(Sumber : App-Store)

Kekuasaan dan Hubungan Budaya antar Kesultanan

Riset Budaya

Artikel berjudul “The Use of the Aboge Calendar in the Jambi Manuscripts: Power and Cultural Relations between Sultanates” merupakan karya Irmawati Sagala dan Tasnim Rahman Fitra. Tulisan tersebut terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2024. Tujuan dari penelitian tersebut mendeskripsikan penggunaan sistem Kalender Aboge dalam naskah Kesultanan Jambi dan menganalisis konteks sejarah periode tersebut. Metode fiologi guna menguraikan naskah tersebut dan menerapkan pendekatan historis dan astronomi guna mempelajari teks tersebut. Terdapat beberapa naskah Kesultanan Jambi abad ke-17 hingga abad 20 yang menggunakan klorofon dengan gaya kalender Aboge. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, kalender Aboge dan naskah Jambi. ketiga, analisis konversi kalender Aboge. keempat, kalender Aboge dan historiografi Jambi. 

   

Pendahuluan

  

Penggunaan kalender Jawa Aboge di Jambi disebabkan adanya hubungan antara Kesultanan Jambi dengan Kerajaan Mataram Jawa. Beberapa naskah Jambi menegaskan hubungan tersebut. Kisah ini setidaknya terekam dalam naskah berjudul “Hikajat Negeri Jambi (HNJ)” dan “Hikayat Toean Telani (HTT)” yang tersimpan di Leiden. Keduanya menceritakan bahwa saat hendak meninggal dunia,Datuk Paduka Berhala pendiri Kerajaan Jambi memerintahkan putranya Datuk Paduka  Ningsum untuk menyampaikan penghormatan tahunan kepada Sultan Mataram. Datuk Paduka Ninngsum melaksanakan perintah tersebut hingga meninggal dunia. Orang Kayo Hitam putra Datuk Paduka Ninngsum yang mewarisi takhta tidak mau melanjutkan tradisi tersebut, hingga menyebabkan Sultan Mataram mengirim surat peringatan pada tahun ketiga. Orang Kayo Hitam kemudian berangkat ke Mataram dengan menyamar bersama dua saudaranya. 

  

Di Mataram, mereka menemukan seorang pandai besi yang ditugaskan Sultan untuk membuat keris untuk membunuh Orang Hayo Hitam. Setelah mengetahui keris tersebut, Orang Kayo Hitam mengambilnya, membunuh pengrajinnya, dan membuat kekacauan di Pasar. Setelah mendengar hal itu, Sultan datang ke pasar untuk menyelidikinya. Ia akhirnya mengundang Orang Kayo Hitam dan saudaranya ke istana. Setelah proses negosiasi, Sultan mengizinkan mereka kembali ke Jambi dengan membawa keris, dua tombak, dan pedagang sebagai hadiah dari Sultan Mataram, serta menjamin penghapusan upeti tahunan. 

  

Meskipun naskah abad 19 dan 20 menunjukkan subordinasi dan konflik Jambi dengan Mataram, hanya ada sedikit studi yang dilakukan terkait hubungan mereka dari awal berdirinya kerajaan hingga akhir Kesultanan. Namun, beberapa ilmuwan telah melakukan penelitian mengenai angka dan klorofon, sebuah prasasti yang ditempatkan pada akhir sebuah buku atau naskah yang memberikan rincian penerbitannya, dalam naskah Melayu. 

  

Kalender Aboge dan Naskah Jambi

  

Sistem kalender Aboge memiliki sejarah panjang yang melekat pada masyarakat Jawa. Sistem ini lahir sebagai cikal bakal penyempurnaan kalender Saka. Kalender Saka adalah kalender dengan sistem Shamsiah-Qamariyah, gabungan sistem lunar dan solar. Kalender ini berasal dari India dan  masih digunakan oleh masyarakat Hindu. Masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka hingga abad 17. Pada masa awal perkembangan Islam, kalender Saka digunakan bersama dengan kalender Hijriah, seperti halnya yang terjadi pada Kesultanan Demak, Banten dan Mataram. Pada tahun 1633 M, Sultan Agung dari Mataram menghapuskan kalender Saka dan memperkenalkan kalender Islam-Jawa yang identik dengan sistem Hijriah. Kalender ini mengandung campuran antara Jawa, Hindu, dan Islam, di mana penanggalan di mulai pada tanggal 1 Sura tahun Alip tahun 1555, yang berarti jaruh bersamaan dengan 1 Muharram 1043 H atau 8 Juli 1633 M. 

