Faktor Pendorong Takwa (2)
Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak kita membaca surah al-Fatihah kepada penulis kitab Taisir al-Khalaq, al-Syekh Hafidz Hasan al-Mas‘udi. Untuk beliau, al-Fatihah.
Urgensi Mengingat Kematian
Pada kesempatan kali ini masih dalam pembahasan tentang beberapa faktor pendorong takwa al-Syekh Hafidz menjelaskan:
Dan di antaranya (faktor pendorong takwa) adalah hendaknya ia selalu mengingat kematian. Karena sungguh, orang yang mengetahui-menyadari bahwa ia akan meninggal dunia, dan bahwa di hadapannya hanya ada (dua pilihan) surga atau neraka; niscaya hal itu akan mendorongnya untuk (bersegera melakukan) amal-amal saleh, sesuai dengan kemampuan/kesanggupannya.
Pada konteks ini, Imam Nawawi di dalam kitabnya, Riyadh al-Shalihin menyebutkan beberapa ayat yang secara eksplisit menjelaskan betapa pentingnya mengingat kematian. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahala kamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Surah Ali ‘Imran [3]: 185)
Dan tidak satu jiwa (pun) yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak satu jiwa (pun) dapat mengetahui (kapan dan) di bumi mana dia akan mati. (Surah Luqman [31]: 34)
Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkan barang sesaat pun dan tidak (pula) memajukan(nya). (Surah al-A‘raf [7]: 35)
Bahwa, “Tidak ada satu pun yang mengetahui, di belahan bumi manakah kelak ia akan dibaringkan? Apakah di lautan, daratan, dataran, atau (justru) di pegunungan?â€, demikian kurang lebih komentar Qatadah, seorang ulama Tabi‘in kenamaan, terkait surah Luqman [31]: 34 di atas. Oleh karena itu, Rasulullah SAW pun mengingatkan:
Banyak-banyaklah kamu mengingati kejadian yang akan menghancurkan segala kelezatan. (H.R. al-Tirmidzi)
Segeralah beramal sebelum datangnya tujuh macam: apakah yang kamu nantikan selain kemiskinan yang melalaikan, atau kekayaan yang menyombongkan, atau penyakit yang merusak, atau tua yang melemahkan, atau mati yang menghabisi, atau kedatangan dajjal sejahat-jahat yang dinantikan, atau hari kiamat(?) Dan hari kiamat itu yang sangat pedih dan berbahaya. (H.R. al-Tirmidzi)
Perbanyaklah mengingat kematian, karena sungguh, mengingatnya itu mampu mendorongmu untuk meninggalkan segala sesuatu selainnya (H.R. Ibnu Abi al-Dunya) Yakni menyadarkan kita betapa remehnya kelezetan duniawi yang luput dari genggaman kita. Begitu juga sebaliknya, menyadarkan kita pula untuk bergegas melakukan kewajiban-kewajiban kita.
Selanjutnya, masih dalam konteks betapa pentingnya mengingat kematian, Allah SWT berfirman:
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. (Surah al-Qashash [28]: 77)
Syekh Ihsan Jampes menjelaskan dengan mengutip pendapat sebagian ulama bahwa maksud ayat di atas adalah, “Carilah dunia yang telah Allah anugerahkan kepadamu, dengan cara menggunakannya untuk hal-hal yang bisa mengantarkan(mu) ke sana (negeri akhirat); dan janganlah lupa bahwa sesungguhnya kamu akan meninggalkan seluruh harta bendamu kecuali bagianmu, yang tidak lain adalah kain kafan.â€
Keutamaan Mengingat Kematian
Pada uraian uraian di atas, sedikit banyak telah disinggung tentang hal ini. Bahwa dengan mengingat-ingat kematian, kita akan tergerak untuk bergegas melakukan ketaatan. Nah, di sini penulis berusaha sebisa mungkin menguraikan keutamaan-keutamaan itu secara lebih detail lagi. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Bisa membersihkan dosa dan menzuhudkan diri
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Perbanyaklah kalian mengingat kematian, karena sesungguhnya ia mampu membersihkan/menghapus dosa-dosa dan menzuhudkan (diri) di dunia. Jika kalian mengingatnya dalam keadaan kaya (berkecukupan), niscaya ia akan melahapnya (kekayaan itu, dalam arti menyadarkan diri untuk tidak terlena dengan kekayaan); dan jika kalian mengingatnya dalam keadaan fakir, niscaya ia akan membuatmu rida dengan kehidupanmu.†(Menurut al-Zabidi, sebagaimana dikutip oleh Syekh Ihsan Jampes, hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Dunya)
