Kecerdasan Spiritual Sebagai Landasan Politik Multikulturalisme
Riset BudayaArtikel berjudul “Spiritual Intelligence as the Politics of Multiculturalism Among Javanese Muslim Migrants in Maluku” merupakan karya Joberth Tupan, Izak Y.M Lattu, dan Wilson M.A Therik. Tulisan ini terbit di Journal of Indonesian Islam (JIIS) tahun 2022. Penelitian tersebut mencoba mengeksplorasi bagaimana kecerdasan spiritual menjadi basis politik multikultural di kalangan muslim Jawa yang berimigrasi ke Provinsi Maluku. Kecerdasan spiritual dalam penelitian tersebut mengacu pada pemahaman nilai-nilai Kejawaan yakni menerima apa yang diberikan oleh kehidupan (nrimo ing pandum), empati (tepa salira), memperindah dunia (memayu hayuning bawana), serta bagaimana nilai-nilai tersebut memperkaya pluralisme dalam kehidupan. Terdapat empat sub bab dalam review ini. Pertama, konsepsi dasar kecerdasan spiritual. Kedua, pluralitas secara rohani. Ketiga, kecerdasan spiritual dan filsafat Jawa. Keempat, kecerdasan spiritual sebagai landasan politik multikultural.
Konsepsi Dasar Kecerdasan Spiritual
Pada awal artikel tersebut, peneliti menuliskan pemahaman mengenai kecerdasan spiritual terlebih dahulu. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa manusia memiliki tiga kecerdasan yakni Kecerdasan Emosional (EQ), Kecerdasan Intelektual (IQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ) terkait dengan perwujudan nilai-nilai universal dari kebaikan bersama. Kecerdasan spiritual berkisar pada tiga gagasan penting. Pertama, kecerdasan spiritual adalah semua yang dimiliki seseorang dalam dirinya yang berkaitan dengan nilai dan makna yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, penting untuk mengenali dan menata hati nurani manusia secara adaptif dan responsif dengan menggunakan kecerdasan spiritual. Ketiga, kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia mengatur sumber daya non-materi yang ditunjukkan dengan keterlibatannya dalam ritus atau ritual keagamaan.
Lalu bagaimana kecerdasan spiritual bisa dijadikan sebagai landasan politik multikulturalisme? Pada konteks Indonesia, kolonialisme mungkin memiliki keragaman yang mampu bersatu. Pluralisme dewasa ini telah menghasilkan relasi yang tercerai-berai dalam artian demokrasi dan retaknya ikatan antarpribadi. Peneliti juga mengambil beberapa pendapat mengenai relasi keduanya. Pertama, pendapat Furnivall dalam tulisannya berjudul “Netherlands India: A Study of Plural Economy” menyatakan bahwa masyarakat majemuk adalah mereka yang hidup berdampingan dengan interaksi terbatas, terhindar dari aktivitas ekonomi, memiliki latar belakang etnis dan keyakinan agama yang berbeda. Kedua, Hefner menanggapinya dalam karya “The Politics of Multiculturalism, Pluralism and Citizenship in Malaysia, Singapore, and Indonesia” bahwa aspek sejarah juga menyatukan keragaman, bukan hanya kegiatan ekonomi saja. Ketiga, Zohar dan Marshall mencatat dalam tulisannya berjudul “SQ; Wolman, Thinking with your Soul; Vaughan, ―What is Spiritual Intelligence? Bahwa merangkul keragaman dengan menunjukkan penerimaan dan kekaguman terhadap mereka yang berbeda adalah salah satu komponen dari dimenesi kecerdasan spiritual.
Kecerdasan spiritual yang dikembangkan adalah korelasi antar filosofi Jawa yakni menerima Nasib (nrimo ing pandum), empati (tepa slira), mempercantik dunia (memayu hayuning bawana) dan pluralisme dalam konteks Maluku. Hasilnya, kecerdasan spiritual yang terwujud sebagai strategi bertahan hidup dan kinerja empati adalah konsekuensi akhir dari anggapan filsafat sebagai teks dan pluralisme dari makna konteks.
Pluralitas Secara Rohani
Tidak dapat dipungkiri bahwa pluralitas menciptakan situasi yang problematik dalam kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan agama, etnis, maupun budaya. Selain itu, pluralitas memunculkan pilihan yakni apakah lebih baik hidup dalam kelompok yang memiliki keyakinan agama, etnis dan budaya yang sama untuk melindungi identitas, atau hidup inklusif dengan menerima pluralitas itu sendiri. Pilihan ini juga dihadapi oleh para perantau Jawa di Maluku yang penuh tantangan. Misalnya, masalah terkait lahan, perbedaan budaya, tradisi sekaligus kepercayaan. Jika pendatang Jawa tidak mampu mengelola keragaman dan perbedaan dalam hubungan yang harmonis, maka akan menimbulkan konflik horizontal. Catatan dari penelitian tersebut adalah penerimaan dan perayaan keragaman dan perbedaan membutuhkan spiritualitas dan kecerdasan yang terintegrasi. Sifat tersebut tidak lepad dari kebajikan atau nilai kebaikan manusia, termasuk menjunjung tinggi keberagaman.
