(Sumber : iStock)

Prestasi Kerja dan Modal Ekonomi

Riset Budaya

Artikel berjudul “Ethnographic Study of Songket Weavers in Sukarara Village: Work Performance and Economic Capital” merupakan karya Baiq El Badriati, Nur Syam dan Sirajul Arifin. Tulisan ini terbit di Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman: Episteme tahun 2022. Penelitian tersebut mengkaji mengenai persinggungan antara gender, etnis, performa kerja dan kapital ekonomi pada perempuan muslim penenun songket Suku Sasak di Desa Sukaran, Lombok Tengah. Pendekatan yang digunakan adalah etnografi yang fokus pada performa kerja dan kapasitas ekonomi penenun songket. Perilaku, sikap dan kepribadian yang melekat pada perempuan penenun songket dalam kesehariannya dikaji secara holistik dan melalui penelitian lapangan. Terdapat empat sub bab dalam review ini. Pertama, etos kerja. Kedua, penenun songket. Ketiga, model ekonomi. Keempat, tipologi penenun muslimah Suku Sasak. 

  

Etos Kerja

  

Pada sub bab awal, artikel tersebut menjelaskan konsep etos kerja, selanjutnya etos kerja dalam pandangan Islam, serta kaitan etos kerja dengan sistem kepercayaan. Pertama, etos kerja menurut “Webster’e New World Dictionary of the American Language” menjelaskan bahwa kata ‘etos’ merujuk pada kata ‘etika’ yang terkait dengan ‘moral’. Hal ini merupakan sifat dasar individua tau kelompok terhadap suatu bangsa. Kedua, menurut John M. Echols & Hassan Shadily dalam “Kamus Inggris Indonesia”, etos penting untuk menjelaskan bagaimana masyarakat bagaimana masyarakat memandang nilai etika profesi seseorang. Ketiga, menurut Max Weber dalam  bukunya yang berjudul “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” menjelaskan bahwa etos adalah keyakinan yang mengarah pada perilaku individu, kelompok atau lembaga. Alhasil, etos kerja dapat diartikan sebagai ajaran mengenai etika kerja yang secara tegas ditunjukkan dalam perilaku kerja dan dianggap sebagai hal yang baik dan benar oleh individu atau kelompok. Keempat,  peneliti menjelaskan bahwa etos dapat didefinisikan sebagai sifat atau sikap sederhana yang menyebabkan perbedaan baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok. 

  

Di dalam Islam, etos kerja dikompromikan sebagai salah satu ajaran penting agama. Artinya, Islam adalah agama yang berpijak pada asas hukum yang salah satunya membahas mengenai tenaga kerja. Menurut Nur Syam dalam bukunya “Jejak Politik Lokal Kaum Tarekat” menjelaskan bahwa agama berkaitan dengan apa yang dilakukan orang karena dianggap benar. Di sisi lain, iman berfungsi sebagai pedoman untuk memaknai perilaku. 

  

Kemudian, etos kerja terkait dengan sistem kepercayaan yang diperoleh melalui apresiasi dan observasi masyarakat. Misalnya, temuan Max Weber mengenai Calvinis Protestan yang akhirnya dikenal dengan Etika Protestan. Etos akan berhubungan dengan aspek evaluative yang condong bersifat menghakimi dalam kehidupan sosial ketika memiliki landasan dalam kehidupan manusia. 

  

Penenun Songket

  

Perempuan dapat mempertahankan taraf hidupnya dengan bekerja pada industry tenun songket tradisional di Sukarara. Landasan kegiatan produksinya dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, aspek objektif/ilmiah yang terkait dengan sisi teknis dan ekonomi serta fasilitas yang digunakan, sumber daya alam yang diproses serta tenaga kerja untuk kegiatan produksi. Kedua, faktor subjektif seperti motivasi psikologis, tujuan yang ingin dicapai melalui produksi, dan penilaian produksi dengan mempertimbangkan gagasan keadilan yang dianut. 

  

Selain itu, perempuan muslim di Sukarara sebagai penenun songket tradisional selalu memiliki pandangan yang lebih baik tentang masa depan. Antusiasme mereka terlihat dari beberapa hal. Pertama, jangka waktu efeisiensi yakni memaksimalkan dan menggunakan semua sumber daya selama proses penciptaan barang dan jasa. Hal ini terdiri dari beberapa aspek seperti ketepatan cara dalam melakukan sesuatu tanpa membuang waktu, tenaga dan uang. Sesuai dengan pendapat Suroso Imam Jazuli dalam bukunya yang berjudul “Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam”, menjelaskan bahwa efisiensi adalah bagian dari prinsip ekonomi Islam dengan menjaga kelestarian alam. Tentu saja, sejalan dengan kondisi para penenun yang menggunakan benang dari alam. 


Baca Juga : Fenomena Waithood: Saat Perempuan Menunda Menikah

  

Kedua, efektivitas yakni pencapaian tujuan secara cepat dan tepat. Artinya, lebih menekankan pada output daripada input. Perempuan Sasak di Sukarara dapat menenun sehelai kain sepanjang 25 cm dalam sehari berkat efisiensi mereka di tempat kerja. Pencapaian ini adalah puncak kemampuan alat tenun saat ini, yakni memungkinkan menenun selembar kain selebar 1,5m hanya dalam waktu enam hari. 

  

Ketiga, kuantitas yakni jumlah pekerja dengan jumlah total pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu tertentu. Salah satu matrik prestasi kerja dalah volume pekerjaan. Ingat bahwa kuantitas atau banyaknya karya yang diciptakan menentukan seberapa produktif seseorang, sehingga pekerjaan yang berkualitas harus dilakukan selain jumlah pekerjaan. 

