(Sumber : nursyamcentre.com)

Raih Doktor Cumlaude Melalui Kajian Dinamika Bisnis Ritel Pesantren

Informasi

Predikat Cumlaude diperoleh Bahrul Huda dalam ujian promosi doctor yang dilakukan oleh Program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Torehan predikat ini tentu saja membanggakan promovendus, keluarga dan juga Program PPs UIN Sunan Ampel Surabaya. Pada ujian yang diselenggarakan via Zoom, 9/10/2020 ini, Dr. Bahrul Huda mempertahankan disertasi yang berjudul "Dinamika Bisnis Ritel Pesantren, Studi Fenomenologi Ritel Modern Berjejaring Toko Basmalah Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri".

 

Selama kurang lebih 120 menit mulai jam 8.30- 10.30 WIB. Bahrul Huda mempresentasikan hasil temuannya dihadapan tim penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. Aswadi, Mag (Direktur Pasca sarjana UIN Sunan Ampel), yang didampingi oleh Prof. Dr. Babun Suharto, SE, MM, (Rektor IAIN Jember), Dr. Fatmah, SE, MM., Dr. Iskandar Ritonga, Dr. Moh. Lathoif, dan Promotor, Prof. Dr. Nur Syam, MSi dan Dr. Ah. Ali Arifin, MEI.

 

Dr. Bahrul Huda menjelaskan bahwa dinamika bisnis ritel yang dilakukan di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri melalui toko Basmalah berkembang karena tiga kekuatan, yaitu dukungan kyai dan pengurus pesantren, alumni Ponpes dan juga para pelanggan ritel yang memanfaatkan toko Basmalah sebagai tempat belanja

 

"Yang menjadi ciri khas dari Kopontren ini, yaitu keterlibatan para pengurus koperasi yang secara optimal mengembangkan usaha ritel berjejaring dan juga merespon terhadap kebutuhan pelanggan. Sementara, pengembangan ritel berjejaring Pondok Pesantren Sidogiri terjalin dengan toko Basmalah," jelasnya.

 

Ritel Modern Berjejaring Luas

 

Dalam proses penyusunan disertasinya tersebut, Huda menggunakan metode penelitian kualitatif dengan, pendekatan fenomenologi. Studi fenomenologi di dalam kajian ini terfokus pada apa pemikiran dibalik tindakan dalam mengembangkan atau mendinamisasikan bisnis melalui Ponpes Sidogiri. Fenomenologi merupakan kajian yang memanfaatkan konsep tindakan bermakna atau mengkaji tentang apa yang ada dibalik tindakan seseorang dalam melakukan relasi dengan orang lain.

 

Huda menyampaikan bahwa secara konseptual, toko Basmalah sudah memiliki jejaring yang menyebar di beberapa wilayah, terutama yang dikembangkan oleh para Alumni Ponpes Sidogiri. Kopontren Sidogiri sudah menerapkan bisnis ritel modern, sebab sudah menggunakan sistem jejaring dan memenej usahanya dengan sistem bisnis yang memadai. Selain toko Basmalah tersebut sudah menerapkan sistem modern juga sudah mengembangkan sistem ritel. Sebagaimana sistem yang dikembangkan oleh toko ritel lainnya.

 

"Pokoknya, toko Basmalah dengan segenap jejaring yang terkoneksi sebagaimana jaringan toko-toko ritel yang sudah modern, seperti Indomart, Alfamart, dan lainnya," ucap Huda di depan seluruh penguji.


Baca Juga : Tren Keberagamaan Masyarakat Indonesia: Merawat Indonesia (Bagian Tiga)

 

Disamping itu, menurut hasil temuannya, Huda menerangkan tentang sistem bisnis ritel Kopontren Sidogiri telah sesuai dengan konsep bisnis Syariah. Bisnis Syariah ini merupakan bisnis ritel yang berbasis Syariah, di mana keseluruhan proses dan produk barang yang dijual adalah produk halal.

