Di dunia ini ada banyak kalender yang berbasis astronomi, baik yang dihitung berdasarkan peredaran matahari (solar) atau bulan (lunar). Kalender tersebut dibuat berdasarkan perhitungan yang sangat cermat untuk menggambarkan mengenai perputaran hari, bulan, tahun dan sekaligus juga memberikan penjelasan mengenai kapan waktu-waktu khusus untuk menandai peristiwa yang sangat penting di dalam kehidupan. Misalnya upacara ritual,
Siapa yang menduga bahwa Uni Soviet negara adidaya yang kekuatannya begitu “anggegirisi†dan hanya Amerika Serikat yang bisa mengimbangi kehebatannya, akhirnya tumbang juga hanya dengan dua kata sakti, yaitu glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi). Kata ini seakan menjadi mantram sakti yang bisa memporakporandakan kehebatan dan kekuatan USSR, dan akhirnya terpecah belah menjadi negara-negara kecil, yang
Kebanyakan orang menganggap bahwa memperingati kemerdekaan itu adalah mengenang kembali masa lalu dengan hiruk pikuk dan romantisme bagaimana merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang sudah mencengkeram Indonesia dalam ratusan tahun. Konon katanya 350 tahun atau tiga setengah abad. Romantisme sejarah ini yang terus menerus diulang-ulang setiap tahun dengan berbagai acara, seperti memakai baju adat, pagelaran
Sebagai bangsa besar, tentu saja Indonesia memiliki sejumlah tantangan khususnya relasi antara agama dan masyarakat yang multikultural. Secara teoretik dinyatakan bahwa tidak ada ruang kosong budaya dan ketika suatu agama masuk ke dalam masyarakat itu tentu sudah terdapat sejumlah tradisi dan bahkan budaya yang menjadi pedoman hidup bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, ada banyak hal
Oleh: Husniyatus Salamah Zainiyati (Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam UIN Sunan Ampel Surabaya) Pandemi Covid-19 telah merubah tatanan kehidupan manusia dan telah menimpa hampir seluruh masyarakat di dunia, termasuk Indonesia. Berdampak pula pada sektor ekonomi, sosial, budaya, gaya hidup, tak terkecuali kegiatan belajar mengajar (KBM) dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi yang asalnya pembelajaran dengan
Covid-19 yang menjadi pandemi di dunia selalu dilihat dari perspektif negatif, terutama dalam relasinya dengan perekonomian, sebab bisa menimbulkan resesi dunia. Semua negara harus merevisi pertumbuhan ekonominya dengan sangat tajam. Indonesia, misalnya harus merevisi rencana pertumbuhan ekonominya dari 5,1 persen menjadi 4,1 persen saja, bahkan secara empiris bisa saja tidak tercapai angka tersebut. Bisa
Tidak ada yang meragukan keberadaan program pendidikan yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah dan NU, yang memang telaah sangat lama berkhidmat di dalam pencerdasan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat pokok pikiran yang terdapat di dalam Pembukaan UUD 1945. Bukankah salah satu amanat Pembukaan UUD 1945, bahwa kemerdekaan diharuskan menjadi wahana dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan hal ini
Mungkin tidak terbayangkan sepanjang hidup saya bahwa ibadah haji nyaris ditiadakan. Tahun 2020 M atau 1441 H menjadi momentum yang tidak akan pernah terlupakan bagi umat Islam, sebab penyelenggaraan haji dalam jumlah jutaan orang itu ditiadakan. Otoritas pemerintah Saudi Arabia hanya memperkenankan jumlah jamaah haji sebanyak 10.000 orang saja, dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.
Oleh: Prof. Dr. Nur Syam., MSi (Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya) Andaikan suasana sosial kemasyarakatan tidak seperti sekarang, yaitu era pandemi Covid-19, yang menyita banyak perhatian baik pemerintah, organisasi sosial, media maupun masyarakat, maka perbincangan tentang Rencana Undang-Undang Haluan Ideologi Negara (RUU-HIP) dan kemudian beralih ke Rencana Undang-Undang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
Oleh: Prof. Nur Syam., M.Si Ada sebuah pertanyaan dasar, bagaimanakah seharusnya kelompok Islam Wasathiyah harus berpolitik, dan bagaimana corak politik yang seharusnya dilakukan sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Pertanyaan ini penting sebab menjadi Wasathiyah tidak boleh identik dengan tindakan a-politik, atau tindakan politik yang tidak berbasis pada etika politik agama. Politik
Oleh: Prof. Nur Syam., M.Si (Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya) Sebagai konsekuensi negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, maka Indonesia tentu harus menjadi contoh bagaimana mempertahankan Islam yang bisa berdampingan dengan umat lain atau penganut agama lain. Tanggung jawab inilah yang kiranya harus menjadi kesadaran bersama umat Islam di Indonesia,
Prof. Dr. Nur Syam, Msi (Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya) Di antara misi utama gerakan Islam wasathiyah adalah moderasi beragama. Tentu terdapat sebuah pertanyaan mendasar, “mengapa gerakan moderasi beragama harus ditumbuhkembangkan di dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara?” Pertanyaan ini saya kira merupakan pertanyaan ontologis untuk mengeksistensikan gerakan Islam wasathiyah di dalam kerangka
