Nalar Kebahagiaan Tarekat Dalam Perspektif Agama dan Sosial
Riset SosialKarya ini ditulis oleh Dr. Chabib Musthofa., S.Sos.I., M.Si dengan judul The Construction of Spiritual-Wellbeing In The Community of Tarekat. Tulisan tersebut membahas mengenai bagaimana ketenangan rohani didapatkan pada komunitas Tarekat. Ketenangan rohani yang dimaksud adalah kesejahteraan, kebahagiaan dan kemakmuran. Menjelang akhir abad ke dua puluh, tiga tema tersebut menjadi subjek yang penting dalam studi ilmu sosial, sehingga mulai banyak penelitian yang membahas tentang hal tersebut. Resume ini akan membahas dua sub bab. Pertama, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemakmuran. Kedua, peran agama.
Kesejahteraan, Kebahagiaan, dan Kemakmuran
Pada abad 18 dan 19 studi ilmu sosial seringkali menjelaskan mengenai perilaku sosial manusia, namun pada akhir abad kedua puluh terdapat kecenderungan mengenai penjelasan ilmiah pada aspek yang lebih praktis dan aplikatif. Konsep mengenai kesejahteraan, kebahagiaan dan kemakmuran jarang ditemukan dalam tulisan sosiolog seperti Parson, Weber, Durkheim, Marx dan Simmel. Mereka hanya menjelaskan bagaimana manusia harus hidup dan memperoleh kehidupan yang baik dalam konteks sosiologis. Pada akhir abad dua puluh, terminologi mengenai kesejahteraan, kebahagiaan dan kemakmuran mulai diterapkan dalam dimensi yang lebih nyata. Pada dasarnya, sebelum sains dan ilmu sosial menjelaskan mengenai tiga terminologi tersebut, agama telah memiliki penjelasan mengenai ketiganya.
Perihal kebahagiaan, agama memberikan penjelasan mengenai kebahagiaan manusia tidak hanya dalam hidup di dunia melainkan juga setelah mati. Penjelasan ini tentu saja doktrinal dan normatif. Lalu, bagaimana manusia mampu mencapai kebahagiaan sesuai dengan keyakinan agama mereka?. Hal ini bergantung pada kemampuan untuk menerjemahkan dan memahami kepercayaan agamanya ke dalam praktek kehidupan sehari-hari. Agama berupaya untuk membimbing umatnya untuk memperoleh kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, dan kebenaran dalam perjalanan hidup mereka. Upaya tersebut dimanifestasikan dengan perintah, larangan, dan saran yang mengarah pada penetapan hukum bagaimana berperilaku terhadap diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan Tuhan. Aturan perilaku ini seringkali disebut sebagai akhlak atau adab.
Pada aturan yang lebih mendasar, akhlak tidak hanya dikendalikan oleh agama karena sistem budaya lokal juga turut mempengaruhi. Agama telah memberikan prinsip dan penjelasan yang universal, sisanya tergantung bagaimana budaya dan kreativitas manusia dalam prakteknya. Contohnya, tidak pantas seorang lelaki berdoa menggunakan celana pendek menutupi lutut, sedangkan ketika bertemu dengan tamu dia memakai baju dan celana panjang. Di dalam pandangan Islam, menggunakan celana yang menutupi lutut meskipun pendek bukan hal yang salah, tetapi seorang muslim harusnya mengenakan pakaian yang sesuai saat melakukan sholat karena bertemu dengan Tuhan.
Manusia selalu berkaitan dengan agama, meskipun beberapa orang mengaku tidak menganut agama apa pun, termasuk di Indonesia. Realitas yang terjadi adalah perilaku yang ditunjukkan oleh penganut agama tidak selalu sesuai dengan dengan keyakinan pada agama, karena terkadang mereka melakukan perilaku yang bertentangan. Misalnya, korupsi dan eksploitasi otoritas kekuasaan di Indonesia. Pemimpin yang melakukan kejahatan seperti itu berimbas pada penderitaan pada banyak orang, tentu saja pemimpin semacam itu tidak menuntun orang menuju keselamatan dan kemakmuran.
Peran Agama
Di dalam sub bab ini, Chabib Musthofa mencoba menjawab dua pertanyaan. Pertama, di mana posisi agama ketika melihat perilaku pemimpin yang melanggar aturan di Indonesia?. Kedua, dalam hal yang sama, di mana posisi sains dalam sistem pengetahuan mereka?. Dua pertanyaan ini dapat dijelaskan dengan teori behaviorisme dan humanisme. Menurut behaviorisme, lingkungan mempengaruhi dan membentuk manusia, sedangkan menurut humanisme, manusia memiliki kemampuan untuk membentuk dirinya sendiri. Di tengah perdebatan inilah, muncul fenomena menarik untuk dikaji, yakni tarekat. Tarekat merupakan komunitas sosial-keagamaan yang menampilkan kebenaran pendapat behaviorisme di satu sisi, dan di sisi lain juga menyuguhkan kebenaran pendapat humanisme.
