(Sumber : Kabar Damai )

Vernakularisasi Teologi Islam dalam Sastra Jawa

Riset Agama

Artikel berjudul “Beyond” Syncretism: Evidence of the Vernacularization of Islamic Theological Terms in Javanese Literature in the 19th Century” merupakan karya H. Zuhri. Tulisan ini terbit di Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies tahun 2022. Penelitian ini berusaha menganalisis lebih dalam terkait sastra Jawa guna membahas post-sinkretisme dalam kajian Islam. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Islam dan sastra Jawa. Ketiga, tentang Tuhan. Keempat, tentang malaikat, al-Qur’an nabi/rosul. Kelima, hari akhir dan takdir Tuhan. 

  

Pendahuluan

  

Kajian mengenai sastra Jawa dan Islam telah mengalami peningkatan, terutama pasca berkembangnya kajian Islam pada abad 19. Terdapat dua aliran pemikiran kajian mengenai positioning kajian sastra Jawa dan Islam. Pertama, Islam Jawa yang fokus pada Islam versi asli. Kedua, Javanese Islam yang sering kali disebut sebagai agama Jawa. Pandangan kedua ini menekankan perspektif antropologi. 

  

Setelah tahun 1300, Islam mengakar kuat dalam masyarakat Jawa. Sastra Jawa mengajarkan agama dan tradisi. Misalnya, Suluk Sunan Bonang, Suluk Kadresan, dan Suluk Regol adalah beberapa contoh sastra Islam Jawa tertua. Sastra Jawa Islam meliputi terjemahan dalam Aksara Jawa dan Pegon yang ditulis bahasa Jawa dengan akssara Arab. 

  

Theodore G. Pigeaud dalam tulisannya berjudul “Literature of Java” menganggap bahwa warisan budaya dan intelektual peradaban Jawa menjadi hal yang perlu. Islam tumbuh di Jawa karena tradisi lisan mempengaruhi wacananya. Antropolog seperti Clifford Geertz mengusulkan istilah “Agama Jawa” sebagai salah satu yang didasarkan pada literatur dan tradisi. Koentjaraningrat kemudian menyoroti apa yang disebut Clifford Geertz sebagai budaya jawa. Titik temu antara keduanya adalah dimensi Islam terbatas pada dimensi antropologis. 

  

Islam dan Sastra Jawa 

  

Sastra termasuk terjemahan dan deskripsi terminologi teologi Islam ke dalam bahasa Jawa yang dapat ditemukan dalam tiga jenis teks. Pertama, jenis teks yang diciptakan melalui proses penulisan pengetahuan dan berkaitan dengan Islam dalam bahasa Jawa kuno oleh para ‘pujangga’ keraton. Proses ini menghasilkan karya dalam bahasa Jawa seperti Serat Centhini. Kedua, jenis teks berisi teologi Islam yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Ketiga, jenis teks yang juga memuat teologi Islam seperti “Niat Ingsun Ngaji”. Ketiga jenis teks ini menunjukkan dinamika dan pola perkembangan sebagai istilah teologi Islam yang berinteraksi dengan budaya dan bahasa Jawa di abad 19. 

  

Salah satu faktor penting dalam perkembangan wacana teologi Islam Jawa adalah proses pembelajaran Islam dan dakwah yang diterima dan berkembang di masyarakat Jawa, salah satunya dengan melibatkan para intelek muslim. Konfigurasi pemikiran Islam yang dinamis semacam itu menghasilkan pemikiran Islam yang inklusif dan egaliter karena karakter umat Islam di Jawa. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika bahasa menjadi pemicu kristalisasi agama dan fenomena sosial. Selain itu, bahasa baik lokal maupun nasional dapat membantu membangun harmonisasi sosial. Kristalisasi ajaran agama, kerukunan dan disharmoni sosial dimungkinkan karena agama dipahami sebagai sistem bersama yang diorganisir pada makna transedental yang menjadi dasar bagi banyaknya interpretasi terutama yang berkaitan dengan prinsip istilah keagamaan, seperti Tuhan.


Baca Juga : Pesan Sang Pencipta Kepada CiptaanNya

  

Tentang Tuhan

  

Pembahasan tentang Tuhan selalu menjadi isu mendasar dalam agama apapun. Konsep ketuhanan bagi orang Jawa, relatif sederhana. Berdasarkan segi linguistik, istilah Gusti Allah dan Allah menggambarkan Tuhan sebagai pencipta seluruh alam. Gambaran Tuhan dalam Islam ada dalam konteks budaya Jawa. Sumber esensial konsep Tuhan terdapat dalam Nawaruci, kitab Prosa Bali-Jawa di awal abad ke tujuh. Di dalam Serat Wijil, ada pembahasan yang cukup rumit tentang Tuhan. Ketika interkasi antara Islam dan budaya Jawa semakin intens, Jawanisasi Islam belum memiliki ciri khasnya. Perbedaan linguistik dan genealogi gagasan merupakan potensi simbolisasi yang memungkinkan kekayaan makna dalam budaya Jawa. 

