(Sumber : CNN INDONESIA )

Film Animasi Jumbo: Ketika Imajinasi Anak Jadi Cara Menyembuhkan Luka Kehilangan

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

  

Kalau kamu lagi nyari film animasi yang bukan hanya seru tapi juga menyentuh hati, Jumbo adalah jawabannya. Film garapan Visinema Studios ini berhasil mencuri perhatian penonton sejak hari pertama tayang. Nggak main-main, per Kamis (17/4), Jumbo udah ditonton 4 juta orang hanya dalam waktu dua minggu! Ini bikin Jumbo jadi film animasi terlaris di Asia Tenggara, dengan pendapatan sekitar Rp134 miliar. Keren banget ya?

  

Tapi Jumbo bukan hanya soal angka dan visual kece. Di balik detail animasi yang ciamik dan cerita petualangan yang seru, film ini ternyata menyimpan pesan mendalam tentang bagaimana anak-anak memproses duka. Ya, Jumbo bisa disebut film anak-anak yang “berani beda” dan penuh makna. Yuk, kita kupas bareng-bareng!

  

Sinopsis Singkat: Petualangan Don dan Dunia Imajinasi yang Mengharukan

  

Cerita Jumbo berpusat pada Don, seorang anak yatim piatu berusia 10 tahun yang sering diolok-olok karena tubuhnya yang besar. Julukan “Jumbo” yang awalnya hanya candaan, lama-lama jadi beban buat Don. Tapi di balik rasa minder itu, Don punya impian besar: tampil di pertunjukan bakat sekolah dan membuktikan bahwa dia bisa.

  

Buat tampil di pentas, Don pengen bikin drama panggung dari buku dongeng peninggalan orang tua. Buku ini bukan buku sembarang, tapi punya nilai sentimental tinggi. Sayangnya, buku itu malah dicuri. Dalam usahanya mencari buku itu, Don bertemu dengan sosok misterius bernama Meri—seorang arwah yang punya misi tersendiri: menyatukan kembali makam keluarganya yang dirusak.

  

Don dan Meri akhirnya terlibat dalam petualangan seru dan penuh makna. Sepanjang perjalanan, mereka belajar tentang keberanian, empati, dan tentu saja… persahabatan. Yang bikin cerita ini semakin kuat adalah bagaimana Don menggunakan imajinasinya untuk “menghidupkan kembali” kenangan bersama orang tuanya.

  

Imajinasi sebagai Ruang Aman Anak untuk Sembuh dari Duka


Baca Juga : Densus 88 Anti Teror: Pesantren Itu Sumber Islam Asli

  

Salah satu hal paling menyentuh dari Jumbo adalah bagaimana film ini menggambarkan cara anak-anak memproses kehilangan. Dalam sebuah adegan, Don membayangkan orang tuanya hadir di sisinya lewat drama panggung yang ia buat. Sederhana, tapi ngena banget.

  

Menurut psikolog klinis Olphi Disya Arinda yang penulis kutip dari BBC, imajinasi seperti ini bukan hal aneh, bahkan justru sangat sehat. Ia mengatakan, “Imajinasi memberikan anak-anak \'ruang aman\' untuk mengekspresikan emosinya yang mungkin terlalu besar atau membingungkan untuk diungkapkan secara langsung.”

  

Anak-anak, apalagi yang masih kecil seperti Don, terkadang belum bisa menyampaikan kesedihan mereka dengan kata-kata. Tapi lewat gambar, cerita, atau permainan peran, mereka bisa menciptakan “jembatan” untuk memahami perasaan mereka sendiri. Dan menurut Disya, ini bukan gangguan, melainkan bagian dari proses penyembuhan emosional.

  

Kenapa Film Ini Layak Ditonton?

  

Nggak sedikit juga yang sempat mempertimbangkan Jumbo karena tidak yakin “hantu” di dalamnya. Tapi konteks hantu di sini bukan sesuatu yang menyeramkan ala film horor, ya. Meri si arwah justru tampil sebagai sosok yang hangat, punya tujuan baik, dan jadi katalis penting bagi Don untuk memproses emosinya.

  

Di balik segala elemen fantasi yang ada, Jumbo justru menyentuh isu nyata: bagaimana anak-anak mengatasi rasa kehilangan, bagaimana mereka merindukan kehadiran orang tuanya, dan bagaimana dunia imajinasi bisa jadi pengungsi yang sehat dan membantu.

  

Selain itu, animasi dalam film ini dibuat oleh lebih dari 400 kreator lokal selama lima tahun. Detailnya rapi, warnanya hidup, dan kualitasnya nggak kalah dari film-film animasi luar negeri. Bahkan, Jumbo sukses memecahkan rekor Si Juki the Movie yang dulu sempat menjadi film animasi lokal paling laris.

  


Baca Juga : Disiplin Mulai Longgar, Tren Kematian Terus Meningkat

Jumbo, Bukan Sekadar Film Anak

  

Mungkin kamu kira awalnya Jumbo cuma film animasi biasa buat anak-anak. Tapi setelah menonton, kamu bakal sadar kalau film ini lebih dari itu. Jumbo mengajak kita, terutama orang dewasa, untuk lebih memahami dunia emosional anak-anak. Dunia yang kadang penuh kesedihan, tapi juga penuh harapan dan kekuatan lewat imajinasi.

  

Film ini cocok banget buat ditonton bareng keluarga, terutama buat kamu yang lagi belajar memahami si kecil atau mungkin sedang mengalami proses kehilangan juga. Karena pada akhirnya, Jumbo mengingatkan kita bahwa setiap anak punya caranya sendiri untuk sembuh—dan terkadang, cara itu datang dari dunia imajinasi mereka yang penuh warna.

Kalau kamu belum nonton Jumbo, buruan deh ke bioskop! Siapin tisu juga ya, karena bisa jadi kamu bakal kena par emosinya di tengah Petualangan Don dan Meri.