Istilah Tarekat berasal dari bahasa Arab yang berarti “jalan”. “Jalan” yang dimaksud adalah mekanisme perilaku membimbing pengikutnya mengenai sikap terhadap Tuhan, diri sendiri dan lingkungan. Tarekat memberikan bimbingan spiritual kepada para pengikutnya mengenai akhlak atau adab terhadap diri sendiri, Tuhan dan lingkungan sekitar. Akhlak merupakan aktivitas batin maupun mental dalam pikiran manusia yang bereaksi terhadap masalah, sedangkan adab lebih kepada ekspresi tindakan yang dimanifestasikan dalam sikap yang nyata. Akhlak juga biasa disebut sebagai ahwaliyah (perilaku batin), sedangkan adab sebagai af'aliyah (perilaku lahir).
Kebahagiaan atau kesejahteraan dalam pandangan tarekat adalah kondisi dimana seseorang mencapai ihsan (kesesuaian sikap dan perilaku dalam berbagai aspek kehidupan) dalam hidupnya, karena menggabungkannya dengan iman dan Islam untuk mencapai pengabdian kepada Tuhan. Iman mendasari tindakan, Islam (dalam artian melakukan hukum agama) adalah pengendalian tindakan, sedangkan ihsan untuk pertimbangan dalam melakukan tindakan. Iman, Islam dan ihsan adalah komponen yang digunakan untuk memurnikan, mengisi bahkan mengarahkan kesadaran spiritual pengikut tarekat menuju Tuhan. Artinya, tarekat adalah jalan yang suci dalam perjalanan menuju Tuhan.
Di dalam pelatihan tarekat, seorang guru spiritual disebut sebagai mursyid, sedangkan pengikut tarekat disebut murid. Mursyid bertugas untuk membimbing murid dalam hal ritual fisik seperti pelaksanaan hukum agama, misalnya syahadah, sholat, sedekah, puasa, ziarah dan ibadah lain seperti mu’amalah. Selain itu, mursyid juga bertugas untuk memandu dimensi spiritual murid mereka. Syarat bagi pengikutnya adalah melantunkan do’a-do’a tertentu yang disebut wirid dalam siklus harian, mingguan, bahkan bulanan. Hubungan antara mursyid dan murid adalah hubungan spiritual yang digambarkan sebagai hubungan perjalanan spiritual dalam tarekat. Perjalanan spiritual mursyid dan muridnya terdiri dari tiga fase. Pertama, penyucian diri dari akhlak dan adab yang tercela (Takhalli). Kedua, mengisi diri mereka dengan akhlak dan adab yang terpuji (Tahalli). Ketiga, menyampaikan kesadaran diri bersama dengan akhlak terpuji dan adab yang baik atas kehadirat Tuhan (Tajalli).
Agama Islam berfungsi sebagai sumber iman, inspirasi, pencerahan, hukum dan pola perilaku, sedangkan tarekat berfungsi sebagai wadah yang menyediakan pedoman spiritual untuk kondisi fisik dan mental pengikutnya untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Kebahagiaan yang dimaksud tidak hanya pada kategori kebahagiaan spiritual tetapi juga fisik. Tarekat membimbing pengikutnya untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, kegembiraan jasmani dan rohani, dalam hal ini dunia dan di akhirat. Di dalam ilmu sosial, terdapat beberapa penjelasan mengenai korelasi dimensi spiritual dengan kebahagiaan yang dialami oleh manusia. Terdapat beberapa penelitian yang membahas mengenai korelasi antara dimensi spiritual dengan kebahagiaan.
Pertama, jauh sebelum kalender Kristen, Lao Tze dan Konghucu mengusulkan teori harmoni alam dan harmoni dalam diri manusia dalam upaya untuk mencapai kebahagiaan. Gagasan kebahagiaan ini dijadikan landasan spiritualitas orang Cina dengan konsep Yin-Yang. Gagasan tentang spiritualitas manusia juga dicetuskan oleh filosofi Zoroaster, yang menopang pertumbuhan pemuja api (Zoroaster) di Persia dengan konsep keseimbangan hidup antara kekuatan positif yang diwakili oleh Ahura Mazda dan kekuatan negatif diwakili oleh Ahriman dalam diri manusia. Kedua, Carl Jung menyatakan bahwa spiritualitas adalah upaya menemukan kesadaran dalam diri seseorang. Ketiga, Matthew Fox menekankan pada aspek kehormatan dalam menumbuhkan spiritualitas di Indonesia. Selain tiga penelitian di atas, seorang fisikawan, Albert Einstein mengemukakan ide spiritual yang ia pandang bahwa setiap aspek hidup adalah energi.
Kesimpulan
Paparan artikel tersebut menunjukkan bagaimana budaya dan nilai agama dapat diimplementasikan dalam konteks yang lebih nyata dalam perubahan sosial. Chabib Musthofa berusaha menunjukkan bagaimana terminologi kesejahteraan, kebahagiaan dan kemakmuran bisa dijelaskan melalui kaca mata ilmu sosial dan agama. Jika ilmu sosial tidak mampu menembus dimensi yang lebih dalam mengenai ketiga terminologi tersebut, maka agama mampu menjawabnya, yakni dengan tarekat. Tulisan dari akademisi yang kini menjalani takdirnya sebagai Wakil Dekan 3 FISIP, UIN Sunan Ampel Surabaya ini menjelaskan mengenai tarekat secara lebih dalam hingga hubungan spiritual antara mursyid dan murid. Pada dasarnya, teori umum sangat terbatas dalam menjelaskan perilaku manusia. Penelitian semacam ini diperlukan guna menunjukkan bahwa agama mampu menjelaskan persoalan itu lebih spesifik.

