(Sumber : Sonora.Id)

Transformasi Tembang Jawa

Riset Budaya

Artikel berjudul “Sounding Islam in Contemporary Indonesia: The Transformation of Javanese\" Tembang merupakan karya Syaifuddin Zuhri. Tulisan tersebut terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2022. Studi ini mengkaji relasi antara lagu dan agama yang fokus pada mediasi agama dan transformasi sensasi sonik. Lagu yang dipelajari adalah tembang dolanan yakni “ilir-ilir”. Lagu tersebut dianggap mengandung filosofi yang mendalam. Penelitian tersebut mengkaji dua dimensi terkait tembang dan transformasi tembang dolanan ke dalam tembang islami melalui pemaknaan dan dimensi sonik guna membangkitkan sensasi Islami. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, tambang Jawa dalam dua dimensi. Ketiga, ilir-ilir sebagai lagu anak Jawa. Keempat, dimensi Islam dari ilir-ilir. 

  

Pendahuluan 

  

Sejak diperkenalkan Islam sebagai praktik diskursif oleh Talal Asad, para antropolog memberikan perhatian kuat pada aspek tekstual Islam yang  terutama dianggap sebagai opini. Menurut Asad dalam tulisannya berjudul “The Idea of an Anthropology of Islam” menjelaskan bahwa ‘tradisi diskursif’ menjadi perhatian para antropolog Islam. Ia berbendapat bahwa ‘ortodoksi’ bukan hanya sekadar kumpulan opini, melainkan relasi yang khas  yakni hubungan kekuasaan. Asad juga menambahkan bahwa, jika seseorang ingin menulis tentang antropologi Islam, maka harus memulai seperti apa yang dilakukan oleh umat islam yakni konsep tradisi diskursif. Konsep tradisi diskursif mencakup dan menghubungkan dirinya dengan teks al-Qur’an dan hadis. Analisis terpusat melalui hermeneutika, linguistic, filologi dan sejarah penting guna menganalisis umat Islam. 

  

Shahab Ahmed dalam tulisannya berjudul “What Is Islam? The Importance of Being Islamic” berpendapat bahwa pendekatan diskursif condong mengorbankan pluralitas interpretasi dengan mengorbankan otoritas prespektif yang membentuk Islam dengan mengabaikan kemungkinan untuk melakukan eksplorasi terhadap agama. Di sisi lain, Birgit Mayer dalam tulisannya berjudul “Media and the Senses in the Making of Religious Experience: An Introduction” menawarkan perspektif baru untuk memahami unsur yang membentuk agama. Ia berpendapat bahwa mediatisasi tidak dapat dipisahkan dari agama, oleh sebab itu memahai agama sama saja dengan memahami praktik mediatisasi yang tidak terlihat. 

  

Saat ini para akademisi memberikan perhatian khusus pada relasi identitas dan suara melalui konsep “soundescape”  milik Murray Schafer. Soundescape merupakan lingkungan sonik yang bertujuan menggambarkan totalitas dari suara yang dirasakan individu dalam pengaturan ruang dan lingkungan tertentu. Alhasil, para akademisi banyak meneliti terkait relasi antara suara, ruang agama dam kepemilikan politik. Mereka berusaha mencari tahu bagaimana suara religius di depan umum secara langsung menyinggung soal kewarganegaraan. Misalnya, adzan yang seringkali menjadi kontroversi dan memicu perdebatan di antara umat Islam. 

  

Tembang Jawa dalam Dua Dimensi

  

Sastra Jawa, baik lisan maupun tulisan dikenal kaya akan ajaran filosofis dan religius. Syair dan lagu yang dikarang mengandung hikmah dan nilai moral Jawa. Tidak hanya degan kata-kata mengelak, banyak juga tembang Jawa yang menggunakan kata sederhana yang konon menyimpan pesan bernilai tinggi. Selain itu, lagu juga merupakan alat komunikasi untuk mengindormasikan dan mengekspresikan religiositas kepada dan di antara orang-orang karena kemampuannya mempengaruhi pendengar melalui rangsangan emosi. 

