnya, hasil riset, situasi kekinian dan testimoni khalayak. Kelima, ajaran yang konkret dan tidak abstrak. Agama adalah ajaran yang jelas dan tidak abstrak, artinya ajaran yang “diusung” juga harus konkrit. Misalnya, ketika seorang hamba menyatakan syukur kepada Allah SWT. Maka, ia harus menyebutkan secara rinci apa saja yang disyukuri.

  

Konsep terapi sholat bahagia disampaikan melalui strategi ganda, yakni publikasi karya akademik-populer dan pelatihan. Karya akademik populer berupa buku berjudul “60 Menit Terapi Sholat Bahagia” dengan keunggulan beberapa keunggulan. Pertama, adanya alternatif tulisan latin untuk tata cara dan bacaan sholat. Kedua, optimalisasi otak kanan dengan memuat foto inspratif, akronim, dan pesan moral bagi pembaca. Ketiga, penguatan pesan dakwah dengan mengutip dari beberapa sumber, seperti hasil penelitian.

  

Praktik terapi sholat bahagia dilakukan melalui pendalaman dengan dua cara. Pertama, mengubah mindset yang berkaitan dengan takdir Allah SWT. Hal ini dilakukan dengan membuat analogi bahkan eksplanasi. Ali Aziz melakukan beberapa analogi, salah satunya mengenai "Ikhlas Menerima Takdir yang Tidak Baik". Ali Aziz memberikan beberapa pertanyaan kepada audiens, apakah sakit rasanya dicubit?, bagaimana jika yang mencubit adalah sang kekasih?, sakit tapi nikmat. Rasa sakit akan berganti dengan rasa senang. Sedangkan eksplanasi untuk mengubah mindset, saah satunya dilakukan dengan memberikan penjelasan bahwa "Rencana Allah SWT pasti lebih baik dari rencana manusia", dengan menambahkan Ayat Alquran surah Al-Baqarah ayat 216.  Kedua, mengoptimalkan otak kanan seperti mengingat kata-kata kunci yang menjadi pokok renungan dalam sholat.

  

Penelitian Sattar tersebut menjelaskan bahwa masyarakat urban merespon positif dakwah terapi sholat bahagia. Respon positif itu ditunjukkan dengan menerima sekaligus mempraktikkan sholat dengan metode terapi sholat bahagia. Mereka merasa bahwa sholat ala terapi sholat bahagia mampu membantu meringankan bahkan menyelesaikan problematika hidup.

  

Kesimpulan

  

Disertasi Abdullah Sattar ini hanya mendeskripsikan bagaimana Ali Aziz melakukan dakwah. Sehingga, disertasi ini tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Sattar hanya membuktikan bahwa terapi sholat bahagia adalah dakwah yang inovatif dan mendapatkan respon baik dari masyarakat. Lepas dari kekurangan tersebut, Sattar memberikan catatan bahwa di era modern seperti saat ini, terutama jika sasaran khalayak adalah masyarakat urban, maka inovasi dalam berdakwah sangat diperlukan. Hal yang perlu menjadi catatan adalah, inovasi selalu terkendala waktu. Inovasi yang terus menerus diulang akan menimbulkan kebosanan. Sehingga, dalam melakukan inovasi sasaran dan waktu menjadi catatan penting. Penelitian dengan tema dakwah inovasi masih belum banyak diteliti. Hal ini menjadi catatan penting bahwa inovasi dalam berdakwah harus senantiasa dikembangkan, terutama ketika mendapat tantangan dari situasi, kondisi bahkan perkembangan zaman. Penelitian Sattar ini belum bersifat final, karena Professor Ali Aziz dapat mengembangkan dakwahnya seiring dengan berjalannya waktu. Berbeda, jika subjek penelitian sudah meninggal sehingga gagasan inovasinya bersifat final.