  

"Lalu proses bisnisnya sesuai dengan skema syariah, misalnya akad, dan dana yang digunakan berada dan bersumber dari perbankan syariah. Selain itu juga didapati prinsip keadilan, kebaikan, tanggung jawab, kebersamaan, keseimbangan dan kejujuran," imbuhnya.

  

Huda melanjutkan, secara fungsional, ritel syariah memiliki peran menyediakan berbagai jenis produk, memecah atau mengemas barang dalam ukuran yang lebih kecil, menyimpan persediaan, penghasil jasa, meningkatkan produk dan jasa. Seperti halnya disampaikan Huda, ia mengatakan bahwa secara umum, semua fungsi tersebut sudah dilakukan oleh toko Basmalah Berjejaring. Bahkan, sebagai ritel modern berjejaring, toko Basmalah benar-benar telah menjadi ritel modern berjejaring.

 

"Bisa kita lihat dengan perkembangan jumlah dan pelanggannya yang semakin besar dan juga keuntungannya yang semakin membaik. Sebagai ritel modern, tentu saja sudah dikelola dengan menggunaan prinsip-prinisp manajemen bisnis modern," katanya.

 

Perilaku konsumen tersebut sangat ditentukan oleh faktor pendorongnya, yaitu faktor kebudayaan yakni adanya kesamaan budaya antara konsumen dan perilaku pengusaha. Sebagaimana disampaikan Huda, ia mengatakan bahwa diketahui masyarakat Jawa Timur sangat menghargai tradisi pesantren, sehingga secara tradisi terdapat kesamaan antara perilaku konsumen dengan dunia bisnis ritel toko Basmalah.

 

"Lalu, secara sosial antara pembeli dan penjual memiliki kedekatan sehingga tidak terdapat halangan yang membuat adanya jarak di antara mereka, sehingga hubungan antara pembeli dan penjual merupakan hubungan yang ber-kesetaraan. Tidak ada jarak sosial di antara keduanya," tuturnya.

 


Baca Juga : AI dalam Politik: Ketika Kampanye Bertransformasi dengan Micro-Targeting

Selain itu, perilaku konsumen dipengaruhi oleh motivasi dan persepsi yang sama antara penjual dan konsumen di Toko Ritel Berjejaring. Seperti yang disampaikan Huda, ia mengatakan bahwa toko Basmalah menyediakan kebutuhan yang diperlukan oleh konsumen. Hingga ketersediaan produk tersebut menjadi faktor kesediaan para konsumen untuk membeli produk di toko Basmalah sesuai dengan kebutuhannya.

 

"Selain motif eksternal tersebut, juga terdapat faktor ekonomi tentang perilaku konsumen. Artinya, bahwa seseorang membeli barang selain ditentukan oleh nilai ekonomis barang tersebut dan kemanfaatan produk yang dibelinya juga terdapat kecenderungan untuk berperilaku hedonis atau membeli produk sesuai dengan yang diinginkannya," imbuhnya.

 

Motivasi dan Inovasi Menjadi Kekuatan

 

Dalam penelitian ini, Huda, menemukan dua hal penting, yaitu pertama, Kopontren Sidogiri yang membawahi ritel modern berjejaring semula merupakan toko kelontong, lalu berubah menjadi semi modern, hingga menjadi toko modern atau ritel modern berjejaring. Seperti halnya disampaikan Huda, ia mengatakan bahwa perubahan tersebut dilandasi oleh perubahan perilaku konsumen dan usaha inovatif dari para pengurus Kopontren.

 

"Perubahan tersebut juga dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan para konsumen yang semakin bervariasi dan juga performance toko yang baik. Selain itu juga harus menerapkan sistem bisnis yang modern, di antaranya adalah membangun ritel modern berjejaring dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Di sini maka para pengurus Kopontren menggandeng para alumni untuk pengembangannya," ucapnya.