  

Terdapat beberapa istilah yang biasanya digunakan orang Jawa dalam kaitannya dengan Tuhan. Pertama, istilah “Pangeran” yang sering kali dikaitkan dengan konsep Ilah (ilahi) guna menunjukkan konsep Tuhan yang lebih spesifik, yakni Allah. Contohnya adalah kalimat “ora ana Pangeran, anging ingsun dzat kang angliputing kahanan jati…” (tidak ada Tuhan sselain aku (Allah) yang menutupi seluruh alam. Kedua, istilah “Hyang Widdhi”. Istilah tersebut bukan hanya berlaku bagi Tuhan agama lain, melainkan menjelaskan konsep Tuhan dalam Islam. Di dalam al-Qur’an, Allah juga didokumentasikan dengan istilah “al-rabb” dan “ilah”. 

  

Tentang Malaikat, al-Qur’an, dan Nabi atau Rosul

  

Istilah lain yang paling sering diungkapkan dalam bahasa Jawa selain Allah adalah malaikat, Qur’an, nabi atau rosul. Kata-kata ini mengarah pada gagasan bahwa ada inkulturasi Islam dalam budaya Jawa. Namun, pada kenyataannya masalah ini tidak ada hubungannya dengan inkulturasi. Sebaliknya, justru berhubungan dengan vernakularisasi. Upaya tersebut dilakukan guna memfasilitasi penyerapan gagasan ke dalam penalaran kolektif masyarakat Jawa. 

  

Penjelasan mengenai malaikat di bahas dalam satu bab tersendiri dalam buku “Aqidah Islamiyyah”. Hal ini merupakan temuan yang mengejutkan, menginat buku tersebut dimaksudkan untuk membahas tauhid bagi pembelajar pemula. Mengenai al-Qur’an, disebut dengan kata “Kuran” yang dijelaskan bahwa membaca kitab suci dianggap sebagai kebajikan umat Islam. Al-Qur’an disebutkan sebagai kitab yang menjelaskan sifat Tuhan “al-Kalam”. 

  

Kemudian, dalam menjelaskan terkait nabi, sastra Islam Jawa menampilkan penghormatan yang tinggi terhadap nabi yang sejalan dengan norma sosial masyarakat muslim. Misalnya, nama Muhammad yang selalu disertai dengan “kanjeng”. Istilah “kanjeng” melekat pada Nabi Muhammad, sebagaimana istilah “gusti” yang melekat pada kata Allah SWT. Istilah kenabian bersifat teologis dalam berbagai subkonsep. Di satu sisi, interpretasi dalam bahasa Jawa membuat konsep dan subkonsep lebih mudah dipahami, tetapi istilah-istilahnya menjadi lebih terbuka untuk interpretasi. 

  

Hari Akhir dan Takdir Tuhan

  

Pada literatur Islam Jawa, hari kiamat ditulis dalam konteks keimanan. Istilah hari kiamat dikenal dengan “man dina akhir”. Konteks hari kiamat ditekankan pada tanda-tanda kiamat. Pola penafsiran menitiberatkan pada dimensi dan aspek penanda, bukan pada tanda dan substansi merupakan pola umum yang digunakan dalam diskursus teologi Islam pada hari kiamat. 

  

Pada kaitannya kehendak bebas manusia dan takdir Tuhan menunjukkan kekuasaan Tuhan lebih dominan. Hal ini tercantum dalam petikan “Mung Ingsun kang anglimputi inga lam kabeh kalawan kudratingsun.” Kemudian, gagasan mengenai takdir secara tegas dihadirkan dalam konteks kemanusiaan, sebagaimana pernyataan “ing panepen seh amongraga mejang garwanipun bab asal lan kodrat dumadosing manungsa.” 

  

Penutup

  

Istilah teologi Islam dalam sastra Jawa terjadi dalam vernakularisasi istilah Arab ke dalam bahasa Jawa dengan menambahkan serta menerjemahkan istilah-istilah tersebut. Hasil penelitian ini secara garis besar menunjukkan bahwa sastra Jawa mencerminkan penyebaran teologi Islam melalui bahasa Jawa dan wacananya. Istilah teologi yang penting dan sering disebut alah Allah, malaikat, al-Qur’an, nabi, dan hari akhir yang memiliki makna tetap dalam teks Jawa. Perbedaan yang muncul hanya ejaan, lafal dan penulisan saat dialihkan dari bahasa Arab ke bahasa Jawa dan aksara pegon. Pribumisasi berfungsi sebagai alat transmisi pengetahuan, sedangkan substansi, makna dan kandungannya tidak berubah. Oleh karena itu tidak ada sinkretisme yang digunakan dalam pribumisasi ini. Sinkretisme mungkin berlangsung di wilayah budaya, tetapi tidak dalam konteks teologis. Sayangnya, artikel ini tidak membahas mengenai konsep vernakulasi secara detail.