(Sumber : Damarku)

Bijak Bemedia

Riset Sosial

Artikel berjudul “Motivations for Using Religious Digital Media: A Hierarchical Regression Analysis Among Jordanian University Students” merupakan karya Mohammad Jaber Thalgi. Tulisan ini terbit di Millah: Journal of Religious Studies tahun 2024. Penelitian tersebut menyelidiki faktor-faktor yang memengaruhi motivasi penggunaan media digital keagamaan (RDMUM) di antara 330 mahasiswa universitas Yordania. Hal ini diperlukan guna mempelajari faktor-faktor yang memotivasi kaum muda untuk mengikuti situs web keagamaan guna merasakan dampak intelektual dan perilaku mereka. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi penggunaan media digital keagamaan. Ketiga, implikasi yang lebih luas. 

  

Pendahuluan

  

Media digital telah muncul sebagai media penting untuk komunikasi di seluruh dunia, salah satunya memfasilitasi perolehan pengetahuan. Lanskap modern telah menyaksikan menjamurnya situs web keagamaan bagi kelompok pemuda dengan beragam orientasi. Beberapa situs web mengejar tujuan yang konstruktif, namun beberapa lainnya menganjurkan kekerasan. Ada tren di kalangan mahasiswa Yordania yang memanfaatkan platform daring yang menampilkan informasi keagamaan. Hal ini dapat dikaitkan dengan karakteristik masyarakat Yordania dan evolusi media digital. Masyarakat Yordania menunjukkan berbagai kekhawatiran mengenai tren keagamaan dan interaksinya dengan dinamika politik, bahkan budaya. 

  

Selama tiga puluh tahun terakhir, kekhawatiran meningkat atas kesulitan yang dihadapi oleh kaum muda dalam konteks kebangkitan media digital. Selain penurunan nyata dalam keterlibatan dengan komunitas agama, ada kekhawatiran yang berkembang tentang pendidikan pemuda dalam lingkungan, serta menjamurnya situs web kontroversial yang menyebarkan ideologi agama yang tidak akurat. Media digital telah meningkatkan komunikasi, pemantauan, dan akses terhadap informasi. Organisasi ekstremis telah memengaruhi kaum muda, dengan media sosial berfungsi sebagai instrumen utama perekrutan korban. Sebaliknya, banyak situs web yang menganjurkan budaya kolaborasi dan keharmonisan sosial. Masyarakat Yordania menganggap agama Islam sebagai elemen budaya sekaligus kerangka kerja untuk mengartikulasikan gerakan dan tren sosial dan politik yang terorganisasi. 

  

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Penggunaan Media Digital Keagamaan

  

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan media digital keagamaan. Pertama, usia dan jenis kelamin. Pemuda dengan usia 18-22 tahun menunjukkan motivasi yang lebih tinggi untuk terlibat dengan media digital keagamaan. Peran gender tradisional dan faktor budaya dapat memengaruhi motivasi yang lebih tinggi yang diamati pada pria. Di banyak budaya, pria mungkin mengalami ekspektasi dan tekanan sosial yang berbeda terkait keterlibatan keagamaan dibandingkan wanita. Hal ini dapat mendorong tingkat keterlibatan yang lebih tinggi di antara pria, karena mereka mungkin berusaha untuk menegaskan atau memperkuat keyakinan mereka di ranah. Pengguna yang lebih muda lebih terbiasa dengan dunia digital dan tumbuh dengan teknologi sebagai bagian integral dari kehidupan mereka. Mereka mungkin lebih cenderung menggunakan platform digital untuk mengeksplorasi dan terlibat dengan konten keagamaan sebagai bagian dari pencarian mereka yang lebih luas untuk identitas pribadi dan sistem kepercayaan. 

  

Kedua, lokasi dan spesialisasi universitas. Konten media digital keagamaan memiliki daya tarik yang luas dan universal yang melampaui perbedaan regional. Akses yang luas ke platform digital menyamakan peluang keterlibatan di berbagai wilayah. Demikian pula, dampak yang tidak signifikan dari spesialisasi akademis menunjukkan bahwa motivasi tidak terlalu dipengaruhi oleh bidang studi seseorang. Universalitas ini menunjukkan bahwa media keagamaan menarik bagi khalayak luas tanpa memandang latar belakang akademis, yang menekankan bahwa minat pribadi dan pengetahuan sebelumnya lebih berpengaruh dalam menentukan penggunaan media.

