KANWIL KEMENAG JATIM GELAR HALAL BIL HALAL
Rabu, 03/06/2020, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menggelar acara istighasah dan halal bil halal, yang diikuti oleh Kepala kantor, Dr. Ahmad Zayadi, MPd, Kabag TU, Moh. Amin Mahfudz, seluruh Kabid, Kepala kantor Kemenag Kabupaten/kota dan juga ASN di Kemenag Jawa Timur.\r\nASN di daerah mengikuti acara ini melalui on air, sedangkan para pejabat di Kanwil dan Kakankemenag se jawa timur hadir di mushalla Kanwil Kemenag Prof. Jawa Timur. Hadir sebagai pembicara tunggal adalah Prof. Dr. H. Nur Syam, Msi, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya.\r\n Di dalam sambutannya, Dr. Ahmad Zayadi menyatakan bahwa meskipun kita sedang menghadapi pandemi covid-19 tetapi kita tetap harus bekerja keras, dan harus menyelesaikan seluruh program dan kegiatan yang menjadi pekerjaan kita pada tahun 2020. Kita harus tetap bekerja dengan memperhatikan protokol kesehatan, misalnya sering cuci tangan, menjaga jarak fisik dan sosial, dan berpola hidup sehat. \r\nSedangkan di dalam ceramahnya, Prof. Nur Syam memberikan pencerahan tentang pentingnya bersyukur kepada Allah swt karena karunia dan perlindungannya kepada kita semua. Ada beberapa hal, yaitu: pertama, bersyukur karena kita semua bisa menjadi pemeluk agama Islam, menjadi hamba Allah yang patuh dan tunduk kepada-Nya dan juga menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. Ada banyak orang yang ilmu agama Islamnya luar biasa, tetapi tetap tidak memperoleh hidayah Allah untuk menjadi Islam, misalnya Annemarie Schimmel, yang ahli ilmu tasawuf, yang hafal al Qur’an 30 juz, yang fasih berbahasa Arab dan juga hafal beberapa kitab tafsir, namun Allah tidak memberikan petunjuk untuk berislam. Dia berhenti pada ilmu dan tidak pada amaliyah. Tetapi juga ada yang memperoleh hidayah, seperti Maurits Buchaile, Leopold von Weiss, dan lain-lain. \r\nBahkan pamanda Nabi Muhammad saw, Abi Thalib, juga tidak mendapatkan peluang untuk memasuki Islam sampai beliau wafat, meskipun dibimbing langsung oleh Nabi. Kesedihan Nabi yang medalam sampai akhirnya Allah menurunkan ayat Al Qur’an dalam surat Al Qasshash, innaka la tahdi man ahbabta walakinnallaha yahdi man yasya’. Jadi, menjadikan seseorang Islam atau tidak merupakan hak prerogatif Allah swt. Nabi Muhammad saw pun tidak memiliki hak tersebut. \r\nMarilah kita bersyukur atas kenikmatan ini dan kemudian jangan melupakan jasa-jasa orang yang menjadi wasilah kita menjadi Islam. Bapak, ibu, kakek, nenek, buyut dan orang-orang yang menjadi washilah kita untuk berislam ini. \r\nKedua, kita harus tetap bekerja keras sebagai ASN kemenag dan juga bersyukur karena bisa menjadi bagian dari 234.000 ASN di bawah Kemenag. Oleh karena itu kita harus bisa bekerja untuk memperoleh kebahagiaan. Bahagia di rumah dan juga bahagia di kantor. Sambil kelakar dinyatakan: “baiti jannati, wa kantori jannatiâ€. Untuk meraih kebahagiaan maka dipersyaratkan tiga hal yaitu bekerja dengan purpose, dengan hope dan memiliki friendship atau sahabat dan kawan. Tautkan tujuan dan harapan bekerja kepada Allah, lillahi ta’ala, sebagai ujung akhir dari tujuan dan harapan bekerja. Jangan hanya yang jangka pendek atau jangka menengah. Jangka pendek misalnya bertujuan untuk membiayai keluarga, dengan harapan memperoleh gaji, lalu yang jangka menengah menjadi pejabat, tetapi gantungkan pada yang paling tinggi adalah kepada Allah semata. \r\nJika kita bisa melakukannya, maka kita akan heppy atau bahagia di tempat kerja dan akhirnya akan menghasilkan produk pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat kita. (NS).
You may also like