  

Keempat, tepat waktu yakni mampu menyelesaikan tujuan kerja dalam waktu yang ditentukan. Sebenarnya, disiplin dan ketepatan waktu saling berkaitan. Di dalam hal ini perempuan yang berprofesi sebagai penenun menerapkan kesiaiplinan dalam bekerja. Hal ini dapat dilihat dari konsistensi pekerjaan mereka yang dimulai pada pukul 07.00 WITA, berhenti sejenak untuk salat dan makan siang, kemudian melanjutkan menenun pada pukul 14.00 WITA, san melakukannya hingga pukul 18.00 WITA. 

  

Modal Ekonomi

  

Jelas bahwa dalam artikel ini memiliki argumentasi bahwa muslimah Sasak yang menenun Songket adalah pekerja keras, amanah, disiplin, sabar, menghargai, terampil dan lain sebagainya. Mereka yang menenun songket menunjukkan etos kerja dalam semua ciri kepribadiannya. Prestasi kerja yang baik akan dimunculkan dari etos kerja yang kuat. Prestasi kerja adalah gaya hidup yang senantiasa berusaha menjadi lebih baik guna meningkatkan kualitas hidup. Etos kerja yang kuat akan menghasilkan kinerja yang baik, tujuan akhir keduanya adalah modal finansial. Selain itu, terdapat beberapa indikator  dalam kaitannya dengan modal ekonomi. 

  

Pertama, bebas utang dan percaya diri dalam bisnis. Ciri dari muslimahah SUKU Sasak di Sukarara adalah mandiri. Mereka akan menenun jika memiliki modal sendiri dan memilih untuk tidak berhutang karena khawatir akan konsekuensi dari beban hutang yang berat. Selain itu mereka juga percaya diri dalam bisnis yang mereka jalanankan. Mereka tidak terpengaruh oleh keadaan, dan terus mencoba untuk bertahan hidup. 

  

Kedua, investasi. Perempuan Muslimah suku Sasak di Sukarara teriasa berinvestasi. Mereka menggunakannya sebagai modal, jika tidak punya banyak uang untuk dibelanjakan. Modal yang mereka keluarkan untuk investasi pun tidak hanya berupa uang tunai, melainkan energi, pikiran dan sebagainya. 

  

Ketiga, mampu mengelola cash flow dan siap financial distress. Penenun muslimah suku Sasak sangat telaten dalam mengatur hasil keuangan usahanya. Arus pendapatan mereka dari usaha dapat dikelola dengan baik dan tidak seluruhnya digunakan sebagai modal komsumtif, melainkan untuk investasi pada usaha. Mereka mampu menghitung berapa uang yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya dan berapa yang harus dikembalikan pada modal. 

  

Tipologi Penenun Muslimah Suku Sasak 

  

Para peneliti membedakan karakter muslimah penenun dalam beberapa tipologi. Hal ini tergantung kemandirian ekonominya. Pertama kepala keluarga. Mereka adalah para janda yang telah bercerai dengan suaminya atau suaminya meninggal dunia. mereka saling membantu dengan menyediakan berbagai bahan baku yang dibutuhkan untuk proses menenun. Sebagai distributor, mereka menyerahkan hasil tenunnya kepada pengepul sementara dengan sistem penjualan dikurangi biaya bahan baku yang mereka dapatkan dari kolektor. 

  

Kedua, pemenuhan kebutuhan pribadi yakni para muslimah yang memutuskan untuk bergabung dengan sanggar untuk menjual kain tenun songket tradisional. Mereka memiliki jam kerja sama seperti karyawan perusahaan lainnya. Model penenun wanita yang bekerja di industry rumah tangga condong memiliki etos kerja yang terukur sesuai dengan arahan pemilik usaha, sehingga output yang dihasilkan memiliki standar yang jelas sesuai pemilik usaha. 

  

Ketiga, istri yakni mereka yang memiliki keluarga dan saling memberikan semangat sekaligus dukungan. Pada aktivitasnya, para suami aktif mendukung pekerjaan istrinya sebagai penenun songket. Hal ini disebabkan pekerjaan tersebut tidak menyebabkan mereka mampu bekerja sekaligus mengurus suami, anak dan pekerjaan rumah tangga karena menenun dilakukan di rumah. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar penelitian tersebut menjelaskan bahwa prestasi kerja penenun Muslimah suku Sasak mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Terbukti dengan ciri prestasi kerja unggul yang mereka miliki yakni efisiensi, efektivitas, kualitas kerja, kuantitas dan ketetapan waktu. Selain itu, mereka telah mencapai modal ekonomi dengan bebas dari hutang, kepercayaan diri dalam bisnis, investasi, serta memiliki mental matang dalam menghadapi ‘turbulensi’ moneter. Penelitian tersebut telah dituliskan dengan sangat baik sekaligus runtut. Sayangnya, akan lebih sempurna apabila dibubuhkan sedikit terkait dengan metode penelitian yang dilakukan. Terlepas dari sedikit kekurangan tersebut, penelitian itu semakin memperkuat bahwa keberadaan perempuan memang tidak bisa diremehkan. Terbukti dari contoh Muslimah penenun di Sasak tersebut yang tidak hanya mampu menginternalisasi nilai agama, melainkan menunjukkan modal ekonomi sebagai hasil etos kerja yang kuat. Wanita yang terpinggirkan secara sosial, sebenarnya mampu menjalankan peran publiknya dengan baik, bahkan membantu finansial keluarganya.