Kepemimpinan dan Pendidikan
Riset SosialOleh: Rohmania Citra
Tulisan berjudul Kepemimpinan Transformatif Pendidikan Islam merupakan karya Muhammad Fatih Rusydi Fatih. Tulisan digunakan sebagai salah satu bahan diskusi oleh Komunitas Baca Rakyat dan Nur Syam Centre dengan tema kepemimpinan transformatif. Di dalam review ini akan dijelaskan singkat mengenai tulisan Fatih dalam tiga sub bab. Pertama, solusi pemasalahan organisasi. Kedua, konsepsi dasar kepemimpinan transformasional. Ketiga, kepemimpinan transformasional dalam lembaga pendidikan Islam.
Solusi Permasalahan Organisasi
Di dalam manajemen organisasi tentu membutuhkan sosok pemimpin, karena pemimpin adalah komponen untama. Organisasi membutuhkan kelengkapan pengurus dalam menjalankan misi organisasi untuk pembagian job desc sesuai dengan porsi jabatan. Namun, kelengkapan pengurus tidak selalu menjamin bahwa “roda” organisasi akan berjalan sesuai dengan visi dan misi. Salah satu faktor yang menentukan berjalannya “roda” organisasi adalah sosok pemimpin. Sosok pemimpin yang diharapkan adalah mereka yang dapat menempatkan diri dalam segala situasi dan kondisi.
Fatih menuliskan “gap” dengan menggunakan analisa dari Lawler. Menurut Lawler, organisasi akan selalu mengalami perubahan yang tidak menentu. Oleh sebab itu, dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu melakukan “antisipasi” pada perubahan dengan pengetahuan yang komprefensif dalam mentransformasikan perubahan dalam organisasi.
Fatih mengusulkan model kepemimpinan transformasional sebagai solusi atas perubahan yang terjadi dalam suatu organisasi. Selain itu, model kepemimpinan transformasional juga dapat menjadwab analisa Lawler mengenai kemampuan melakukan pengelolaan perubahan terhadap kondisi yang sedang berlangsung dalam organisasi.
Konsepsi Dasar Kepemimpinan Transformasional
Di dalam menjelaskan definisi kepemimpinan, Fatih meminjam pemikiran Hemphill & Coons dan Rauch, Charles & Orlando. Menurut Hemphill dan Coons, kepemimpinan adalah sikap pribadi yang memimpin pelaksanaan aktivitasnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Rauch, Charles & Orlando menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama.
Baca Juga : Mencermati Gerakan Kontra Pemerintah
Fatih lebih lanjut menjelaskan jenis kepemimpinan dengan meminjam pemikiran Burns, yang menyatakan bahwa kepemimpinan dibagi menjadi dua. Pertama, kepemimpinan transaksional yakni mereka yang memimpin lewat pertukaran sosial. Kedua, kepemimpinan transformasional adalah mereka yang mampu menginsipirasi pengikutnya.
Fatih juga menjelaskan peran pemimpin transformasional yang harus memiliki empat dimesi yang dapat menjelaskan perilaku seorang pemimpin transformasional. Pertama, Idealized Influence Attributes. Artinya, seorang pemimpin memiliki ide yang kuat, komitmen yang tinggi, visi yang jelas, tekun, pekerja keras, konsisten, dan mampu memberikan pengaruh emosi yang kuat pada semua elemen organisasi untuk mencapai tujuan. Kedua, Inspiration and Motivation. Artinya, pemimpinan mampu memotivasi dan menginspirasi orang disekitar untuk menciptakan antusiasme dan optimisme. Ketiga, Intellectual Simulation. Artinya, pemimpin mampu menstimulus anggotanya untuk lebih inovatif, kreatif dan mampu membuat suasana menjadi nyaman. Keempat, Individual Consideration. Artinya, pemimpin mampu menyediakan ruang, waktu, dan fasilitas yang dapat digunakan karyawan untuk memberdayakan dan mengembangkan kemampuan agar performa organisasi menjadi lebih baik.
Kepemimpinan Transformasional dalam Lembaga Pendidikan Islam
Fatih menyimpulkan beberapa indikator seorang pemimpin disebut sebagai pemimpin transformasional. Pertama, mampu melakukan pembaharuan. Kedua, mampu memberikan keteladanan. Ketiga, memberikan dorongan produktifitas dalam diri anggota. Keempat, harmonisasi dalam lingkungan kerja. Kelima, pemberdayaan wilayah bawahan. Keenam, tindakan yang berdasar atas sistem nilai. Ketujuh, peningkatan kemampuan yang berlangsung terus menerus. Kedelapan, memiliki kemampuan dalam menghadapi situasi yang rumit.
Fatih menjelaskan bahwa pemimpin transformasional dalam lembaga pendidikan Islam, artinya menambah satu bagian dari kepemimpinan yang Islami. Sehingga, pemimpin lembaga pendidikan, dalam hal ini Kepala Sekolah perlu mengadopsi gaya kepemimpinan transformasional. Hal ini diperlukan guna semua potensi di sekolah dapat berfungsi secara optimal. Figur transformatif dalam diri pemimpin adalah sebuah “tanda” bahwa sang pemimpin memiliki kemampuan manajerial dalam mengelola lembaga pendidikan. Sesuai dengan analisa Lawyer, bahwa keadalaan lembaga atau organisasi serig berubah, sehingga diperlukan sosok pemimpin yang mampu menempatkan dirinya dalam keadaan apapaun. Kehadiran pemimpin transformasional dibutuhkan, agar guru lebih bersemangat dalam proses pembelajaran pada siswa. Sehingga, siswa dapat merasa nyaman dalam menerima pelajaran dan membuat para siswa lebih semangat belajar dengan segala inovasi yang dilakukan
Kesimpulan
Tulisan Fatih berusaha memberikan solusi atas permalasahan dalam organisasi. Secara tidak langsung Fatih berusaha menyampaikan bahwa, pemimpin sebagai komponen utama dalam sebuah organisasi adalah tepat bagi mereka yang layak. Artinya, memiliki gaya kepemimpinan transformatif. Semakin baik gaya kepemimpinan suatu lembaga berbanding lurus dengan kualitas suatu lembaga. Tulisan ini sudah sangat terstruktur, hanya saja masih terdapat kesalahan pada redaksi dan penataan paragraph di dalamnya. Terlepas daripada itu, tulisan Fatih “menggugah” para pemimpin agar memiliki “jiwa” transformasional.

