Transformasi Politik dan Pendidikan dalam Islam
Judul : Transisi Pembaruan Dialektika Islam, Politik dan Pendidikan\nPenulis : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si.\nPenerbit : LEPKISS\nCetakan : I, 2008\nTebal : 284 halaman\nISBN : 979-422-210-0\nPeresensi : Ach. Syaiful A’la*\n\nPerubahan merupakan hal yang mutlak terjadi. Karena tidak mungkin manusia hidup dalam keadaan yang begitu-begitu saja. Termasuk peran dan fungsi kiai dalam masyarakat yang diulas dalam buku ini akan membuktikan bahwa kiai tidak serta merta hanya melayani masyarakat dalam bidang hukum agama saja. Namun kiai secara lambat laun juga masuk dalam ranah politik yang menjadi kepentingan para elit politik karena pengaruhnya yang cukup kuat dalam masyarakat.\nSecara umum bisa dinyatakan bahwa kiai masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Pengaruh kiai tampaknya tidak hanya kepada masyarakat awam, tetapi juga merambah pada para pejabat atau tokoh partai politik (Parpol). Dalam kenyataan empirik bahwa kiai banyak diperebutkan oleh orang yang akan menduduki jabatan politik tertentu. Hingar-bingar dan tarik menarik kiai dalam Pemilu, Pilgub, dan Pilbub menandakan bahwa tarikan kepentingan politik kiai masih besar (Hal. 48-49).\nDengan demikian, di tengah nuansa keinginan untuk memposisikan kiai hanya dalam urusan keagamaan, kiranya ada suatu tantangan bahwa kiai akan selalu terpanggil untuk melakukan aksinya dalam membela kebenaran yang diyakini sebagai suatu amalan ibadah. Jadi kiranya dalam waktu panjang kiai masih akan memerankan diri dalam percaturan kehidupan sosial, termasuk kehidupan politik. Hal ini secara tidak langsung memberikan pernyataan bahwa diferensiasi struktur dan spesialisasi fungsi akan berlaku rigid bagi strategi kiai.\nMenurut logika Marxian, bahwa yang abadi adalah perubahan. Maka dunia kiai juga terkena hukum perubahan. Jika di masa lalu kiai menjadi referensi segala urusan sosial-kemasyarakatan, maka seirama dengan perubahan sosial, maka kiai akan hanya menempati posisi tertentu saja. Sedangkan fungsi lain akan digantikan oleh institusi lainnya. Inilah yang disebut sebagai diferensiasi struktur spesialisasi (Hal. 50).\nDi sini tanggung jawab secara nyata telah berubah. Jika dulu kiai hanya bergelut di lingkungan masyarakat lokal, melalui dunia politik kiai melakoni berbagai hal yang sifatnya religiusitas-politik. Tentunya jika kiai sudah memasuki dunia politik, perubahan dalam peran dan fungsinya akan sangat kentara. Kiai tidak akan lagi mementingkan urusan agama dalam masyarakat, tetapi lebih mengarah pada dunia yang sedikit gelap (politik). Sehingga tak mengherankan jika persoalan yang melanda Parpol berlindung di balik nama agama demi mencari perlindungan. Hal demikian yang disayangkan dari disfungsi kiai dalam lingkungan masyarakat.\nDi dalam sejarahnya, pesantren telah memiliki peran yang sangat besar bagi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Pesantren telah menjadi center of excellence bagi bagi perkembangan SDM yang memiliki basis moralitas di dalam kehidupan sosial. Tidak terhitung jumlah alumni pesantren yang berhasil menjadi pemimpin baik lokal maupun nasional (Hal. 196).\nPada dasarnya pesantren bukanlah lembaga pendidikan konservatif sebagaimana yang telah diasumsikan oleh banyak orang. Namun, pesantren selalu mengikuti perubahan zaman sebagaimana ajran Islam yang fleksibel dengan keberadaan masyarakat yang menjadi objeknya. Terbukti dengan transformasi yang dilakukannya, pesantren mampu menelurkan alumni yang andal di berbagai bidang. Karena tidak mungkin tanpa transformasi yang memadai akan mampu menelurkan kader-kader pemimpin yang kompetitif di tingkat lokal dan nasional.\nSelain sebagai pusat pendidikan, pesantren juga menjadi pusat kebudayaan. Sebagai pusat pendidikan, pesantren telah menghasilkan alumni yang memiliki kemampuan di bidang ilmu agama dengan kualifikasi beragam. Selain itu, pesantren juga menjadi pusat pembudayaan ajaran agama dan perilaku sosial yang berbasis pada pemikiran keagamaan ahlu sunnah wal jamaah (Hal. 197).\nDari sini kita tahu bahwa selain pesantren sebagai pusat pendidikan Islam di Indonesia, pesantren juga menjdai pusat kebudayaan Islam masyarakat Indonesia. Pesantren hanya terdapat di Indonesia, dan jelas kebudayaan yang terbangun merupakan asimilasi antara kebudayaan Islam di Arab dan Islam di Indonesia. Namun secara nasionalisme, kebudayaan yang terbangun tentu berangkat dari nilai-nilai budaya yang memang berada di Indonesia. Jadi, Islam masuk bukan dengan cara secara langsung mengubah keberadaan budaya setempat, namun melalu pendekatan dan penyesuaian.\nSecara general, buku ini mengulas tentang peran kiai dalam dunia politik dengan kewibawaannya yang berangkat dari dunia keislaman dan pemanfaatan pesantren di bawah kekuasaan kiai sebagi pusat pendidikan Islam. Tak jauh dari itu, kaitan antara organisasi tarekat sebagai sebuah kelompok eksklusif tarekat dan politik yang bahasannya mengarah pada ranah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Hingga bagian pra-akhir alam buku ini menelaah lebih dalam mengenai pesantren, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia yang dikaitkan dengan reformasi dan perubahan sosial, paradigma baru pendidikan dan peran pesantren.\n\n* Peresensi adalah Rektor Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep.\n
You may also like