  

Ketiga, jenis media dan karakteristik platform. Jenis media digital (situs web, media sosial) tidak berdampak signifikan terhadap motivasi, yang menunjukkan bahwa substansi konten lebih penting daripada format penyampaian. Pengguna cenderung lebih fokus pada relevansi dan kedalaman konten daripada media yang digunakan untuk menyampaikannya. 


Baca Juga : Bang Haji Rhoma Irama, Nasab Ba\'alawi dan Bukti Sains

  

Keempat, peran pengetahuan sebelumnya. Pengaruh kuat pengetahuan sebelumnya terhadap motivasi menggarisbawahi pentingnya relevansi konten. Pengguna dengan dasar yang kuat dalam topik keagamaan lebih termotivasi untuk terlibat dengan media digital yang selaras dengan pengetahuan mereka saat ini. Temuan ini menyoroti perlunya pembuat konten untuk menyediakan materi yang membangun pengetahuan pengguna yang telah ada sebelumnya dan memenuhi minat khusus mereka. 

  

Kelima, peran kepentingan tertentu. Minat terhadap topik keagamaan tertentu (misalnya, pemikiran Islam dan topik yurisprudensi) juga secara signifikan mendorong keterlibatan. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna termotivasi oleh konten yang sesuai dengan bidang minat tertentu. Menyesuaikan konten agar sesuai dengan minat pengguna dapat meningkatkan keterlibatan mereka dan memastikan bahwa media merupakan sumber daya yang berharga untuk memperluas pemahaman mereka. 

  

Implikasi yang Lebih Luas

  

Penelitian tersebut menawarkan pembuatan konten dan strategi dalam media digital keagamaan. Pertama, pengaruh kuat dari pengetahuan sebelumnya dan minat khusus menyoroti pentingnya menyesuaikan konten dengan basis pengetahuan dan bidang minat yang ada. Melalui pengembangan konten yang dibangun berdasarkan pengetahuan sebelumnya pengguna dan membahas minat khusus mereka, pembuat konten dapat mendorong keterlibatan yang lebih dalam dan menjadikan media sebagai sumber daya yang lebih berharga. Selain itu, efektivitas platform yang berbeda-beda menggarisbawahi perlunya mengadaptasi konten untuk memanfaatkan kekuatan unik masing-masing media. Misalnya, keterbatasan karakter Twitter dan pergantian konten yang cepat mungkin memerlukan pendekatan yang berbeda. Ini berarti mengoptimalkan konten untuk gaya interaksi dan preferensi setiap platform. 

  

Lebih jauh, pola yang diamati dalam usia dan jenis kelamin menunjukkan bahwa strategi konten peka terhadap perbedaan demografis. Membuat konten bertarget yang sesuai dengan kelompok usia dan jenis kelamin yang berbeda dapat meningkatkan relevansi dan keterlibatan. Terakhir, sementara dampak minimal dari faktor geografis dan akademis menunjukkan daya tarik media digital keagamaan yang luas dan universal, mengeksplorasi konteks budaya regional dan pengaruh akademis dapat memberikan wawasan tambahan tentang preferensi konten dan meningkatkan strategi keterlibatan. Wawasan ini menekankan perlunya pendekatan bernuansa terhadap pembuatan konten dan strategi platform untuk meningkatkan keterlibatan dan kepuasan pengguna di berbagai segmen demografi.

  

Kesimpulan

  

Berdasarkan hasil penelitian di atas, seorang pembuat konten harus fokus pada penyesuaian konten keagamaan digital dengan minat dan tingkat pengetahuan pengguna, khususnya dalam pemikiran dan yurisprudensi Islam, untuk meningkatkan keterlibatan dan kepuasan mereka. Akan lebih baik jika, eksplorasi faktor tambahan diperlukan seperti atar belakang budaya dan literasi digital untuk mengoptimalkan konten bagi beragam audiens dalam penelitian. Selain itu, meskipun skala RDMUM telah divalidasi, skala tersebut mungkin tidak mencakup semua dimensi motivasi, yang menunjukkan perlunya pengukuran tambahan untuk memberikan pemahaman yang lebih.