(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Meninjau Kembali Usaha Perdamaian Israel-Palestina

Riset Sosial

Artikel berjudul “Education and Peacebuilding in Israel and Palestine” merupakan karya Saliba Sarsar. Tulisan ini terbit di Journal of South Asian and Middle Eastern Studies tahun 2020.  Tujuan dari penulisan artikel ini adalah memperdalam pemahaman makro ke level mikro interkoneksi pendidikan dengan pembangunan perdamaian antara Israel dan Palestina. Terdapat tiga sub bab dalam review berikut. Pertama, lingkungan untuk pembangunan perdamaian. Kedua, konteks kelembagaan dan organisasi. Ketiga, narasi sejarah yang bersaing. 

  

Lingkungan untuk Pembangunan Perdamaian

  

Hal pertama yang dilakukan oleh peneliti untuk menjelaskan pembangunan perdamaian di Israel dan Palestina adalah menjelaskan keadaan lingkungan secara keseluruhan. Secara gamblang Sarsar menjelaskan bahwa sebenarnya inisiatif perdamaian itu mudah, hanya tantangan yang dihadapi begitu banyak. Selain itu, tergantung pada sifat dan keadaan masyarakat di dalamnya. Hal yang terjadi di Israel dan Palestina adalah masyarakat terpecah dan cenderung terpolarisasi pada aspek politik. Pemerintah Israel terus menerus membuat aturan yang keras, sehingga diskriminasi akan hak asasi manusia di Gaza semakin besar. Misalnya, membatasi ‘pergerakan’ manusia dan barang yang masuk maupun keluar dari Jalur Gaza, serta memberikan fasilitas bagi warga Israel yang bermukim di Tepi Barat secara illegal. 

  

Lebih lanjut, Sarsar menjelaskan terkait hukum yang ditetapkan Israel sejak tahun 2016, yakni “transparency law” serta “nation-state law”, sejak tahun 2018.  Undang-Undang ini semakin memperbesar otoritas Israel atas Palestina. Misalnya, nation-state law membuat bangsa Yahudi menetapkan Bahasa Ibrani sebagai bahasa resmi Israel, dan menjadikan bahasa Arab dalam status khusus. Selain itu, pemukiman bagi orang Yahudi wajib untuk dipromosikan sekaligus dikembangkan. 

  

Pada pihak Palestina, pembangunan perdamaian digambarkan sebagai anti-Israel yang dianggap sebagai penghianat. Beberapa pemuda fundamentalis Yahudi telah melakukan serangan terhadap warga Palestina di berbagai tempat, tak terkecuali masjid. Tujuan dari tindakan ini twntu saja memberikan terror, agar warga Palestina merasa takut. Sayangnya, serangan tersebut dibalas oleh Palestina dengan melakukan boikot, divestasi dan sanksi agar Israel menghentikan pelanggarannya terhadap hak Palestina. 

  

Konteks Kelembagaan dan Organisasi 

  

Meskipun tidak ada penjelasan terkait fokus lembaga organisasi yang dimaksud di awal, namun setelah membacanya dengan runtut dapt diketahui bahwa penelitian ini fokus dakan lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat. Sarsari tidak hanya menjelaskan secara teori, namun menghasilkan berbagai fakta yang terjadi sebagai contoh. Lebih lanjut, ia juga mendeskripsikan perbedaan pada masing-masing negara dalam usahanya membangun perdamaian. 

  

Di Palestina, lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat sipil memiliki peran penting dalam menangani pendudukan dan pembangunan perdamaian secara luas. Misalnya, salah satu Sekolah bernama “Hope Flower School” sebagai salah satu pelopor perdamaian dalam pendidikan. Sekolah ini fokus untuk mengatasi penyembuhan bagi anak-anak usia lima hingga empat belas tahun yang mengalami trauma konflik, miskin dan malnutrisi. Hal ini diintegrasikan dalam kurikulum terkait mengatasi frustasi dan kondisi sulit, mengungkapkan ide, membuat keputusan, dan bekerja sama. Begitu juga pada Perguruan Tinggi di Palestina, seperti Universitas Betlehem yang memberikan pendidikan berkualitas bagi pelajar Palestina, terlepas dari situasi politik yang bergejolak. Mereka fokus akan bekal bagi pelajar Palestina untuk membentuk pribadi yang sukses melalui profesionalisme, kesetaraan dalam keragaman, akses pendidikan, nilai demokrasi dan perdamaian. Begitu juga dengan organisasi masyarakat yang memiliki peran sebagai peacebuilding dan edukasi di tengah kondisi yang mengerikan. Misalnya, kemunculan Center for Rapprochement between People, Palestinian Center for Peace and Democracy, Palestinian Conflict Transformation Center, Holy Land Trust, International Peace and Cooperation Center, International Peace and Cooperation Center, Middle East Nonviolence and Democracy, and Palestinian Center for Conflict Resolution and Reconciliation. 


