Oleh: Dr. Lukmono Hadi\r Dosen UPN Yogyakarta\r God Bless America, adalah lagu yang amat populer di Amerika Serikat (AS). Ada beberapa penggal liriknya yang saya ingat … \r \r God bless America, My home sweet home / Let us all gratteful for a land so fair / From the mountain, to the prairies / To
Rabu, 03/06/2020, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menggelar acara istighasah dan halal bil halal, yang diikuti oleh Kepala kantor, Dr. Ahmad Zayadi, MPd, Kabag TU, Moh. Amin Mahfudz, seluruh Kabid, Kepala kantor Kemenag Kabupaten/kota dan juga ASN di Kemenag Jawa Timur.\r\nASN di daerah mengikuti acara ini melalui on air, sedangkan para pejabat di
Judul : Madzhab-Madzhab Antropologi\nPenulis : Dr. Nur Syam\nPenerbit : LkiS Yogyakarta\nCetakan : I, 2011\nTebal : xvi + 230 halaman; 12 x 18 cm\nISBN : 978-979-97853-5-0\nPeresensi : Ach. Syaiful A’la*\n\nRiset tentang budaya dalam buku ini bukan hanya sebatas riset yang disajikan begitu saja oleh Nur Syam. Namun dengan berbagai pola dan cara yang dianggapnya penting. Misalkan
Judul Buku : Tarekat Petani; Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal\nPengarang : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si\nTebal : xiv+236 Halaman\nPenerbit : LKiS, Yogyakarta\nCetakan. : I, 2013\nPeresensi : Ach. Syaiful A’la*\n\nPraktik keagamaan seperti terakat sering dipandang sebagai sesuatu yang negatif ketika dihubungkan dengan sosiologis-fenomenologis. Karena tarekat dianggap sebagai pemisah yang membuat pelakunya mengalienasikan diri dari kehidupan masyarakat
Judul : Transisi Pembaruan Dialektika Islam, Politik dan Pendidikan\nPenulis : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si.\nPenerbit : LEPKISS\nCetakan : I, 2008\nTebal : 284 halaman\nISBN : 979-422-210-0\nPeresensi : Ach. Syaiful A’la*\n\nPerubahan merupakan hal yang mutlak terjadi. Karena tidak mungkin manusia hidup dalam keadaan yang begitu-begitu saja. Termasuk peran dan fungsi kiai dalam masyarakat yang diulas dalam
Judul : Islam Pesisir\nPenulis : Dr. Nur Syam\nPenerbit : LKiS,Yogjakarta\nCet. : Pertama, 2005\nTebal : xxvi+324 Halaman\nPeresensi : Ach. Syaiful A’la*\n\nSebelum Islam masuk dan berkembang, Negeri ini (Indonesia) sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh kepercayaan (agama) sebelumnya, Hindu dan Budha. Kemudian dengan hadirnya Islam dengan ragam teori yang diusung oleh beberapa ahli, kontan melahirkan pula
Judul Buku : Tantangan Multikulturalisme di Indonesia\nPenulis : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si\nPenerbit : Kanius, Yogyakarta\nCetakan : I, 2008\nTebal. : 215 Halaman\nPeresensi. : Ach. Syaiful A\’la* 
\n\nMenguntip pendapat KH. Abdurrahman Wahid alias Gusdur “jika kita memiliki pemimpin yang mengerti pentingnya keberagaman (multikulturalisme), mari kita dengan sendirinya akan beruntung. Tetapi jika kita tidak mengutamakan keseragaman, maka
Oleh: Dr. Suko Susilo\r (Direktur Pascasarjana IAI Tribhakti Kediri)\r \r \r Masyarakat Jawa pada umumnya, cenderung memiliki kesadaran tinggi terhadap keberadaan orang lain. Kita sungguh paham bahwa dalam hidup, orang tidaklah sendiri. Manusia terus bergerak ke dalam dan ke luar dari ruang pribadi masing-masing ke ruang sosial. Akan sangat bijaksana jika pergerakan itu dapat dilalui
Kementerian Agama sudah memastikan bahwa tahun 2020 M atau 1441 H tidak ada pengiriman haji ke Tanah Suci, Saudi Arabia. Keputusan ini dikeluarkan sebab pemerintah Arab Saudi hingga kemarin belum memberikan tanda-tanda bahwa haji akan dihelat tahun ini. padahal tanggal 26 Juni 2020 adalah pemberangkatan kolter awal untuk jamaah haji Indonesia. meskipun pemerintah Arab saudi
Menteri agama, Fahrul Razi telah menyatakan bahwa tahun 2020 M/1441 H, pemerintah Indonesia tidak akan mengirimkan jamaah haji Indonesia. tahun ini menjadi tahun yang berat sebab mestinya Indonesia akan mengirimkan jamaah haji sebanyak 221.000 orang dan akhirnya semuanya gagal berangkat.\r\nCalon jamaah haji Indonesia tersebut terdiri dari sebanyak 203.320 orang jamaah haji regular dan sisanya 17.608
Adakah masih ada keinginan untuk menyelenggarakan program pembelajaran sebagaimana sebelum masa pandemi covid-19? Tentu jawabannya ada. Di beberapa lembaga pendidikan ternyata ada keinginan untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka sebagaimana di masa lalu.\r\nMungkin memang ada tuntutan untuk memulai belajar lagi di sekolah atau memang sudah ada kesiapan untuk itu. Tetapi sebagian besar orang tua atau wali
Covid-19 juga memaksa anak-anak untuk belajar di rumah, learning at home. Covid-19 benar-benar digdaya, sebab semua harus diatur sesuai dengan standart yang diperbolehkan. Di antaranya adalah standart kesehatan yang sedemikian ketat. \r\nCovid-19 adalah penyakit kerumunan atau crowd desease. Makanya, di mana terdapat tempat kerumunan maka disitu persebaran covid-19 menjadi melonjak. \r\nPemerintah sudah menerapkan PSBB. Namun
