(Sumber : www.nursyamcentre.com )

Pengaruh Budaya Islam dan Bahasa Arab Terhadap Berbagai Bahasa Nusantara

Riset Budaya

Tulisan berjudul “Islamic Cultural and Arabic Linguistic Influence of the Languages of Nusantara: From Lexical Borrowing to Localized Islamic Lifestyle” merupakan karya Choirul Mahfud, Rika Astari, Abdurrohman Kasdi, M. Arfan Mu’ammar, Muyasaroh, dan Firdaus Wajdi. Artikel ini terbit di Journal of the Humanities of Indonesia “Wacana” tahun 2021. Penelitian ini mencoba mengulas pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Nusantara, sejak awal kedatangan Islam hingga era modern. Beberapa bahasa yang diulas adalah bahasa Bima, Sasak, Jawa, Sunda dan Bugis. Pada setiap zaman, bahasa Arab tidak hanya berperan dalam mempekaya kosa kata bahasa Nusantara, melainkan juga kontribusi pada ranah sosial, agama, pendidikan, sastra, filosofis, hukum, politik, ilmiah dan budaya. Terdapat tiga sub bab dalam review ini. Pertama, fakta sejarah. Kedua, pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa daerah di Indonesia. Ketiga, manifestasi kontemporer. 

  

Fakta Sejarah

  

Sebelum membahas terkait pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa di Nusantara secara detail, para penulis menyinggung terkait beberapa fakta. Pertama, Indonesia merupakan negara dengan masyarakat multikultur, keragaman bahasa yang terus berkembang dan berubah karena pengaruh berbagai bahasa dan budaya global. Kedua, bukti bahwa selama berabad-arab bahasa Arab dan budaya Islam adalah fenomena yang saling terkait dan mempengaruhi bahasa Nusantara, terutama pada identitas linguistik. Pengaruh tersebut meluas pada era pra-kolonial terutama pada aspek kepercayaan, praktik sosial, bahasa, budaya, sistem pendidikan, bahkan politik. Ketiga, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengakui bahasa Arab sebagai bahasa resmi sejak tahun 1973 dan tidak hanya digunakan oleh etnis Arab, melainkan sekitar 25 negara di Afrika, Asia, termasuk Indonesia. Keempat, keunggulan bahasa Arab selain karena relasinya dengan Islam, tapi juga internal bahasa. Bahasa Arab kaya akan kosa kata, metafora, sinonim, struktur gramatikal, unik dan ringkas. Selain itu, sintaksis, morfologi, etimologi, dan leksikologinya menginspirasi banyak orang. 

  

Kemudian, para penulis menuliskan secara gamblang bagaimana Islam datang ke Nusantara sekaligus dampak atau perubahan yang terjadi setelahnya. Bahasa Arab datang ke Nusantara melalui perdagangan pada abad ketujuh Masehi, melalui perdagangan. Namun, perkembangan Islam sebenarnya baru dimulai pada abad 11M dan 12M. Bahasa Arab dan pengetahuan menulis adalah kebutuhan mutlak dalam penyebaran Islam. Aksara Arab secara bertahap mulai berlaku dalam teks agama dalam bahasa Jawa. Mereka memperkenalkan sistem penulisan yang disebut “Jawi” dan membawa pengetahuan ilmiah lain yang sebelumnya belum pernah ada. Pada abad 14M dan 15M, ketika penyebaran Islam mulai berkembang, bahasa Melayu juga mengalami perkembangan dan menjadi bahasa tambahan. Alhasil, menjadi salah satu “budaya Islam” di Nusantara. 

  

Sejumlah besar manuskrip Islam dituliskan dalam bahasa Arab, Melayu dan Jawa. Manuskrip dari bahasa Melayu kebanyakan dalam kategori sastra fiksi, sastra sejarah dan sastra buku. Di sisi lain, naskah Jawa memuat ajaran tentang fikih, keesaan Tuhan, tasawuf, puisi dan prosa. Tradisi keilmuan Jawi  telah dimulai pada abad 17, dengan hadirnya Nuruddin ar Raniri, Abdur Rauf dari Singkel, dan Syekh Yusuf dari Makassar yang jejaknya masih bisa diketahui hingga saat ini. 

  

Bahasa Arab berperan penting dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia yang menyerap leksikonnya dalam ranah agama, sastra, filsafat, hukum, politik, bahkan gaya hidup. Penyerapan leksikal ini diikuti dengan internalisasi ide dan konsep Islam yang menampilkan berbagai jenis perubahan dan adaptasi. Penyerapan tersebut bisa dianggap sebagai proses Islamisasi linguistik yang meliputi kosakata teknis serta konsep penting dalam pemahaman Islam. Pengaruh Arab dalam bahasa berfungsi mengekspresikan pandangan Islam dan menyatukan iman. Kata-kata yang sebelumnya tidak ada, pada awalnya diserap dalam arti religiusnya. Misalnya, kata “sahabat” (teman) pada awalnya berarti “sahabat Nabi”, kemudian digunakan secara umum. Bahkan, menurut Latif dalam tulisannya berjudul “The Religiosity, Nationality, and Sociality of Pancasila: Toward Pancasila Though Soekarno’s way”; Burhanudin dalam tulisannya berjudul “Converting Belier, Connecting People: The Kongdoms and The Dynamics of Islamization in Pre-Colonial Archipelago”; Abdurrahman Wahid dalam tulisannya berjudul “Islam kosmopolitan; Nilai-nilai Indonesia dan transformasi kebudayaan”; serta Kuntowijoyo dalam bukunya berjudul “Metode Sejarah” menyatakan bawa tanpa konsep Islam dari bahasa Arab, para founding fathers Indonesia akan kesulitan dalam merumuskan Pancasila. Pengaruh bahasa Arab juga terlihat pada penamaan lembaga negara, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat, dengan kata majelis yang berasal dari bahasa Arab “majlis”.