2. Dikumpulkan bersama golongan syuhada’ (para syahid)
Berkenaan dengan hal ini, Ummu al-Mu’minin ‘Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang dikumpulkan bersama (golongan) para syahid?†Beliau menjawab, “Iya, ada. Yaitu orang yang selalu mengingat-ingat kematian, di pagi dan malam hari, sebanyak 20 kali.†(Menurut al-Zabidi, sebagaimana dikutip oleh Syekh Ihsan Jampes, hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrani di dalam al-Awsath)
3. Orang yang banyak mengingat kematian adalah orang cerdas
Hal ini merujuk pada sebuah hadis yang diceritakan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar RA. Beliau berkata, “(Pada suatu hari) saya bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba seorang lelaki dari golongan Anshar datang. Ia memberi salam kepada Nabi SAW, kemudian bertanya, ‘Wahai Rasulullah, orang mukmin yang bagiamanakah yang paling utama/mulia?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya/budi pekertinya.’ Lelaki itu bertanya lagi, ‘Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling cerdas?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi (kehidupan) setelah kematian. Mereka itu lah orang-orang yang cerdas.’†(H.R. Ibnu Majah)
4. Dianugerahi 3 kemuliaan
Sebagaimana dijelaskan oleh al-Samarqandi, dengan mengutip sebuah keterangan dari Abu Hamid al-Lafaf, bahwa orang yang sering mengingat kematian itu akan dimuliakan dengan 3 hal, yakni bersegera taubat (ta‘jil al-taubah), rela menerima makanan apa adanya (qana‘at al-qut) dan bersemangat/rajin dalam beribadah (nasyath al-‘ibadah).
5. Perkara dunia dan seisinya menjadi remeh baginya
Hal ini merujuk pada perkataan al-Hasan, “Barang siapa yang selalu menghadirkan ingatan tentang kematian, niscaya dunia akan hina di sisinya, dan semua yang ada di dalamnya terasa ringan/remeh baginya.â€
Tentu masih banyak keutamaan-keutamaan lain dari mengingat kematian. Tetapi, 5 keutamaan di atas “agaknya†cukup sebagai motivasi bagi kita semua. Pada akhirnya, sebagai closing statement, penulis menukil dawuh-nya al-Samarqandi di bawah ini:
Beruntunglah orang yang diberi rezeki “pemahaman†oleh Allah, disadarkan dari kelalaian, dan diberi taufik untuk dapat merenungi perihal akhir hayatnya. Maka, kita memohon kepada Allah SWT, semoga Dia menjadikan akhir hayatnya kita dalam kebaikan dan disertai bisyarah (kabar gembira). Karena sungguh, bagi seorang mukmin, terdapat bisyarah dari Allah SWT tatkala kematiannya. (Allahumma aamin)
Demikian, kajian kitab Taisir al-Khalaq pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, dan bisa kita lanjutkan pada kesempatan-kesempatan berikutnya, wa shalla Allahu ‘ala Sayyidina Muhammad al-Musthafa.
Referensi:
Abi Zakariyya Yahya al-Nawawi, Riyadh al-Shalihin min Kalam Sayyid al-Mursalin (Surabaya: Dar al-‘Ilm, t.t.), 285-288.
Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur (Kairo: Markaz Hijr li al-Buhuts wa al-Dirasat al-‘Arabiyyah wa al-Islamiyyah, 2003), Vol. 11, 663.
Salim Bahreisy, Tarjamah Riadhus Shalihin (Bandung: Alma‘arif, 1986), Vol. 1, 482.
Muhammad ‘Abdur Ra’uf al-Munawi, Faydh al-Qadir Syarh al-Jami‘ al-Shagir (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1972), Vol. 2, 84.
Ihsan Muhammad Dahlan, Siraj al-Thalibin: Syarah ‘ala Minhaj al-‘Abidin ila Jannat Rabb al-‘Alamin (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), Vol. 1, 427-429.
Abi ‘Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazwini, Sunan Ibni Majah (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dawliyyah, t.t.), 459.
Nashr bin Muhammad bin Ibrahim al-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin (Indonesia: al-Haramain, t.t.), 10.
You may also like
Ngaji Ilmu Fiqh Dulu, Baru Ilmu Tasawuf
Adab-Adab Seorang Murid (2)
Ada Apa di Bulan Sya\’ban (Bagian Pertama)
Faktor Pendorong Takwa (2)
Oleh: Kobirul Amru
Urgensi Mengingat Nikmat dan Mensyukurinya
Dan di antara sebab takwa adalah hendaknya seseorang mengingat-ingat kebaikan Allah SWT kepadanya, dalam semua keadaan/tingkah-laku(nya). Dzat yang demikian itu, tentu tidak patut diingkari nikmat-Nya.