 

Kenyataan tersebut memberikan pelajaran bagi Kopontren Sidogiri, bahwa ritel yang tidak mengindahkan terhadap kebutuhan konsumen maka akan ditinggalkan. Hal inilah yang menginspirasi terhadap para pengurus Kopontren untuk terus berinovasi di dalam mengembangkan ritel modern berjejaring. Hingga dengan mengedepankan inovasi dan loyalitas pelanggan, para pelanggan menjadi suka berbelanja produk yang dihasilkan oleh para pelaku bisnisnya. Selain itu, tentu dorongan kyai dan pemberian motivasi kyai Kopontren Sidogiri untuk terus berusaha secara maksimal dapat menjadi inspirasi bagi para peritel dan juga pengurus Kopontren

 

"Semangat yang mendasari para pengurus Kopontren adalah berkhidmah atau mengabdi kepada kyai dan pesantren dengan terus berusaha agar tampilan ritel semakin baik dan akibatnya tentu adalah akan menghasilkan loyalitas pelanggan atau customer satisfaction," jelas Huda. "Semangat pengabdian, semangat berinovasi atau ijtihad di bidang ekonomi dan dukungan kyai secara optimal memberikan peluang bagi pengurus Kopontren dan para peritel untuk terus berkarya dan bermanfaat," tambahnya.

 

Huda juga menyampaikan bahwa dari penelitian ini memberikan suatu pemahaman bahwa adanya konsistensi dan kemapanan akan peran hedonic shopping motivation dan store attributes dalam meningkatkan loyalitas pelanggan atau konsumen terhadap toko Basmalah.


Baca Juga : Selamat Datang Tahun 2025: Masa Depan Pendidikan Islam di Kementerian Agama (Bagian Tiga)

 

"Selain itu, juga ethos kerja santri yang difaslititasi oleh semangat pengabdian dan kerja keras, sehingga menghasilkan dinamika positif di dalam pengembangan ritel berjejaring," jelasnya.

 

Doktor Harus Banyak Karya

 

Menanggapi hasil penelitian Huda dalam disertasinya, Prof. Nur Syam memberikan ucapan selamat kepada Dr. Bahrul Huda dan keluarganya, Isteri, anak dan orang tua, serta keluarga besarnya, sebab hari ini Bahrul Huda telah menjadi doctor yang ke 526.

 

"Selamat juga kepada para pengelola program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya atas keberhasilannya mengantarkan Bahrul Huda sebagai Doctor Ilmu Ekonomi Syariah," ucap Nur Syam.

 

Namun, Prof. Nursyam juga memberikan beberapa catatan kepada Huda terkait dengan disertasinya tersebut. Dia menjelaskan bahwa dari disertasi tersebut, harus dapat menghasilkan sekurang-kurangnya dua artikel di jurnal terindeks di Sinta 1 atau Sinta 2. Ia juga berharap agar disertasi ini bukanlah karya terakhir tetapi merupakan karya awal dalam kiprah akademis.

 

"Di antara yang menandai kehebatan seorang doctor adalah jika setelah pengukuhan doctor lalu semakin banyak karyanya. Jangan menjadi doctor gedebok, yaitu doctor yang menghasilkan disertasi tetapi setelah itu lalu mati tidak ada karyanya lagi. Terus menulis dan jadikan menulis sebagai pilihan hidup," tuturnya.

 

Terakhir, ia mengatakan bahwa penelitian disertasi ini bisa dihasilkan satu temuan penting, di mana bisnis syariah akan semakin dinamis jika para pelaku usaha dapat memahami perilaku konsumen terutama terkait dengan perilaku berbelanja yang semakin hedonis dan atribusi usaha bisnis Syariah.

 

"Proposisi ini akan bisa dikaji lebih lanjut dengan menjadikannya sebagai asumsi yang bisa diteliti lebih lanjut," pungkasnya. (Ns/Nin/Ij)