Basmalah Pada Mukadimah Safinah al-Naja:
Daras FikihOleh: Khobirul Amru
(Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadts Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)
Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat-berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Safinah al-Naja, al-Syekh al-‘Alim al-Fadhil Salim bin Sumayr al-Hadhrami. Untuk beliau, al-Fatihah. Setelah sebelumnya kita mengenal lebih dekat tentang Safinah al-Naja dan penulisnya, pada kesempatan kali ini, marilah kita memulai mengkaji kitab itu dari permulaannya. Bismillaah.
Sebagaimana kebiasaan para ulama yang memulai kitab mereka dengan basmalah, al-Syekh Salim pun demikian. Beliau menuliskan basmalah pada permulaan kitabnya, yang umumnya kita terjemahkan, “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” Kemudian, para ulama yang men-syarah kitab beliau, memberikan beberapa catatan atau penjelasan, baik terkait makna basmalah itu sendiri maupun “alasan” di balik penyebutan basmalah di permulaan kitab beliau. Beberapa catatan atau penjelasan ini lah yang akan kita kaji bersama.
Mengapa al-Syekh Salim Memulai Kitabnya dengan Basmalah?
Pertanyaan yang bisa jadi muncuk di benak para pembaca kitab Safinah al-Naja ini, dijawab oleh para ulama khususnya pen-syarah kitab beliau dengan beberapa jawaban. Kalau dikerucutkan, setidaknya ada dua jawaban. Pertama, sebagai bentuk iqtida’ (meneladani) kitab Allah SWT, al-Qur’an, yang dibuka dengan basmalah.
Bila ada yang bertanya, “Bukankah ayat al-Qur’an yang pertama kali turun adalah iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq (surah al-‘Alaq [96]: 1-5)? Tegasnya, bukankah itu berarti bahwa al-Qur’an dimulai dengan iqra’?” Maka, al-Syekh Nawawi al-Jawi menjawab bahwa yang dimaksud dengan “meneladani kitab Allah, al-Qur’an, yang dibuka dengan basmalah” itu adalah al-Qur’an yang termaktub di al-Lauh al-Mahfudz. Atau bisa juga yang dimaksud adalah al-Qur’an yang kita baca sampai saat ini, yakni setelah melalui proses pengumpulan dan perurutan (ba‘da jam‘ihi wa tartibihi). Tentu yang disebutkan terakhir ini, berdasarkan arahan langsung dari Rasulullah SAW bahasa kerennya, tawqifi sebagaimana disepakati oleh mayoritas ulama.
Selanjutnya, jawaban yang kedua adalah, sebagai bentuk pengamalan terhadap perintah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Terkait hal ini, ada beberapa hadis yang disebutkan oleh para ulama. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Baca Juga : Arsitektur Islam
1. Sesungguhnya hal pertama kali yang ditulis oleh al-Qalam adalah bismillaahirrahmaanirrahiim (basmalah). Maka, apabila kalian menulis suatu kitab/buku, tulislah basmalah itu pada permulaannya. Basmalah itu lah pembuka setiap kitab (samawi) yang diturunkan. Tatkala Jibril turun kepadaku dengan (membawa) basmalah, dia mengulainya sampai 3 kali, “Basmalah itu untuk panjenengan dan untuk umat panjenengan. Maka perintahkanlah mereka untuk tidak meninggalkannya dalam satu pun urusan yang mereka kerjakan. Karena sesungguhnya aku pun tidak pernah meninggalkannya meskipun sekejap mata, sejak ia (basmalah) turun kepada ayahmu, Adam AS. Pun demikian para malaikat.”
2. Apabila kalian menulis suatu kitab, maka tulislah bismillaahirrahmaanirrahiim pada permulaannya. Jika telah engkau tulis, bacalah (basmalah itu).
3. Setiap perkara yang mulia, yang dituntut, atau yang diperbolehkan oleh syariat untuk mengerjakannya; (bila) tidak dimulai dengan bismillaahirrahmaanirrahiim, niscaya seperti hewan yang terputus ekornya, atau seperti orang yang terputus kedua tangannya, atau seperti orang yang jari-jemarinya hilang, atau seperti orang yang terkena judzam (penyakit kulit). (Semua permisalan ini) dalam hal kekurangan dan “perkara” yang bersangkutan secara syariat, meskipun secara lahir terlihat sempurna. (Terjemah ini merujuk pada penjelasan al-Syekh Nawawi al-Jawi terkait makna dari beberapa versi riwayat hadis tentang basmalah, berdasarkan pendapat para ulama yang beliau nukil)
4. Berakhlaklah kalian dengan “akhlak” Allah.
Adapun korelasi hadis yang keempat dengan pentingnya basmalah sebagai permulaan suatu kitab/buku, al-Syekh Nawawi al-Jawi menjelaskan, “Tidak diragukan lagi, bahwa “kebiasaan” Allah SWT dalam memulai setiap surah adalah mendatangkan basmalah, kecuali bara’ah (surah al-Taubah). Oleh karena itu, kita diperintahkan pula untuk mendatangkannya (dalam setiap memulai suatu kitab/buku).” Tegasnya, bila “akhlak” Allah saja demikian dalam memulai surah dalam al-Qur’an (kecuali surah al-Taubah), tentu kita sebagai hamba-Nya patut untuk meneladaninya.