  

Pengaruh Bahasa Arab Terhadap Daerah di Indonesia 

  

Ketika menjelaskan terkait dengan pengaruh bahasa Arab terhadap berbagai bahasa daerah di Nusantara. Penelitian tersebut memilih lima bahasa yakni Bima, Sasak, Jawa, Sunda dan Bugis karena dianggap bahasa yang paling menonjol dalam “penggunaan” Islam moderat. Kelima bahasa ini diyakini memiliki relasi khusus dengan bahasa Arab, sehingga menciptakan dan mempertahankan masyarakat yang damai dan harmonis. 


Baca Juga : Bukber: Tradisi Kelas Menengah Islam Indonesia

  

Pertama, Bima. Islamisasi di Bima terjadi dalam tiga periode yakni kedatangan Islam (1540-1621); pertumbuhan Islam (1621-1640); masa kejayaan Islam (1640-1950). Bima mengadopsi sistem aturan kerajaan berdasarkan prinsip Islam di mana sultan menggantikan raja, kesultanan didasarkan pada ajaran, adat, tradisi dan praktik budaya Islam. Para Sultan dan cedekiawan Bima mendorong dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penggunaan istilah dan kosa kata bahasa Arab. Penggunaan bahasa Arab diimplementasikan melalui pendidikan Islam. 

  

Kedua, Sasak. Arabisasi di Lombok terlihat dari kamus Sasak, buku dan bukti video. Bahkan, terjemahan al-Qur’an dari bahasa Arab ke bahasa Sasak juga ada. Sebuah naskah yang dikenal dengan Babad Selaparang mengungkapkan bahwa Lombok adalah rumah bagi banyak manuskrip kuno yang menyoroti tentang nilai kerja keras, semangat, iklas, dan tawakal. Manuskrip tersebut mencakup berbagai bidang, seperti sastra, agama, sejarah, hukum, politik, adat istiadat dan nilai moral. Selain itu, ada beberapa naskah dari Lombok yang ditulis dalam bahasa Arab, Melayu, Sansekerta, Jawa, Bali dan Bugis. 

  

Ketiga, Jawa. Islam menyebar ke seluruh pulau setelah para pedagang Arab datang dengan bahasanya yang mempengaruhi aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan. Pada tataran fonologis, integrasi kata serapan bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa bisa dianggap sebagai akulturasi linguistik. Hal yang perlu digaris bawahi adalah kata serapan bahasa Arab menjadi sesuatu yang penting dari bahasa Jawa. 

  

Keempat, Sunda. Islamisasi terjadi sejak akhir abad 16M di berbagai wilayah khususnya Cirebon dan Banten. Di banyak wilayah, bahasa Sunda digunakan untuk kegiatan keagamaan, seperti pengajian, ceramah, khutbah, bahkan pengajaran pesantren. Salah satu bahan ajar yakni Kitab Kuning ditulis dalam bahasa Sunda. Bahkan, al-Qur’an telah diterjemahkan dalam bahasa tersebut. 

  

Kelima, Bugis. Pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Bugis dan tradisi manuskripnya sangat kental. Pasca Islamisasi, kata serapan bahasa Arab banyak ditemukan dalam bahasa masyarakat Bugis.  Bahasa Arab mempengaruhi aksara Lontara yang sudah ada sebelumnya. 

  

Manifestasi Kontemporer

  

Selain karena agama, dinamika sosial ekonomi mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih memilih bahasa Arab, selain bahasa Inggris. Misalnya, siswa di Indonesia secara khusus termotivasi untuk belajar bahasa Arab karena ingin menjadi mahasiswa di negara-negara Timur Tengah. Selain itu, pengaruh bahasa arab di Indonesia kontemporer dapat dilihat dari beberapa hal.  Pertama, mode yang dikaitkan dengan ranah fashion wanita maka hijab adalah salah satunya. Kedua, teknologi yang belakangan ini membuat muncul banyak produk guna perawatan busana Islami, seperti mesin cuci khusus hijab. Ketiga, gaya hidup seperti fenomena perumahan syariah yang sistem “pengangkutan” propertinya sesuai dengan syariah, terutama dalam skema kepemilikan. Keempat, keuangan syariah yang berimplikasi pada perbankan syariah. Kelima, industry film yang diproduksi dengan mengusung nuansa Islami dan menggunakan bahasa Arab. 

  

Kesimpulan

  

Hasil dari penelitian tersebut sebenarnya sudah dituliskan dengan runtut, hanya saja akan lebih baik jika ulasan terkait pengaruh maupun perubahan bahasa Arab kepada beberapa bahasa daerah di Indonesia lebih diperdalam, sekaligus dijelaskan secara rinci. Terlepas dari sedikit kekurangan tersebut, artikel itu menunjukkan beberapa contoh bahasa tiap daerah yang diadopsi dari bahasa Arab. Secara garis besar, penelitian ini ingin menjelaskan bahwa ada tradisi integrasi dan interkoneksi yang cukup panjang antara bahasa Arab dan beberapa bahas daerah di Indonesia. Terdapat tiga hal yang menonjol yakni upaya pengembangan kosa kata serta bahasa dan budaya masyarakat setempat; pengaruh Islam dan bahasa Arab dapat digambarkan sebagai proses yang bertahan lama, menunjukkan kontribusi, fungsi, tujuan dan elemen nilai tambah yang mempengaruhi praktik sosial-keagamaan, ekonomi, bahkan tradisi masyarakat muslim Indonesia; bahasa Arab digunakan sebagai branding dan pemasaran produk teknologi, keuangan, fashion bahkan gaya hidup.