Transformasi Sejarah Kristen dan Islam
Riset BudayaTulisan berjudul “Mutual Transformation in the Early Histories of Christianity and Islam” adalah karya Izak Y.M. Lattu. Artikel ini terbit di Qudus International Journal of Islamic Studies tahun 2019. Artikel ini membahas hubungan timbal balik antaragama dalam ajaran sejarah Kristen dan Islam. Lattu menggunakan teori milik John B. Cobb Jr yakni mutual transformation theory. Artikel ini menggambarkan interaksi antar komunitas agama dalam sejarah Kristen dan Islam. Di dalam review ini akan dijelaskan dua sub bab. Pertama, transformasi timbal balik dalam ajaran Kristen dan Islam. Kedua, tradisi transformasi.
Transformasi Timbal Balik dalam Ajaran Kristen dan Islam
Lattu menggiring pembaca dengan menjelaskan mengenai konsep teori yang ia gunakan, yakni mutual transformation theory. Lebih lanjut, ia menjelaskan mengenai transformasi dalam ajaran Kristen dan Islam dalam perspektif sejarah. Ia hanya mengumpulkan fakta berdasarkan referensi beberapa tokoh yang didapatkan. Namun, tidak dianalisa dengan teori yang ia jelaskan singkat sebelumnya.
Secara singkat, Lattu menuliskan bahwa mutual transformation atau transformasi timbal balik menurut Cobb adalah pendekatan ke arah hubungan timbal balik antara tradisi agama dan teologi. Pendekatan semacam ini dianggap sebagai respon terhadap sikap religius terhadap agama ain yang cenderung “menjebak” pengikut agama dalam eksklusivisme. Transformasi timbal balik membuka jalan bagi para pengikut agama untuk memahami agama lainnya. Pada titik tersebut, transformasi timbal balik berarti keterbukaan mendengarkan dan belajar dari orang lain tanpa mengabaikan karakter dari agama sendiri. Berdasarkan tulisan Lottu, Cobb membagi teori transformasi timbal balik dalam dua tingkat, yakni area inti dan area yang diubah. Area inti adalah lingkungan yang tidak dapat diubah dalam sebuah agama, yakni identitas. Bahkan, ketika seseorang tinggal bersama dan belajar agama lain. Identitasnya akan tetap sama. Sedangkan, area yang diubah adalah beberapa ranah yang dapat diubah dalam identitas agama. Namun, Lottu tidak menjelaskan apa contoh atau memberikan keterangan bagi keduanya.
Di dalam menjelaskan transformasi agama Kristen, Lottu secara gamblang menjelaskan bahwa ia fokus pada transformasi tradisi gereja mengenai dua masalah utama. Pertama, transformasi timbal balik sama dengan transformasi budaya. Di dalam tradisi gereja budaya Yunani, Romawi dan Yudaik sangat dominan. Kedua, Yesus Kristus adalah tokoh sentral dalam transformasi Kristen. Lattu menambahkan pemikiran Karl Bath dalam pemikiran soal Tuhan. Bagi Karl Barth, Tuhan diwahyukan dalam wujud Putra. Tuhan menjelma menjadi manusia untuk “mendamaikan” hubungan antara Tuhan dan Manusia. Artinya, secara tidak langsung Lottu berusaha menjelaskan bahwa Tuhan melintasi alam untuk berhadapan dengan “keduniawian” guna membangun perdamaian. Sehingga, peristiwa reinkarnasi yang dipercayai umat Kristiani adalah transformasi yang mengarah pada transformasi timbal balik dalam pengajaran Kristen.
Perihal transformasi ajaran Islam, Lottu fokus terhadap kehidupan Nabi Muhammad SAW yang telah banyak dituliskan oleh filsuf seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Kindi dan lain sebagainya. Lebih lanjut Lottu menjelaskan bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW merupakan teladan transformasi mutual atau timbal balik dalam Islam. Ia menceritakan bagaimana Nabi Muhammad bertemu dengan Waraqah ibn Naufal, yakni seorang umat Kristen. Bagi Lottu, pertemuan Nabi Muhammad SAW dan Waraqah menghasilkan dialog sebagai momen transformasi timbal balik. Pertama, Nabi Muhammad SAW mencerminkan “sentralitas” mendengarkan orang yang berasal dari tradisi agama lain. Kerendahan hati Nabi Muhammad dan keterbukaannya terhadap “narasi” agama lain terbungkus sentralitas dialog dalam pertemuan antaragama. Kedua, Nabi Muhammad SAW dengan penuh simpati mendengarkan Waraqah.
Lottu juga menjelaskan sikap nabi yang dianggap sebagai pelajaran transformatif lain. Pertama, percakapan Nabi Muhammad SAW dengan orang Kristen dari Najran. Bagi Lottu, Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan keteladanan dan keterbukaan untuk mengenali “konvergensi” dan perbedaan dari ajaran agama lain. Kedua, konsensus yang menghasilkan piagam madinah. Nabi Muhammad SAW telah membentuk pola religius yang damai dalam Islam. Konsensus di Madinah dengan jelas menunjukkan pemahaman agama penduduk Madinah. Mereka saling menghormati dengan istilah “Yahudi adalah agama bagi orang Yahudi, dan Islam adalah agama bagi muslim.”
Tradisi Transformasi
Lottu secara gamblang menjelaskan bahwa transformasi timbal balik telah terjadi dalam sejarah Agama Kristen dan pemikiran Islam. Sejarah Kekristenan dan Islam digambarkan layaknya pertemuan antara Filsafat Ibrani, Kristen dan Islam. Filsuf Kristen seperti, Pt. Paul menggunakan struktur filsafat Yunani guna menjelaskan teologinya. Sedangkan, dalam sejarah Islam, ulama seperti Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibn Sina mengadopsi logika filsafat Paltonis dan Aristoteles yang dirumuskan dalam filsafat Islam. Pada tahap ini, terjadi transformasi timbal balik dalam memperkaya pemahaman dan persepsi terhadap agama lain.
Pada dasarnya, transformasi timbal balik bukan hal baru bagi Kristen dan Islam. Transformasi imbal balik layaknya anggur tua dalam botol baru. Artinya, tokoh Kristen dan Islam sudah mempraktikkan transformasi dalam hidup mereka. Transformasi timbal balik melampai pluralisme agama karena “mengundang” orang untuk terlibat dalam dialog mendalam. Selain itu, guna bersikap lebih terbuka untuk belajar mengani agama lain. Transformasi timbal balik telah membawa harapan baru bagi hubungan antar agama.
Kesimpulan
Tulisan Lattu menyajikan penelitiannya secara runtut. Ia tidak membiarkan pembaca berspekulasi terlalu banyak. Sebab, Lottu selalu mengaitkan data yang ia peroleh dengan teori milik Cobb yang ia gunakan. Namun, artikel ini akan jauh lebih baik jika Lottu mendeskripsikan metode yang ia gunakan dalam penelitian tersebut. Lottu tidak menjelaskan pendekatan dan cara memperoleh data yang ia lakukan. Terlepas dari kekurangan tersebut, Lottu sudah berhasil membuktikan bahwa prinsip setiap kelompok agama memiliki “kebenarannya” sendiri, yang dengan itu seseorang dapat belajar mengenai persamaan dan perbedaan agama lainnya.