  

Kalender Jawa Islam dikenal dengan nama Kalender Aboge yakni singkatan “Alip Rebo Wage” yang berarti tanggal 1 Muharram tahun Alif jatuh pada hari Rebo Pasaran Wage. Aboge menggunakan perhitungan kalender dasar dalam satu Windu atau delapan tahun, sehingga sistem Aboge merupakan perhitungan siklus periode. Model kalender Aboge kemudian menyebar ke seluruh wilayah kekuasaan Mataram, termasuk beberapa daerah di pulau Sumatera yang secara historis mengalami akulturasi budaya dari Kerajaan Mataram. Meskipun jarang, beberapa naskah Jambi juga menggunakan Kalender Aboge secara tunggal atau bersama Kalender Hijriah. Klorofon yang menggunakan kalender Hinjiriah disertai huruf tahun menunjukkan bahwa kalender Aboge adalah bagian dari perkembangan Islam di Jambi. 


Baca Juga : Raih Gelar Doktor Dengan Meneliti Konversi Agama di Perkotaan

  

Analisis Konversi Kalender Aboge

  

Terdapat naskah-naskah Jambi abad 17 hingga 20 yang terindikasi menggunakan kalender Aboge menemukan beberapa penulisan tanggal yang tidak lengkap, seperti tidak mencantumkan tahun, hanya menyebutkan tahun, dan nama tahun dalam bahasa Arab, atau hanya menyebutkan nama tahun dalam bahasa Arab tanpa menyebutkan tahun secara jelas. Misalnya, pada naskah “Kitab Oendang-Oendang Adat Djambi” dan koleksi naskah Desa Batu Penyambung, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun. 

  

Naskah tertua yang menggunakan kalender Aboge adalah “Contract met Sultan Jambi, Anom, 21 Agustus, 1681.” Pada akhir naskah, tertulis “Ditulis dan diputuskan di Jambi pada tanggal 1681 Hijriah.” Kalender Aboge juga terdapat dalam kumpulan piagam-surat kesultanan di Serampas, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Setidaknya ada dua surat dari keseluruhan yang menggunakan kalender Aboge dan masih terbaca jelas, di samping satu teks yang menunjukkan kalender Aboge tetapi tidak terbaca lagi karena kertasnya rusak. Surat pertama diawali dengan kalimat: \"Hijrahnya Nabi SAW tahun 1120 ke tahun Ba ke tiga likur hari bulan Syawal ke hari Jumat ke waktu Zuhur ke waktu Duli Pangiran [Suta] Wijaya…\" Ijtima` yang menentukan awal bulan Syawal 1120 H jatuh pada hari Rabu, 12 Desember 1708 M, pukul 10.42 WIB. Surat kedua Piagam Serampas diawali dengan kalimat: \"Hijrah Nabi SAW tahun 1173 kepada tahun Jim pada hari kelima belas bulan Shafar pada hari Senin, bahwa ini adalah piagam dan stempel dari Duli Sultan Anum Seri Ingalaga...\". Ijtima` awal Bulan Shafr 1173 H jatuh pada hari Jum\'at, 21 September 1759 M, pukul 14:32:15.45.

  

Penulisan kalender Aboge yang tidak lengkap juga ditemukan pada naskah Desa Batu Penyambung (Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun). Di akhir naskah, identitas penulis naskah ditulis dengan kalender Aboge dengan transliterasi berikut: \"Pada tahun Zai, pada hari ke-17 hari Selasa, saya menulis ini sebagaimana adanya.\" Pada naskah ini, informasi kolofon lebih sedikit lagi, sehingga sulit untuk memperkirakan tanggal dan konteks sejarahnya. Selanjutnya, dalam naskah Hikaijat Toean Telanai (HTT) tertulis kalimat penutup: \"Telah selesai kami salin kisah ini hingga pada tarikh tahun 1278 Alif tanggal 20 bulan Jumadil Akhir. Pada penghujung hari Ahad, pukul 2 siang, surat itu ditulis oleh Kemas Hasanuddin bin Kemas Haji Mahyuddin Khatib Penghulu bin Almarhum Haji Mas\' ud Penghulu fi Bilad Palimban Kampung 17 Ilir Darul-Aman.” Melalui ijtima\', ditetapkanlah awal bulan Jumadil Akhir pada hari Senin, tanggal 2 Desember 1861, pukul 09:17:24 WIB.

