Saturday, July 11 2026

Category: Daras Tafsir

M. Sa’ad Alfanny    Dialah Allah, Maha pemberi segala bentuk kenikmatan. Di era percepatan digital saat ini, media sosial menjadi platform utama bagi banyak orang untuk berbagi pengalaman, pencapaian, dan kebahagiaan. Namun seiring dengan transformasi tersebut, media sosial justru sering kali digunakan sebagai ekspresi rasa syukur di media sosial lebih condong pada pencitraan daripada keikhlasan.

Ach Badri Amien    Tulisan ini diambil dari kitab TalbÄ­s al-IblÄ­s salah satu kitab karya al-Imam Ibnu al-Jauzi yang lahir di Bagdad pada tahun 510 H dan wafat pada tahun 597 H. Beliau berafiliasi kepada Ulama besar yaitu Imam Ahmad bin Hambal. Ibnu al-Jauzi dikenal sebagai Ulama yang produktif dalam menulis. Diperkirakan, ia menulis lebih

M. Sa’ad Alfanny Mahasiswa Studi Islam UIN Sunan Ampel, Surabaya    Dalam istilahnya, al-Qur\’an selain berfungsi sebagai penyampai pesan ketuhanan namun juga berperan menjadi gambaran terhadap peristiwa terdahulu sekaligus karakter manusia, termasuk kaum oportunis. Surah yang dapat dikaji atas konteks oportunistik salah satunya adalah QS. Al-Quraisy yang berpokok menjelaskan ciri-ciri kebiasaan kaum Quraisy. Surah tersebut

Pendahuluan    Sebagaimana maklum diketahui bahwa salah satu faktor yang melatarbelakangi timbulnya perbedaan penafsiran adalah perbedaan pendekatan atau metode yang digunakan oleh para mufasir dalam memaknai ayat-ayat Al-Qur’an. Penafsiran yang bertitik pijak pada pendekatan kebahasaan misalnya, akan memunculkan pemaknaan yang sedikit banyak berbeda dengan penafsiran berbasis riwayat-riwayat (bi al-atsar). Demikian halnya dengan pendekatan saintifik (tafsir

Pendahuluan    Kisah yang terkandung dalam surah al-Baqarah ini tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar dari kita. Kisahnya sering kita dengar dalam berbagai kesempatan; pelajaran sekolah, pengajian, khotbah jumat, kenduri, selamatan, resepsi, celetukan ringan di warung kopi, dan lain sebagainya. Tetapi, pernahkah kita merenungkan ibrah berharga yang terkandung di balik kisah itu? Adakah nilai

Pendahuluan    Kisah yang terkandung dalam surah al-Baqarah ini tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar dari kita. Kisahnya sering kita dengar dalam berbagai kesempatan; pelajaran sekolah, pengajian, khotbah jumat, kenduri, selamatan, resepsi, celetukan ringan di warung kopi, dan lain sebagainya. Tetapi, pernahkah kita merenungkan ibrah berharga yang terkandung di balik kisah itu? Adakah nilai

Pendahuluan    Surah al-Anfal (Harta Rampasan Perang) merupakan surah kedelapan ditinjau dari urutan surah-surah dalam Al-Qur’an. Namanya telah dikenal sejak zaman Nabi SAW. Di samping dari uraiannya tentang hukum rampasan perang yang dikandungnya, nama itu sendiri diambil dari uraian ayat-ayatnya yang pertama, yang berbicara tentang al-Anfal. Selain al-Anfal, surah ini juga kerap disebut sebagai surah

Pendahuluan    Sebagai sahabat bergelar Tarjuman al-Qur’an, nama Ibn ‘Abbas dalam diskursus Ilmu Tafsir amat diperhitungkan. Penafsiran-penafsirannya dijadikan sebagai sumber primer oleh para ulama sejak dulu hingga sekarang. Hal ini bukan hanya dilatarbelakangi oleh kecerdasan dan kecakapannya dalam mengungkap makna tersirat maupun tersurat di balik ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ditopang pula oleh doa Nabi SAW yang

Pendahuluan    Tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakshsyari dikenal secara luas di kalangan umat Islam, khususnya para pengkaji tafsir Al-Qur’an di berbagai belahan dunia. Bahkan belakangan saat diskursus keislaman menjadi trend kajian dari kalangan “luar”, gaung Tafsir itu menggemakan suara lantang di telinga para orientalis non-muslim. Memang, pernyataan ini terkesan berlebihan, tapi demikianlah faktanya. Kemasyhurannya bukan hanya

Pendahuluan    Dalam surah al-Nisa’ [4]: 1, terdapat dua kata yang dibaca secara beragam atau bervariasi, yakni tasa’aluna dan al-arham. Tetapi dalam pembahasan ini, kita akan fokus pada varian qira’at kata yang kedua, al-arham. Hal ini dikarenakan—sependek telaah yang penulis lakukan—varian qira’at kata inilah yang menuai kontroversi yang berkepanjangan.    Mayoritas Qurra’ membaca kata tersebut

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Zubdat al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk as-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, al-Fatihah.    Pendahuluan    Sebagaimana yang telah kita bahas pada artikel-artikel sebelumnya, Ilmu Qira’at merupakan ilmu yang membahas tentang tata cara membaca

Status Surah    Para ulama bersepakat bahwa surah al-Ma’idah berstatus madaniyyah. Di samping karena topik bahasannya seputar hukum-hukum syariat, juga karena ditemukan penjelasan dari generasi muslim awal yang menyatakan demikian seperti Ibn ‘Abbas, Qatadah dan adh-Dhahhak. Beberapa mufasir bahkan mengutip pernyataan ‘Abdullah b. ‘Amr dan Umm al-Mu’minin ‘Aisyah yang menegaskan bahwa surah ini termasuk surah

1 2 3 4 7