  

Tradisi lisan memegang peranan penting bagi terwujudnya berbagai tradisi masyarakat Jawa. Misalnya, cerita yang ditampilkan dalam wayang dan drama, peribahasam dan lagu. Bagi Bernard Arps dalam tulisannya berjudul “Tembang in Two Traditions: Performance and Interpretation of Javanese Literature”, ia mempelajari tambang Jawa dan mengklasifikasinya ke dalam tiga jenis yakni tembang macapat (tembang biasa); tembang tengahan (menengah); dan tembang gedhe (terkemuka). Genre yang paling popular adalah tembang macapat


Baca Juga : Refleksi Akhir Tahun: Pelayanan Umat Beragama

  

Ilir-Ilir Sebagai Lagu Anak Jawa

  

Meskipun lagu anak Jawa banyak yang mulai punah, namun tetap saja ada yang masih eksis hingga saat ini, misalnya ilir-ilir. Lagu ini hidup sebagai tradisi lisan dengan banyak versi lagu. Melodi lagu yang ceria menunjukkan kebagaiaaan. Nuansa religi hampir tidak mungkin dimunculkan karena melodi cerianya yang berguna untuk menciptakan suasana gembira. Suasana ini disukai anak-anak saat bermain, sehingga disebut tembang dolanan. 

  

Berbeda dengan lagu anak-anak yang lain, ilir-ilir sudah bisa dikatakan sebagai lagu islami. Selain dinyanyikan biasa, penelitian H Overbeck dalam tulisannya “Javanesche Meisjesspelen En Kinderliedjes: Beschrinjiving Der Spelen” menunjukkan bahwa lagu tersebut biasa dinyanyikan anak-anak perempuan saat bermain permainan Jawa yang disebut Nini Thowok. Nini Thowok yakni boneka perempuan yang terbuat dari gayung batok kelapa kemudian didandani. Boneka tersebut akan bergerak ketika roh memasukinya dan mampu menyampaikan pesan tertentu. 

  

Dimensi Islam dari Ilir-Iir

  

Atribut ilir-ilir sebagai lagu islami berasal dari kepercayaan bahwa lagu tersebut diciptakan oleh salah satu pendakwah paling popular di tanah Jawa, yakni Wali Songo. Sayangnya, tidak cukup bukti bahwa ilir-ilir ditulis dan diciptakan oleh salah satu Wali Songo. Spekulasi bahwa ilir-ilir dikarang oleh seorang wali berasal dari Purwadi dan Achmad Chodjim. Bagi mereka, Wali Songo memperkenalkan Islam melalui pendekatan kultural tanpa kekerasan. 

  

Tulisan Chodjim berjudul “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga” menuliskan bahwa ilir-ilir berisi pesan yang tidak ditujukan kepada non-muslim Jawa, melainkan kepada raja-raja Jawa dan pemimpin politik yang baru masuk Islam. Hal tersebut tertuang disetiap lirik lagunya. “lir-ilir, lir-ilir tandure wing sumilir, tak ijo royo-royo” artinya angin sejuk bertiup lembut di atas tanaman muda yang segar dan hijau bermakna melambangkan masa-masa Indah di Jawa ketika Islam diakui sebagai agama baru. “Taksengguh temanten anyar” artinya saya kira pengantin baru, bermakna agama baru diharapakan membawa kebahagiaan bagi pemeluknya maupun orang lain yang setara dengan pengantin baru. “Cah angon” artinya pengembala yang bermakna bukan rakyat jelata melainkan para raja dan pemimpin Jawa yang bertugas memberikan perlindungan kepada rakyatnya. “Penenkna blimbing kui, lunyu-lunyu penekno”  berarti panjatlah pohon belimbing meskipun licin bermakna, mereka harus memenuhi komitmennya untuk mengikuti lima prinsip agama Islam meskipun menghadapi kesulitan. Buah belimbing diartikan sebagai rukun Islam yang berjumlah lima. 

  

Kesimpulan

  

Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana tembang ilir-ilir dianggap sebagai hal yang penting dalam budaya Jawa. Bahkan, sudah menjadi bagian dari masyarakat Jawa sejak lama. Anehnya, penggunaan Nini Thowok dalam praktiknya dilarang dalam Islam, sehingga praktik permainan ini sirna. Hal yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah lagu ilir-ilir akan segera sirna juga? Jika ditinjau dari segi sastra, ilir-ilir memiliki interpretasi yang mendalam sebab diyakini diciptakan oleh salah seorang Wali Songo, sehingga mengandung pesan mistis dan filosofis. Meskipun dimensi keislaman ilir-ilir mendominasi dan perlahan mengggantikan lagu anak-anak Jawa, namun belum ada bukti kongkrit bahwa lagu tersebut memiliki akar Islami. Salah satunya adalah praktik budaya Nini Thowok yang permainannya bersanding dengan ilir-ilir, menjadi salah satu bukti tidak adanya relasi dengan Islam.