(Sumber : Surya)

Tiga Lokomotif Pembangunan Ekonomi di Tengah Pandemi

Informasi

Pandemi Covid-19 mengakibatkan perekonomian di Indonesia melemah. Menteri Keuangan Sri Mulyani  menyatakan  bahwa diperkirakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan tumbuh 2,3 persen, dengan skenario terburuk minus 0,4 persen sejak pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan melalui siaran live  di akun Youtube Kemenkeu RI dikutip dari Tirto.id, (01/04/20). Sedang, skenario  perekonomian tersebut meleset jauh dari yang ditargetkan pada tahun 2020, yaitu sebesar 5,3 persen.

 

Pemulihan ekonomi di Indonesia secepat mungkin harus dilakukan. Pengusaha, pembisnis, dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menegah (UMKM) secepat mungkin menyediakan produk yang menjadi kebutuhan kosumen. Pengusaha Sandiaga Uno mengatakan, terdapat beberapa sektor lokomotif pembangunan ekonomi di masa New Normal, yaitu pangan, kesehatan, dan telekomunikasi digital.

 

“Sektor-sektor tersebut sangat amat menjanjikan dan bisa menjadi lokomotif pembangunan ekonomi. Selain itu, ketiga sektor tersebut sangat dibutuhkan masyarakat di tengah pandemi Covid-19,” jelasnya dikutip dari Antara News, Jum’at (19/06/20).

 

Sektor pangan menjadi salah satu sektor yang menjanjikan di tengah pandemi Covid-19. Namun, sejak pandemi Covid-19, sektor pangan membutuhkan strategi penanganan dan persiapan produk yang khusus. Menurut departemen Inovasi dan penelitian Galanakis Laboratories sekaligus anggota Food Waste Recovery Group Austria, Charis M Galanakis  dalam ulasannya yang berjudul The Food System in the Era of the Coronavirus (Covid-19) Pandemic Crisis menjelaskan, bahwa terdapat empat hal yang signifikan menjadi perhatian sektor  pangan di tengah pandemi Covid-19, yaitu pertama, makanan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Kedua, makanan aman dari penyebaran virus Covid-19, baik melalui produsen, pengecer, dan konsumen. Ketiga, keamanan pangan saat masa lockdown. Keempat, keberlanjutan sistem makanan di era yang baru.

 

Menjaga kesehatan menjadi prioritas utama masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Hal ini menuntut pengusaha, pembisnis, dan pelaku UMKM membuat produk makanan dan minuman yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Misalnya, menyediakan makanan atau minuman yang kaya akan vitamin. Adapun menurut Charis M Galalanakis buah jeruk, kiwi dan brokoli adalah buah yang kaya akan vitamin C dan diakui dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Serta, makananan yang mengandung Vitamin A, seperti wortel, kentang, dan bayam yang diakui mampu menurunkan kerentanan untuk terinfeksi.

 

“Di era baru Covid-19 diperkirakan bahwa konsumen akan semakin banyak mencari produk untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sebab, mendukung sistem kekebalan tubuh adalah salah satu tujuan kesehatan teratas konsumen secara global,”jelasnya.

 

Demi menjaga kesehatan dan keamanan konsumen dari Covid-19, perlu penanganan dan persiapan produk secara khusus, misalnya mencuci tangan secara ekstensif untuk meminimalkan resiko menyentuh makanan yang berpotensi terkena Covid-19. Misalnya, terdapat beberapa kafetaria di Belgia Eropa Tengah telah mengambil tindakan pencegahan dengan tak lagi menjual daging dan steak.

 

“Tindakan ini dilakukan sebagaimana praktik penanganan dan persiapan makanan yang disarankan oleh WHO, sepeti menghindari kontaminasi silang dari makanan yang dimasak dan tak dimasak,” ucapnya.

 

Sementara, akibat  pandemi Covid-19 tak hanya sektor pendidikan yang mengalami perubahan sistem operasional. Tapi, sektor perekonomian juga demikian mengalami perubahan sistem distribusi. Akhirnya memerlukan sistem baru yang adaptif, yaitu menggunakan telekomunikasi digital.

 

Dilansir dari Media Foreign Policy, Laura D’andrea Tyson Profesor Sekolah Bisnis di Universitas California sekaligus Dewan Penasehat Ekonomi di bawah naungan The Clinton Administration mengungkapkan, untuk memulihkan ekonomi di tengah pademi perlunya percepatan digitalisasi kegiatan ekonomi dan otomatisasi pekerjaan. Sebab, telekomunikasi digital di tengah pandemi Covid-19 menjadi sistem yang efektif dan efesien untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

 

Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan kemampuan teknologi industri 4.0 untuk mempromosikan produk-produk baru di tengah pandemi, seperti Information Communication and Technology (ICT), aplikasi, platform, big data, dan artificial technology untuk menyederhanakan redistribusi antara pemasok dan pembeli.

 

“Orang yang bekerja jarak jauh saat ini membutuhkan jaringan Wi-fi. Maka, perluasan Wi-fi dan infrastruktur yang signifikan lainnya sangat dibutuhkan untuk percepatan digitalisasi kegiatan perekonomian,” jelasnya.

 

Untuk itu, pengusaha, pembisnis, dan UMKM  secepat mungkin menciptakan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Serta, memanfaatkan telekomunikasi digital sebagai sistem baru di era New Normal untuk menyederhanakan redistribusi. Serta, untuk memulihkan kembali perekonomian di Indonesia dengan tetap memprioritaskan keamanan produk sebelum sampai di tangan konsumen. (Nin)