Tuesday, July 28 2026

Author: Redaktur

Secara teoretis, konflik selalu berdampingan dengan konsensus. Maksudnya, bahwa di dunia ini ternyata tidak hanya eksis konsensus sosial tetapi juga konflik sosial. Secara historis, masyarakat di dunia selalu berada di dalam dua kondisi tersebut, jika tidak terjadi keteraturan sosial, maka akan terjadi konflik sosial. Di belahan dunia selalu terdapat keteraturan sosial dan juga konflik sosial.

Tidak hanya rakyat yang panik dalam menghadapi wabah virus corona, akan tetapi juga pemerintah. Tidak hanya Indonesia yang panik akan tetapi seluruh dunia panik menghadapi makhluk yang sangat kecil, mikroba virus corona.\n\nSekarang ini hanya Cina yang sudah merasa bebas dari wabah ini, karena kebijakan lock down terhadap Kota Wuhan selama virus mewabah, sehingga nyaris tidak

Sebagai penggemar Bang Haji Rhoma Irama, tentu saja saya langsung mendapatkan kiriman dari Dr. Saifuddin, UIN Raden Fatah Palembang, tentang lagu “Virus Corona”. Perlu saya sampaikan bahwa Dr. Saifuddin adalah doktor yang meneliti tentang lagu-lagu Bang Haji dan Bang Haji juga hadir untuk memberi testimoni tentang lagu-lagunya pada saat ujian terbuka Mas Dr. Saifuddin.\n\nSaya menulis

Saya termasuk orang yang menyukai tulisan Pak Dahlan Iskan. Bahkan saya juga membaca seluruh bukunya, terutama pada saat saya menjadi promotor untuk penganugerahan Doktor Honoris Causa (DR.Hc) yang diberikan oleh UIN Walisongo Semarang, tahun 2017 yang lalu. Saya juga terus mengikuti tulisan-tulisan beliau sewaktu masih di Jawa Pos, dan sekarang melalui WAG yang sering dishare

Saya teringat Clifford Geertz ketika menemukan konsep Agama Jawa dengan Abangan yang berpusat di desa, Birokrat yang berada di perkotaan dan Santri yang berpusat di Pasar. Konsep desa dan kota merupakan konsep yang sesungguhnya telah ditemukan oleh Robert Redfield ketika melihat ada tradisi besar (great tradition) dan tradisi kecil (little tradition). Tradisi besar berpusat di

Konsep baru yang saya tawarkan untuk kajian lebih lanjut adalah agama domestik untuk melengkapi konsep agama publik dan agama privat. Jika agama privat adalah agama yang menyejarah di dalam diri individu, urusan orang perorang, atau urusan privasi seseorang, maka agama publik adalah kesebalikannya, yaitu agama yang berada di ruang publik dengan seluruh hingar bingarnya. Agama

Salah satu kekaguman saya pada ahli ilmu sosial, seperti Karl Marx adalah keberaniannya untuk menyatakan konsep yang dianggapnya benar, misalnya “agama adalah candu masyarakat”. Banyak orang yang mencibir terhadap pernyataan ini sebab dianggapnya bahwa agama tentu tidak mungkin berfungsi sebagai candu, sebab agama itu penuh dengan ajaran kebaikan. Namun orang lupa bahwa bacaan Marx adalah

Setahun yang lalu, di Toko Buku Periplus Bandara Udara Juanda Surabaya, saya membeli buku tulisan Graham E. Fueller dengan topik “World Without Islam”. Seperti biasa bisa membeli buku tetapi membacanya nanti dulu. Sampai Sabtu, 29/03/2020, saya membalik-balik buku di perpustakaan pribadi, akhirnya saya temukan lagi buku itu, dan kemudian saya baca sebentar. Ternyata ada banyak

Adalah Jose Casanova, ilmuwan sosial, yang mengemukakan konsep “Agama Publik” di dalam bukunya “Public Religion in Modern World”. Konsep ini berangkat dari fenomena merebaknya deprivatisasi agama semenjak tahun 1980-an. Konsep “Agama Publik” merupakan antitesis terhadap konsep “ Agama Privat” yang selama itu menjadi diskursus terutama di dunia Barat, bahwa agama adalah urusan privat, sehingga agama

Semula saya tidak ingin menulis tentang masalah ini, sebab sudah sangat banyak penjelasan, penggambaran dan analisis yang dilakukan oleh berbagai ahli sesuai dengan bidangnya. Ada ahli medis, psikholog, sosiolog, pendidikan, ahli IT dan bahkan ahli agama. Semua melihat Covid-19 dari perspektif ilmu pengetahuan yang menjadi basis keahliannya.\n\nSaya tentu tidak ingin menambah deretan analisis tentang Corona

Saya merasa gembira sebab meskipun agak lambat untuk memulai gerakan penyadaran tentang pentingnya moderasi beragama bagi masyarakat Indonesia, khususnya komunitas masjid di Jawa Timur, sekarang sudah mulai ada geregetnya. Setelah meeting pertama, lalu kemarin, 10/11/2020, dilakukan agenda kedua yaitu mendengarkan presentasi dari narasumber internal Pusat Kajian Kebinekaan dan Harmoni Sosial (PK2HS), yaitu Dr. Moch. Choirul

Tidak ada factor tunggal yang mempengaruhi perilaku manusia. Dalam perspektif paradigma social facts, maka diperlukan banyak factor yang terlibat di dalam mempengaruhi perilaku individu atau masyarakat, termasuk juga perilaku radikalisme. Asumsi yang digunakan adalah “ada keteraturan, ada perubahan dan tidak ada factor tunggal yang mempengaruhi perilaku manusia”. Sekurang-kurangnya ada 5 (lima) variables yang mempengaruhi perilaku

1 60 61 62 63