Sebelum lanjut pada pembahasan tentang keutamaan basmalah, ada baiknya penulis kutipkan beberapa hukum fikih terkait basmalah dari para pen-syarah kitab Safinah al-Naja. Yakni sebagai berikut:
1. Wajib, seperti membaca basmalah di dalam salat (saat membaca surah al-Fatihah)
2. Haram, seperti membaca basmalah saat meminum khamr.
Baca Juga : Menguji Kekuatan Hukum Dan Politik PDI-P: Kasus Hasto Kristiyanto
3. Makruh, seperti mencabut uban dan melihat sesuatu yang makruh dilihat.
4. Sunah, dengan 3 syarat. Pertama, perkara yang dikerjakan bukanlah perkara yang haram lidzatihi, makruh lidzatihi dan perkara-perkara yang remeh/hina. Kedua, perkara yang dikerjakan bukanlah dzikir yang murni (seperti kalimat tahlil). Ketiga, syariat tidak menetapkan permulaan lain bagi perkara yang dikerjakan.
5. Mubah, seperti memindah perhiasan dari satu tempat ke tempat lain. Namun, sebagian ulama menganggap tidak ada hukum mubah bagi basmalah, dengan alasan, “Suatu perkara yang hukum asalnya adalah sunah, tidak akan “termasuki” hukum mubah.”
Keutamaan Basmalah
Di antara keutamaan basmalah, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Syekh Muhammad bin ‘Ali Ba‘athiyah, adalah sebagai berikut:
1. Merupakan ayat yang pertama kali disampaikan kepada Rasulullah, setiap kali wahyu turun. Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila Jibril datang kepadaku dengan membawa wahyu, maka pertama kali yang dia sampaikan adalah bismillaahirrahmaanirrahiim.” (HR. al-Daruquthni)
2. Mengandung Ism Allah al-A‘dzam, yang apabila seseorang berdoa dengannya, niscaya akan Allah SWT kabulkan.
Baca Juga : Tujuh Belas Agustusan: Jangan Lupa Peran Ulama (Bagian Akhir)
3. Barang siapa membacanya, maka gunung-gunung akan ikut bertasbih bersamanya dan ia akan memperoleh kemuliaan yang telah diperoleh Nabi Dawud AS. Bahwa Umm al-Mu’minin ‘Aisyah RA berkata, “Tatkala basmalah turun, gunung-gunung bertasbih hingga penduduk Mekah mendengarnya. Mereka pun berkata, ‘Muhammad telah menyihir gunung-gunung.’ Maka Allah “mengutus” asap/kabut sehingga membayangi penduduk Mekah itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa membaca basmalah dengan penuh keyakinan, niscaya gunung-gunung ikut bertasbih bersamanya, hanya saja ia tidak mendengar suaranya.’” (HR. Abu Nu‘aim dan Ibnu al-Sinni)
4. Apa yang disampaikan oleh Jabir bin ‘Abdullah RA bahwa tatkala basmalah turun, awan mendung “berlarian” ke arah timur, hembusan angin menjadi tenang, lautan berombak-bergelombang, hewan-hewan ternak turut mendengarkan penuh perhatian, dan setan-setan dikutuk. Allah pun bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya bahwa tidak lah nama-Nya disebut atas sesuatu melainkan Dia akan memberkahinya.
Demikian kajian kitab Safinah al-Naja pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, serta bisa kita lanjutkan pada kesempatan-kesempatan berikutnya, bi idznillaah. Aamin, wa shalla Allah ‘ala sayyidina Muhammad al-Mushtafa.
Referensi:
Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi, Kasyifah al-Saja: Syarah Safinah al-Naja (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2011), 25-27.
Muhammad bin Ahmad ‘Amuh, Manar al-Huda: Syarah Safinah al-Naja (t.tp.: Dar al-Maturidiyyah, t.t.), 10.
Sayyid Ahmad bin ‘Umar al-Syathiri, Nail al-Raja’ bi Syarh Safinah al-Naja’ (Beirut: Dar al-Minhaj, 2007), 49-50.
Muhammad bin ‘Ali Ba‘athiyah, Ghayah al-Muna: Syarah Safinah al-Naja (Tarim: Maktabah Tarim al-Haditsah, 2008), 23.