  

Kalender Aboge dan Historiografi Jambi

   

Ilmu astronomi memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban manusia. Berdasarkan catatan sejarah bangsa-bangsa yang pertama kali mempelajari ilmu falak pada abad ke-28 SM, seperti Mesir, Mesopotamia, Babilonia, India, dan Cina, pada awalnya bertujuan untuk menghasilkan perhitungan waktu guna menentukan waktu beribadah. Lebih jauh, alat ukur waktu yang juga dikenal dengan almanak berfungsi sebagai alat perencanaan dan evaluasi kegiatan suatu masyarakat di bidang pertanian, ekonomi, dan ritual keagamaan. Berdasar segi kekuasaan, ilmu astronomi menjadi salah satu media penting dalam merekayasa sistem sosial dan memperkuat pengaruh kekuasaan.

  

Meskipun kisah hubungan Jambi-Mataram dalam naskah-naskah yang ditemukan bernuansa cerita rakyat, namun catatan kolonial menunjukkan bahwa Jambi secara suka rela telah menjadikan dirinya sebagai wilayah bawahan Mataram antara tahun 1640-an dan paling tidak 1660-an atau setelahnya. Merujuk pada laporan VOC di Arsip Nasional Belanda, penguasa Jambi secara rutin mendatangi Mataram dengan membawa upeti selama kurun waktu tersebut. Tidak hanya memberikan upeti, catatan kolonial juga menyebutkan bahwa pengaruh Mataram terhadap Kesultanan Jambi juga terjadi dalam aspek budaya, di mana mereka bahkan meniru busana dan tata krama keraton Jambi. Berdasarkan perspektif ini, dapat dipahami pula mengapa gelar-gelar bangsawan Jambi sebagian juga menyerupai gelar-gelar Jawa daripada istilah-istilah Melayu.

  

Namun, konteks historis kondisi sosial politik Jambi pada masa itu dapat dianggap sebagai \"pencarian identifikasi diri\" atas perkembangan sosial politik daerah. Tanggal naskah yang berkisar antara akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20 merupakan saat Jambi memasuki periode krusial integrasi Islam dan adat istiadat. Semua naskah yang membicarakan hubungan Jambi-Mataram ditulis pada kurun waktu ini. Pada kurun waktu ini, sedikitnya telah ditulis dua naskah hukum Jambi yang bernuansa Islam, dan ditemukan beberapa naskah yang terkait dengan penerapan hukum Islam. Berdasarkan segi politik, Kesultanan Jambi juga berupaya menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Utsmani pada kurun waktu ini. Dengan demikian, penggunaan kalender Aboge di Jambi menunjukkan adanya pengaruh sosial-politik Mataram terhadap Jambi. Akulturasi budaya Mataram dengan sistem kalender Jawa Islamnya terlihat jelas pada kalender Aboge Jambi, baik dari sistemnya maupun penyajian kalender tersebut dalam beberapa naskah.

  

Sistem penanggalan sebagai produk budaya memengaruhi berbagai naskahJambi dengan tema-tema yang menyertainya. Penggunaan sistem Aboge ini dalam penanggalan memberikan bukti yang cukup tentang hubungan kekuasaan antara Jambi dan Mataram. Meskipun beberapa naskah dipengaruhi oleh Aceh (Syiah Kuala) dan Minangkabau (Tariqa Gaya Shattariya), tidak dapat disangkal bahwa sistem kalender yang digunakan adalah sistem yang bercorak Mataram karena pengaruhnya hanya terdapat di beberapa bagian saja. 

  

Kesimpulan 

  

Analisis kalender Aboge dalam naskah-naskah tersebut memperkuat argumen terkait pengaruh Kerajaan Mataram Jawa terhadap Kesultanan Jambi. Sebagaimana diketahui dalam sejarah Kesultanan Jambi, baik hubungan kekuasaan maupun budaya. Sebaliknya, penggunaan kalender Aboge di Jambi juga menunjukkan hubungan antara Kesultanan Jambi dengan Aceh dan Sumatera Barat, di mana beberapa Aboge mencerminkan modifikasi Aceh dan Tariqa Shattariya. Hubungan Jambi-Minangkabau telah terbentuk sejak lama dan sempat menguat dalam hubungan politik pada abad ke-17 dan ke-18, menjadi kurang signifikan pada abad-abad berikutnya. Akan tetapi, banyaknya suku bangsa Minangkabau yang bermukim di dataran tinggi Jambi menyebabkan kuatnya hubungan budaya Jambi-Minangkabau hingga era kontemporer.