Kecerdasan Spiritual dan Filsafat Jawa
Baca Juga : Grey/Apri dalam Olimpiade Tokyo: Gelora Nasionalisme dan Persahabatan
Kecerdasan spiritual berkaitan dengan keyakinan inti seseorang yang dipengaruhi oleh filsafat. Hal ini tidak lepas dari pandangan hidup seseorang sesuai dengan budayanya. Selain itu, kecerdasan spiritual diturunkan untuk menciptakan keharmonisan. Kerukunan dalam filosofi Jawa didasarkan pada pemahaman dan penghormatan individu yang kemudian dipraktikkan dengan beberapa cara. Pertama, nrimo ing pandum yakni kecerdasan spiritual dalam strategi bertahan hidup. Nrimo ing pandum sebagai kecerdasan spiritual menunjukkan perubahan sosial yang terjadi secara adaptif dan responsif seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Kecerdasan spiritual adalah tindakan responsif terhadap situasi dan konteks sekaligus kemampuan belajar dan mengubah hambatan menjadi peluang. Selain itu, nrimo ing pandum sebagai strategi bertahan hidup memberikan kemakmuran.
Kedua, tepa slira yakni kecerdasan spiritual melalui empati. Makna tepa slira sebenarnya tidak hanya melalui empati melainkan kemampuan menerima keragaman dan perbedaan yang membutuhkan rasa hormat. Tepa slira oleh para perantau Jawa dianggap dengan memori, negosiasi, inklusivitas dan imajinasi yang ditampilkan dalam konteks pluralitas.
Ketiga, memayu hayuning bawana yakni kecerdasan spiritual sebagai rasa kepedulian untuk memperindah bumi atau dunia. Bagi para perantau Jawa, memayu hayuning bawana memiliki makna filosofis tentang perbuatan baik untuk memperindah dunia. Mereka memahami konsep dunia sebagai sesuatu yang berhubungan dengan spiritual, material dan relasi.
Kecerdasan Spiritual Sebagai Landasan Politik Multikultural
Kecerdasan spiritual di Maluku lahir dari filosofi Jawa dan pluralitas. Hal pertama adalah menempatkan kecerdasan spiritual sebagai filsafat. Selain itu, kecerdasan spiritual adalah tindakan yang dipengaruhi oleh keyakinan terdalamnya, sedangkan keyakinan terdalam manusia dibangun oleh informasi spiritual (filsafat). Kecerdasan spiritual juga mempengaruhi tubuh, pikiran, jiwa dan kehidupan untuk berjalan di sepanjang keyakinan terdalam.
Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual di kalangan imigran Jawa tidak bersumber dari agama Islam, melainkan lahir dari hati nurani dan logika. Artinya, nilai Jawa dimunculkan guna membangun politik multikultural dalam bertahan dan berempati, melainkan juga dalam kontribusi sebagai aktor sosial yang menyuarakan moderasi beragama. tujuannya adalah menciptakan lingkungan kehidupan yang stabil, adaptif, dan harmonis bagi para pendatang Jawa di Maluku.
Kesimpulan
Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa politik multikultural di kalangan pendatang muslim Jawa tidak lepas dari kecerdasan spiritual pada nilai-nilai Jawa, agar solidaritas sosial antar agama tetap terjaga. Kecerdasan spiritual mengadopsi nilai-nilai Islam yang terkait dengan landasan filosofis nilai-nilai Jawa yang dibawa. Di Indonesia, muatan keragaman dan perbedaan terkadang menjadi titik lemah demokrasi yang memicu radikalisme, disintegrasi, interaksi disosiatif, rasisme dan ekstremisme dalam hubungan antar agama dan etnis. Nasionalisme dalam pembangunan terbatas pada penyediaan infrastruktur pemerintah untuk kelompok tertentu dan hubungan antar budaya kehilangan arti pentingnya sebagai landasan pembangunan berkelanjutan. Penelitian tersebut dituliskan secara runtut dan detail, termasuk metode yang digunakan. Pembaca juga tidak perlu meragukan atau bingung, karena banyak kutipan yang diambil dan digunakan sebagai sumber dan pembanding. Maka, segala argumentasinya jelas kualitasnya.