Baca Juga : Langkah-langkah Belajar Fikih Ala Ulama Yaman Dr. Labib Najib

  

Sementara lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat melakukan yang terbaik untuk menginisiasi perdamaian, justru ekstremis dari beberapa ideologis berusaha untuk menggagalkannya. Misalnya, pada tahun 2007, Profesor Dajani Daoudi bersama saudaranya Munther mendirikan gerakan wasatiyya, yakni gerakan muslim yang berusaha untuk mempromosikan non-kekerasan, kompromi, toleransi, keadilan, perdamaian dan rekonsiliasi. Ia memperomosikan gerakan ini dengan mengunjungi berbagai tempat, salah satunya Auschwits tahun 2011 dengan 150 pemimpin agama di seluruh dunia. Sayangnya, ia justru mendapatkan perlakuan yang tidak layak, mulai dari hinaan, tuduhan penghianatan, ancaman kematian bahkan mobilnya dibakar. 

  

Berbeda dengan Palestina, lembaga perguruan tinggi Israel justru fokus pada pembangunan sosial ekonomi negara, bukan kemerdekaan atau bahkan kebebasan. Justru, upaya perdamaian lahir dari masyarakat sipil dan organisasi masyarakat, seperti Association for Civil Rights in Israel; Peace Now; New Israel Fund; Adam Institute for Democracy and Peace; Rabbis for Human Rights. 

  

Narasi Sejarah yang Bersaing

  

Aspek lain dari pendidikan dan pembangunan perdamaian adalah berkaitan dengan inisiatif untuk mempelajari narasi sejarah konflik. Hal ini dilakukan sebagai upaya mempersempit kesenjangan antara Palestina dan Israel guna mendorong pengembangan toleransi, koeksistensi atau nilai-nilai masyarakat yang berkembang. Inisiatif ini menghasilkan empat dampak positif. Pertama, mempopulerkan fakta bahwa Palestina dan Israel memiliki narasi yang berbeda dalam kontribusinya pada perdamaian. Kedua, masing-masing pihak mengungkapkan narasi ‘saingan’ yang kurang bias. Ketiga, inisiatif ini meredam narasi yang bersaing, sehingga memungkinkan untuk mengubahnya. Keempat, adanya jalinan komunikasi satu sama lain dan condong positif. 

  

Selain itu, pada buku pelajaran di Israel dan Palestina saling mendeskripsikan hal buruk masing-masing. Keduanya mendeskripsikan tuduhan bahwa masing-masing pihak bersalah atas kejahatan dan kelalaian. Keduanya menampilkan narasi sebagai negara yang suka berperang dan menolak pengakuan dari yang lain. Oleh sebab itu, Sami Adwan salah satu dosen Universitas Betlehem, Psikolog asal Israel bernama Daniel Bar-Tal dari Universitas Tel Aviv, dan Bruce E. Wexler dari Universitas Yale, bersama dengan tim peneliti dari Israel dan Palestina yang fasih dalam bahasa Arab dan Ibrani merancang dan mengimplementasikan metode baru berbasis ilmiah untuk menganalisis secara kuantitatif dan kualitatif buku pelajaran di kedua negara. Mereka menganalisis lebih dari 3000 karya sastra. Hasil dari analisis tersebut adalah empat hal. Pertama, dehumanisasi dan demonisasi jarang terjadi di buku-buku Israel dan Palestina. Kedua, buku Israel dan Palestina memberikan narasi nasional yang eksklusif secara selektif dalam menyoroti peristiwa dan masalah dalam istilah negarig. Tindakan ini diambil kedua pihak sebagai promosi tujuan perdamaian. Ketiga, tidak adanya informasi tentang budaya, agama dan kehidupan sehari-hari dalam buku pelajaran. Akibatnya mengurangi usaha perdamaian. Keempat, negativitas dalam menyajikan orang lain, kepositifan menampilkan diri dan penolakan terhadap orang lain lebih menonjol pada buku Palestina. 

  

Kesimpulan

  

Penelitian di atas memberikan salah satu gambaran bagaimana usaha membangun perdamaian atas konflik Israel dan Palestina. Bagaimana deskripsi bantuan lembaga pendidikan dan organisasi sosial masyarakat dalam upaya mengambil jalan tengah atas konflik yang terjadi. Hasil penelitian ini menambah wawasan akan perkembangan yang terjadi antar keduanya. Sayangnya, penelitian ini dituliskan tidak secara runtut sekaligus jelas. Tidak dijelaskan bagaimana metode yang dilakukan oleh peneliti dalam menjalankan penelitiannya. Lebih dari itu, tidak ada penulisan latar belakang sebagai salah satu cara untuk memahami terkait urgensi penelitian ini. Selain itu, ‘giringan’ untuk memahami alur penelitian hingga mendapatkan hasil kurang jelas dan tidak terlalu runtut. Terlepas dari kekurangan itu, penelitian ini menuliskan secara gamblang bagaimana lingkungan Israel dan Palestina dalam usaha membangun perdamaian.