Tegasnya, faktor pendorong takwa yang kedua adalah selalu mengingat nikmat-nikmat Allah SWT yang telah, sedang dan selalu dianugerahkan kepada kita. Karena dengan demikian, akan lahir rasa cinta kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh al-Syekh Nawawi bin ‘Umar al-Jawi. Pada konteks ini, Allah SWT mengabadikan perkataan Nabi Hud AS kepada kaumnya dalam surah al-A‘raf [7]: 69, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:
Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
Tentu, selain rasa cinta kepada Dzat yang telah menganugerahkan nikmat-nikmat kepada kita, diharapkan pula lahir rasa syukur atas nikmat-nikmat itu. Karena:
Dan (ingatlah), ketika Tuhan Pemelihara kamu memaklumkan, “Demi (kekuasaan-Ku)! Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah (nikmat-nikmat-Ku) kepada kamu dan tentu jika kamu mengingkari (nikmat-nikmat-Ku), maka sesungguhnya siksa-Ku benar-benar sangat keras. (Surah Ibrahim [14]: 7)
Barang siapa tidak rida dengan keputusan-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Ku dan tidak rela menerima pemberian-Ku, maka hendaklah menyembah tuhan selain Aku!
Sepercik Makna Syukur dan Caranya
Dari sini dapat dipahami bahwa mensyukuri nikmat itu tidak cukup dengan lisan saja. Misalnya dengan mengucapkan, “Segala puji hanya bagi Allahâ€. Tetapi lebih lanjut, disertai dengan hati dan diaktualisasikan dalam perbuatan oleh anggota tubuh. al-Syekh Ibnu ‘Allan mencontohkan, “Seperti menggunakan pendengaran untuk mendengar ayat-ayat (Allah) dan (menggunakan) pandangan untuk bertafakur tentang ciptaan-ciptaan (Allah).â€
Berkenaan dengan cara mensyukuri nikmat anggota tubuh ini, Imam al-Ghazali menjelaskan secara terperinci di dalam Ihya’-nya, khususnya pada Kitab al-Tafakkur. Sederhananya, mula-mula seorang hamba hendaknya selalu meneliti dan introspeksi terhadap seluruh anggota tubuhnya setiap pagi hari. Lisan misalnya, apakah ia gunakan untuk ngerasani, berbohong, mengolok-olok orang lain, menipu dan perbuatan tercela lainnya? Juga pendengarannya, apakah ia gunakan untuk mendengarkan rasan-rasan, kebohongan, omongan yang berlebihan, senda gurau? Pun demikian dengan anggota tubuh yang lain. Nah, berangkat dari introspeksi ini lah, seorang hamba diharapkan berusaha untuk “memalingkan†perbuatan buruknya itu kepada ketaatan-ketaatan.
Oleh karena itu, al-Sayyid Ahmad bin Zain Dahlan menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah, “Engkau menggunakan semua nikmat yang telah dianugerahkan kepadamu untuk tujuan diciptakannya nikmat-nikmat itu. Maka, hal itu mencakup harta, badan, anggota tubuh, baik lahir maupun batin. Tatkala engkau menggunakan satu saja dari semua itu untuk sesuatu yang bertentangan dengan tujuan diciptakannya, niscaya (perbuatanmu) itu adalah suatu kekufuran terhadap nikmat tersebut.â€
Sebagai penutup, patutlah kiranya kita mencontoh doa Nabi Sulaiman AS yang diabadikan di dalam surah al-Naml [27]: 19, yang terjemahannya kurang lebih berikut ini:
Tuhan Pemeliharaku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu dalam golongan para hamba-Mu yang saleh.
Demikian kajian kitab Taisir al-Khalaq pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, dan bisa kita lanjutkan pada kesempatan berikutnya, bi idzni Allah, wa shalla Allah ‘ala sayyidina Muhammad al-Musthafa.
Abi Hamid al-Ghazali, al-Mawa‘idz fi al-Ahadits al-Qudsiyyah, dalam Majmu‘ Rasa’il al-Imam al-Ghazali (Kairo: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, t.t.), 609.
Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani al-Makki, al-Fawa’id al-Janiyyah: Hasyiyah al-Mawahib al-Saniyyah Syarah al-Fara’id al-Bahiyyah (t.tp.: Dar al-Rasyid, t.t.), 47.
Muhammad bin ‘Allan al-Siddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.), 206-207.
Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Jeddah: Dar al-Minhaj, 2011), vol. 9, 248-249.
Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasani al-Makki, Taqrib al-Ushul li Tashil al-Wushul (Beirut: Dar al-Minhaj, 2019), 67.
You may also like
Ngaji Ilmu Fiqh Dulu, Baru Ilmu Tasawuf
Adab-Adab Seorang Murid (2)
Ada Apa di Bulan Sya\’ban (Bagian Pertama)

