Kebersamaan dalam Keberagaman
Judul Buku : Tantangan Multikulturalisme di Indonesia\nPenulis : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si\nPenerbit : Kanius, Yogyakarta\nCetakan : I, 2008\nTebal. : 215 Halaman\nPeresensi. : Ach. Syaiful A\’la* 
\n\nMenguntip pendapat KH. Abdurrahman Wahid alias Gusdur “jika kita memiliki pemimpin yang mengerti pentingnya keberagaman (multikulturalisme), mari kita dengan sendirinya akan beruntung. Tetapi jika kita tidak mengutamakan keseragaman, maka mau tidak mau kita lalu telah menyimpang dari semboyan; Bhinneka Tunggal Ika.\nPernyataan Gus Dur diatas tepat karena pada saat ini bangsa Indonesia mengalami disintegrasi yang semakin tajam dan intensitasnya sangat kuat berupa sentiment kelompok yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), yang kalau tidak disikapi secara serius tidak tidak menutup kemungkinan dalam tubuh bangsa ini akan terjadi perpecahan dan perang saudara akibat dari saling tidak memahami satu sama lain arti dan makna penting dari yang namanya perbedaan yang ada dalam tubuh bangsa Indonesia sendiri.\nBuku tantangan multikulturalisme di Indonesia, dari radikalisme menuju kebangsaan karya Prof.Dr. Nur Syam ini mengula dinamika gerakan keagamaan pasca reformasi yang menjadi batu sandungan multikulturalise dan cita-cita faham ahlussunnah waljamaah. Nur Syam disini melihat adanya gerakan-gerakan keagamaan yang cenderung radikal seperti momentum yang sangat kuat untuk berkembang yang kalau kita tilik dalam perjalanannya mereka akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).\nKehadiran buku ini juga merupakan salah satu karya penting yang bisa dijadikan rujukan bagi seluruh elemen masyarakat yang ingin menelaah secara lebih mendalam tentang diskursus tentang multikulturalisme yang saat ini sedang ramai diperbincangkan oleh banyak kalangan, baik akademisi, budayawan dan aktivis LSM yang sedang menggeluti masalah-masalah multikulturalisme, termasuk para agamawan yang perhatian pada bangsa ketika melihat gerakan-gerakan radikalisme agama.\nGerakan teo-demokrasi diatas tentunya bagi kita yang menicintai keberagaman (multikulturalisme) bukanlah isapan jempol. Gerakan tersebut sekarang malah tumbuh, subur dan berkembang terutama dikalangan generasi muda, seperti pelajar dan mahasiswa. Karena gerakan mereka selalu memberikan tawaran berbagai macam problem solving yang dianggap relevan ditengah hiruk pikuknya permasalahankehidupan yang dihadapi bangsa yang kompleks saat ini lebih-lebih persoalan ekonomi dan politik, padahal terkadang kalau kita mau jujur dan dengan jenih melihat, halite hanyalah kamuflase saja.\nDisatu sisi islam didalam bentuk pemikiran dan praksisnya juga telah muncul gerakan-gerakan islam fundamental yang tujuannya (katanya) untuk menjaga genuitas islam. Secara transplanted muncul ikhwanul almuslimin yang semula tumbuh dan berkembang di Mesir, Hizut Tahrir yang Tumbuh di Libanon dan gerakan-gerakan fundamental lain yang tumbuh yang berkembang di Indonesia seperti Front Pembela Islam (FPI), lascar ahlussunnah waljama’ah dan lain sebagainya.\nBeberapa kelompok islam diatas meskipun memiliki perbedaan dalam cara pandang dan metodologi gerakan, tetapi ada kesamaan dalam visi dan misinya, yaitu: sama-sama berkeinginan untuk mendirikan Negara khilafah (Negara islam), memusuhi barat karena sudah dianggap sebagai setan dan juga memusuhi islam liberal, hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi tercapainya akhlussunnah wal jama’ah (aswaja) dan multikulturalisme di Indonesia.\nDalam buku ini, Nur Syam mampu memadukan kegelisahan penganut paham aswaja dan multikulturalisme, karena dianggapnya bahwa pemikiran aswaja terus seirama dengan dinamika zaman dan tututan kebutuhan masyarakat ditengah kehidupan yag makin globalistis dan kapitalistik. Aswaja harus menjadi jalan tengah dan mampu mengakomodasi kesenjangan antar elemen masyarakat walaupun konsep aswaja sendiri tidak luput dari tantangan serupa, baik gerakan ekslusif maupun gerakan inklusif. Tentunya aswaja yang menjadi doktrin terbuka lebih dekat pada yang inklusif atau pribumisasi islam, yaitu corak yang islami (value) yang memiliki kedekatan bahkan akomodasi pada akomodasi budaya lokal. Almuhafadzatu ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadidil al-ashlah.\nBgitu juga dengan multikulturalisme, perbedaan kebudayaan adalah bagian dari cirri khas kehidupan bermasyarakat yang majemuk seperti Indonesia yang merupakan keniscayaan yang harus dihargai, karena itu merupakan kebudayaan asli Indonesia yang harus di pertahankan dan dilestarikan.\nKesalehan teologis adalah ciri khas masing-masing agama yang tidak bisa dikompromikan, namun kesalehan sosial adalah ruang humanitas yang bisa ditoleransikan dan sekaligus dikerjasamakan.\nAkhirnya (tentunya harapan kita semua), Indonesia seperti mozaik akan semakin kaya dengan keberagaman budaya jika multikulturalisme dijadikan landasan terhadap segala bentuk keberagaman dan perbedaan, baik etnis, suku, ras, agama, maupun simbol-simbol perbedaan lainnya. Ambillah falsafah “soto’’ karena yang demikian itu adalah symbol bangsa Indonesia.\n\n*Peresensi adalah Rektor Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep.\n
You may also like
Makna “Berkelanjutan†yang Sesungguhnya
Mendampingi Anak Hyperaktif, Dua Hal ini yang Perlu Diketahui
Jaman Palsu

