Kolaborasi Islam Sinkretik dan Akulturatif
Judul : Islam Pesisir\nPenulis : Dr. Nur Syam\nPenerbit : LKiS,Yogjakarta\nCet. : Pertama, 2005\nTebal : xxvi+324 Halaman\nPeresensi : Ach. Syaiful A’la*\n\nSebelum Islam masuk dan berkembang, Negeri ini (Indonesia) sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh kepercayaan (agama) sebelumnya, Hindu dan Budha. Kemudian dengan hadirnya Islam dengan ragam teori yang diusung oleh beberapa ahli, kontan melahirkan pula interpretasi-interpretasi baru yang mewarnainya. \nIslam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahiyah dan transenden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Islam merupakan fenomena peradaban, kultural dan realitas sosial dalam kehidupan manusia. Dialektika Islam dengan realitas kehidupan sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini sepanjang sejarahnya. Sejak awal kelahirannya, Islam tumbuh dan berkembang dalam suatu kondisi yang tidak alpa budaya. Realitas kehidupan ini –diakui atau tidak—memiliki peran yang cukup signifikan dalam mengantarkan Islam menuju perkembangannya yang aktual, sehingga sampai pada suatu peradaban yang mewakili dan diakui okeh masyarakat dunia, kebudayaan Islam khas negeri ini.\nSejauh ini ada dua teori besar yang terbangun dalam memahami Islam khas Indonesia yang telah masuk hingga sejauh ini. Ialah islam sinkretis dan akulturatif. Kedua teori tersebut yang oleh Nur Syam dalam bukunya, Islam Pesisir, dianulir dengan teori Islam Kolaboratif. Dengan Asumsi bahwa tidak semua praktik keberagamaan masyarakat kita bernuansa sinkritikataupun akulturatif an-sich.\nPercampuran antara Islam dengan unsur-unsur lokal Jawa melalui cara yang tidak genuine dan -sedikit agak- dipaksakan oleh banyak ahli diistilahkan dengan sinkretisme. Sebutan “sinkretisme†dalam banyak perspektif cenderung mengarah pada makna cibiran, yakniIslam hadir dalam perwujudan yang tidak lagi pure, melainkan sudah tercampur-aduk dengan unsur-unsur lain diluarnya. Sebagaimana proyeksi islam dalam masyarakat Jawa, dalam praktik keagamaannya yang sudah bergeser –jauh- dari sifat asal tempat kelahiran agama ini, Mekkah. Dengan demikian, dalam pandangan sinkretisme kejawaan sebagai unsur eksternal yang kehadirannya harus –terus- diwaspadai.\nSementara akulturasi dalam teropong ilmu sosiologi dipahamisebagai pengambil-alihan unsur-unsur kebudayaan lain ke dalam kebudayaan yang telah lebih dulu dimiliki. Akulturasi terjadi karena adanya keterbukaan suatu masyarakat yang dalam realitasnya masih begitu jelas terbaca baca bentuk bangunan masjid Kudus yang merupakan hasil akulturasi antar dua kebudayaan keyakinan, Islam dan Hindu, selain itu pagelaran pewayangan di daerah Jawa dan sekitarnya yang mengangkat cerita Ramayana dan Mahabarata yang merupakan wujud akulturasi kebudayaan seelum masuknya islam, Hindu-Budha dalam bidang kesenian.\nAktualisasi Islam dalam lintasan sejarah telah menjadikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek lokalitas, mulai dari budaya Arab, Persi, Turki, India sampai Melayu. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri, tapi sekaligus mencerminkan nilai-nilai ketauhidan sebagai suatu unity, kesatuan yang mengikat secara kokoh satu sama lain.Relasi antara Islam sebagai agama dengan adat dan budaya lokal sangat jelas dalam kajian antropologi agama. Dalam perspektif ini diyakini, bahwa agama merupakan penjelmaan dari sistem budaya. Berdasarkan teori ini, Islam sebagai agama samawi dianggap merupakan penjelmaan dari sistem budaya suatu masyarakat Muslim. \nPada konteks sekarang, pengkajian hukum dengan pendekatan sosiologis dan antrologis sudah dikembangkan oleh para ahli hukum Islam yang peduli terhadap nasib syari’ah. Dalam pandangan mereka, jika syari’ah tidak didekati secara sosio-historis, maka yang terjadi adalah pembakuan terhadap norma syariah yang sejatinya bersifat dinamis dan mengakomodasi perubahan masyarakat.Islam sebagai agama, kebudayaan dan peradaban besar dunia sudah sejak awal masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan terus berkembang hingga kini. Ia telah memberi sumbangsih terhadap keanekaragaman kebudayaan nusantara. \nIslam tidak saja hadir dalam great tradition,tradisi agung, iabahkan memperkaya pluralitas dengan islamisasi kebudayaandan pribumisasi Islam yang pada gilirannya banyak melahirkan tradisi-tradisi kecil Islam. Berbagai warna Islam (dari Aceh, Melayu, Jawa, Sunda, Sasak, Bugis, dan lainnya) riuh rendah memberi corak tertentu keragaman, yang akibatnya dapat berwajah ambigu. Ambiguitas atau juga disebut ambivalensi adalah fungsi agama yang sudah diterima secara umum dari sudut pandang sosiologis. Untuk itu Islam kolaboratif yang dikemukakan dalam buku ini menampilkan Islam yang lues, terbuka dan dapat diterima oleh semua kalangan, tanpa terkecuali. Allau’alam!\n\n*Peresensi adalah Rektor Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep.\n
You may also like




