ANAK-ANAK MASIH SEKOLAH DI RUMAH
Covid-19 juga memaksa anak-anak untuk belajar di rumah, learning at home. Covid-19 benar-benar digdaya, sebab semua harus diatur sesuai dengan standart yang diperbolehkan. Di antaranya adalah standart kesehatan yang sedemikian ketat. \r\nCovid-19 adalah penyakit kerumunan atau crowd desease. Makanya, di mana terdapat tempat kerumunan maka disitu persebaran covid-19 menjadi melonjak. \r\nPemerintah sudah menerapkan PSBB. Namun demikian, ternyata masih banyak tempat yang tidak mengindahkan protokol kesehatan untuk beraktivitas. Misalnya pasar, perusahaan dan lain-lain.\r\nBanyak warga pasar, baik penjual atau pembeli yang kemudian terpapar atau positif coid-19. Di perusahaan, misalnya perusahaan Sampurna adalah penyebar covid-19 yang tertinggi, kemudian juga pasar di Bojonegoro dan lainnya. Jadi, di mana ada kerumunan maka di situ penyakit ini akan menular.\r\nPemerintah sudah menrapkan kebijakan new normal. Artinya beberapa fasilitas publik sudah bisa dibuka. Mall, pasar, perusahaan dan mungkin lembaga pendidikan juga bisa dibuka. Terutama di daerah yang sudah berwarna hijau. Namun daerah dengan status warna merah atau kuning belum diperkenankan.\r\nBegitu kebijakan new normal diberlakukan, maka serentak banyak yang menolak jika lembaga pendidikan juga ikut dibuka. PGRI, dan sejumlah elemen lainnya menolak untuk memasukkan kembali anak-anaknya ke sekolah. Ada kerentanan jika anak diperbolehkan masuk ke kelas, sementara itu anak-anak belum tahu apa dan bagaimana bahaya berkerumun.\r\nTuntutan masyarakat yang sedemikian kuat akhirnya menyurutkan niat pemerintah untuk membuka kembali sekolah. Sebagaiaman diketahui bahwa Korea Selatan, yang semula membuka lembaga pendidikannya, akhirnya juga harus menyerah mengembalikan program pembelajaran ke rumah.\r\nAkhirnya, pemerintah menetapkan sekolah kembali ditutup dan pembelajaran daring diberlakukan. Jadi, anak-anak akan tetap di rumah sampai akhir tahun 2020. Cuma yang repot adalah orang tua, sebab harus menemani anak-anaknya yang belajar terutama yang pendidikan Taman Kanak-kanak atau Raudlatul Athfal, juga di Pendidikan Anak Usia Dini, dan juga yang masih Sekolah Dasar.\r\nAkan tetapi ini adalah pilihan yang harus dilakukan. Dan inilah pilihan yang paling aman di antara sekian banyak pilihan lainnya.(NS).\r\n
You may also like




